Pos militer di kawasan Nifasi ganti warna untuk hilangkan jejak

Paniai, Jubi – Solidaritas untuk Nifasi (SUN) Nabire menyebutkan PT.Kristalin Eka Lestari (PT.KEL) sedang memprovokasi warga dan membuat kelompok pro kontra agar ada legitimasi untuk tetap bertahan bekerja menambang emas di bantaran Sungai Mosairo.

Kordinator Solidaritas Untuk Nifasi, Roberthino Hanebora mengaku, pihak yang pro terhadap PT.KEL hanya beberapa orang dan hampir seluruh masyarakat Nifasi menolak kehadiran PT.KEL dan klaim wilayahnya bantaran sungai Mosairo .

“Jelasnya hanya sembilan KK (Kepala Keluarga) yang mendukung PT.KEL dari 143 KK. Perlu diketahui dari 143 KK hanya 90 KK suku asli Nifasi dan pemilik hak ulayat Mosairo. Dari 90 KK suku asli Nifasi hanya 3 KK suku asli yang mendukung PT.KEL, sisa 6 KK dari 9 KK itu adalah warga domisili di kampung Nifasi. Artinya bukan pemilik ulayat yang mendukung PT.KEL,” tutur Robertino Hanebora kepada Jubi melalui pesan WhatsApp, Selasa, (27/6/2017).

Untuk meminimalisir dan menyudahi konflik di Nifasi, menurutnya, masyarakat Nifasi terutama Kepala Sub Suku Wate Kampung Nifasi bersama Kepala-Kepala Suku Besar Wate, pihak keamanan dari Polsek Lagari dan Koramil yang wilayah teritorinya ada di dalamnya Nifasi dan juga kelompok pro PT.KEL melakukan pembicaraan di Kampung Nifasi pada tanggal 3 Juni 2017.

“Dalam pertemuan tersebut mayarakat Nifasi menyepakati dan memutuskan beberapa hal penting guna menyudahi polemik berkepanjangan akan kehadiran PT.KEL,” ungkapnya.

Keputusan itu diantaranya PT.KEL dapat bekerja tapi di KM 39 bantaran sungai Mosairo ke arah bawah bagian utara dan nanti dibuat surat persetujuan bekerja atau pelepasan adat.

“Karena belum ada persetujuan dan pelepasan adat oleh suku Wate kepada perusahaan itu,” katanya.

Seluruh masyarakat memasang tapal batas bagi PT.KEL di KM 39 Bantaran Sungai Mosairo. Dan kesepakatan tersebut ditandatangani oleh perwakilan masyarakat Nifasi oleh pemimpin adat dan disaksikan seluruh saksi-saksi.

Kepala suku Wate, Alex Raiki mengatakan, pada 10 Juni 2017 berdasar kesepakatan tanggal 3 Juni 2017 masyarakat Nifasi menuju bantaran sungai Mosairo memasang tapal batas PT.KEL KM 39. Lalu, Kepala Sub Suku Wate Kampung Nifasi Azer Monei  mendatangi perusahaan itu yang selama ini masih bekerja di KM antara 39 dan 40 yang tidak disetujui masyarakat Nifasi selama ini.

“Kami menyampaikan hasil kesepakatan tanggal 03/06/2017, sehingga PT.KEL harus mematuhi kesepakatan masyarakat Nifasi dan PT.KEL segera memberhentikan aktivitasnya serta segera membawa peralatanya ke arah KM 39 bawah (Utara) yang nanti disusul dengan surat pelepasan oleh masyarakat,” jelas Raiki.

Namun PT.KEL melanggar perjanjian tanggal 12/06/2017. Perusahaan ini masih melakukan pekerjaan di KM 39/40 dan tak membawa turun peralatan penambanganya.

“Yang terjadi malah PT.KEL kembali memanfaatkan pihak-pihak yang pro PT.KEL untuk tetap mempertahankan PT.KEL tetap bekerja antara KM 39/40 di bantaran sungai Mosairo,” tambahnya.

“Padahal pihak-pihak yang dipakai tersebut sudah menyepakati hasil pertemuan tanggal 03/06/2017. Hal itu berlanjut hingga hari ini,” katanya kesal.

Raiki menyampaikan, hingga saat ini pihak aparat keamanan terutama TNI masih ada di lokasi itu walaupun di media massa disebutkan tidak ada.

“Pos-pos militer yang digunakan untuk membackup PT.KEL sudah dicat dengan warna lain untuk menghilangkan jejak. Namun dokumentasi kami untuk membuktikan keterlibatan mereka ada buktinya,” ungkapnya.

Pihaknya meminta kepada Presiden Joko Widodo dan semua pihak dapat menseriusi tapi juga menyelesaikan konflik tambang yang dilakukan PT.KEL di Nifasi.

“Kami menilai terkesan PT.KEL terlalu kebal hukum, sehingga tak mampu diselesaikan oleh negara ini,” katanya.

“Nawacita sebagai pintu kedaulatan rakyat perlu ditegakan, sehingga kesejahteraan rakyat dengan cara legal dan penegakan HAM bisa tercapai,” pungkasnya.  (*)

Bank Indonesia Bekali Pengusaha Asli Papua Permudah Dapatkan Modal Usaha

 

Pengrajin Noken, salah satu usaha kecil dan menengah di Papua. (KabarPapua.co/Katharina)
Pengrajin Noken, salah satu usaha kecil dan menengah di Papua. (KabarPapua.co/Katharina)

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura – Bank Indonesia perwakilan Provinsi Papua akan melakukan pelatihan kepada pengusaha asli Papua yang tergabung dengan Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP).

Model pelatihan yang akan diberikan kepada pengusaha asli Papua ini adalah training of trainer, dikarenakan banyaknya anggota organisasi KAPP.

“Dalam waktu dekat kami akan membahasa dengan KAPP untuk jumlah anggota yang akan dilatih,” ucap Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua, Joko Supratikto, Selasa 18 April 2017.

Lanjut Joko, salah satu tugas Bank Indonesia adalah membina usaha mikro dan kecil dari dua sisi, salah satunya untuk memiliki akses terhadap pembiayaan perbankan.

Bank Indonesia juga memiliki ketentuan bahwa perbankan wajib menyalurkan kredit minimal 20 persen kepada usaha mikro dan kecil. “Disinilah Bank Indonesia juga mempunyai kewajiban melakukan pelatihan terhadap usaha mikro dan kecil itu,” jelasnya.

Tak hanya itu saja, Kepala Bappeda Provinsi Papua, Muhammad Musaad menegaskan bahwa Papua memiliki lembaga Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida) yang diharapkan menjadi penghubung antara usaha kecil menengah dan perbankan. Namun, lembaga itu belum efektif melakukan tugasnya sebagai penghubung.

“Khusus untuk KAPP, Pemerintah Provinsi Papua telah menggelontorkan dana miliaran rupiah pada 2016, untuk membina anggotanya yang jumlahnya belasan ribu orang. Jika KAPP menunjukkan hasil positif, pemda pasti akan meningkatkan bantuan modal untuk usahanya,” katanya.

Sebelumnya KAPP mengklaim kesulitan mendapatkan bantuan usaha dari perbankan, terutama kepada usaha kecil dan menengah. KAPP juga meminta adanya pelatihan bagi usaha kecil dan menangah, agar dapat dipercaya oleh perbankan dalam peminjaman modal usaha. *** (Syahriah)

Anyam noken, bulu kasuari dan kulit kayu dipesan dari PNG

Merauke, Jubi – Bahan untuk menganyam noken seperti kulit kayu, anggrek serta bulu kasuari baik berukuran kecil maupun besar, harus didatangkan dari Negara Papua Nugini (PNG). Karena di Merauke bahan-bahan itu  sulit didapatkan.

Penuturan itu disampaikan Vika Wanda, salah seorang penjual noken di Sota, perbatasan RI-PNG ketika ditemui Sabtu (1/4/2017). “Bahkan, orang yang menganyam juga dari PNG. Memang ada orang di Sota bisa menganyam, hanya kesulitan adalah tak  dapat  memasang bulu kasuari di tas bagian luar,” ujarnya.

Khusus bulu kasuari, lanjut dia, dijual warga PNG dengan harga Rp50 ribu untuk satu ikat. Sedangkan bahan dasar lain seperti kulit kayu maupun anggrek, dibayar sesuai dengan kebutuhan noken yang dipesan.

“Biasanya, setelah membeli bulu kasuari dari warga PNG, saya langsung  meminta orang  PNG yang biasa membuat noken, datang di Sota sekaligus kami bicara lagi,” tuturnya.

Bahkan, pembayaran dilakukan terlebih dahulu sebelum bekerja. “Kita harus menyiapkan bahan makanan seperti beras, minyak goreng serta kopi, gula untuk dibawa. Maksudnya agar mereka bisa  kerja  cepat,” tuturnya.

Dijelaskan,  harga pembelian noken dari PNG, bervareasi. Tergantung kesepakatan. Tetapi   ukuran besar dibeli Rp100 ribu.

“Nanti kita jual kembali dengan harga Rp150 ribu,” ungkapnya.

Untuk pendapatan, katanya, tidak menentu. “Ya, kalau datang banyak pengunjung, sehari bisa saya dapat uang sampai Rp2 juta,” ujar dia.

Hal serupa disampaikan penjual noken lain, Benti Mbagu. “Kalau disini, harga noken saya jual berkisar antara Rp50 ribu sampai Rp150 ribu. Tergantung dari ukuran,” katanya.

“Memang noken yang dijual, diproduksi langsung dari PNG. Karena di sini kita kesulitan mendapatkan kulit kayu serta bulu kasuari,” akunya. (*)

Ilustrasi Wisata Danau Love - Jubi Dok
Ilustrasi Wisata Danau Love – Jubi Dok

Jayapura, Jubi Dinas Pariwisata Provinsi Papua tengah mempersiapkan promosi wisata air yang ada di Jayapura seperti danau Sentani, danau Love dan Tablanusu. Hal ini dipersiapkan untuk mendukung pelaksanaan PON XX tahun 2020 di Bumi Cenderawasih.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Papua, Yoseph Matutina mengatakan pihaknya telah membangun infrastruktur wisata pada 2016, dan ke depannya wisata danau yang ada akan dikembangkan.

“Kami siap mengembangkan destinasi wisata yang ada di Danau Sentani, Danau Love, Tablanusu  dan sebagainya,” kata Yoseph kepada wartawan, di Jayapura belum lama ini.

Ia menilai, danau Sentani, danau Love dan Tabalnusu yang terletak di Kabupaten Jayapura memiliki potensi alam yang menarik dan indah, untuk itu jika dikemas dan dikembangkan secara tepat diharapkan dapat menarik perhatian wisatawan mancanegara maupun internasional.

“Tentu kami harapkan dukungan untuk melaksanakan rencana ini, terutama dari pihak adat dan masyarakar sekitar danau Sentani,” ucapnya.

Kepala Bidang Strategi, Promosi dan Destinasi Kementerian Pariwisata, Hari Ristanto menyatakan pihaknya siap mendukung pemerintah provinsi Papua mempromosikan destinasi wisata untuk menunjang pelaksanaan PON di Papua.

“Kami  berupaya mendorong agar orang tak hanya datang berolahraga kemudian kembali ke daerahnya. Tapi orang datang bisa menyaksikan event olahraga nasional sekaligus berwisata di Papua,” kata Hari. (*)

Dulu terpuruk, kini jadi pengusaha sukses

Ayub Wuka menunjukan produksi pertamanya hasil pembakaran batu bata merah – Jubi/Islami
Ayub Wuka menunjukan produksi pertamanya hasil pembakaran batu bata merah – Jubi/Islami

Wamena, Jubi  Ia pernah ditipu hingga mencapai Rp 1,8 miliar sewaktu merintis usaha pembuatan batu bata merah hingga usahanya terpuruk. Namun ia tetap optimistis dan bangkit kembali hingga sukses.

Pengalaman ini terpatri di sanubari pria berusia 37 tahun asal Kampung Ninabua, Distrik Asolokabl, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Ayub Wuka.

Ungkapan “pengalaman adalah guru yang paling berharga” membuatnya tetap bertahan dan menjalankan usaha bata merah.
Awalnya ia punya mimpi untuk menjadi pengusaha di kampung halamannya. Namun mimpi itu kandas di ongkos. Tak ada biaya untuk memulainya.

Niat itu sepertinya menarik Yayasan Oikonomos Papua dan menyokong Ayub untuk berusaha, mandiri dan berdikari.

“Waktu itu saya ditawarkan oleh Yayasan Oikonomos untuk membuka usaha batu bata. Lalu saya tanya soal dana dan yayasan siap membantu. Hanya bermodalkan lahan milik saya, akhirnya yayasan meminjamkan modal 30 juta rupiah,” katanya kepada Jubi awal pekan ini di Wamena.

Ia bercerita, modal sebesar Rp 30 juta digunakannya untuk membuat tempat penggilingan dan pembakaran batu bata kecil-kecilan pada Desember 2008.

Uang sebesar ini juga digunakannya untuk menggaji karyawannya. Namun ketika itu, pembuatan batu bata dilakukan secara manual.

“Sejak Desember 2008 itu sudah mulai produksi cukup banyak. Namun pemasukan belum sebanding dengan pengeluaran. Lalu Yayasan Oikonomos memberi pinjaman lagi 75 juta rupiah dan modal awal yang 30 juta telah dikembalikan ke yayasan,” ujarnya.

Dari pinjaman kedua sebesar 75 juta ditambah tabungan pribadi menjadikan pria ini bertekad membeli mesin pencetak batu bata merah di pulau Jawa seharga belasan juta.

Gayung bersambut. Alat itu pun tiba beberapa waktu kemudian. Batu bata merah siap dicetak. Lokasinya di sekitar kawasan Megapura, Jayawijaya.

Namun kondisi tanah tak cocok menggunakan mesin. Kemudian diputuskan membuat bata secara manual.

“Akhirnya, kita cari teman untuk bekerja sama lalu dapatlah lokasi di Pikhe. Tanahnya cocok dicetak dengan mesin untuk membuat batu bata merah,” katanya sambil menunjuk undakan bata yang hanya sepelempar batu saja jaraknya.

Meski demikian, ia tak memegang uang hasil cetakan bata di Pikhe. Itu ditangani oknum dari Yayasan Oikonomos.

“Padahal sesuai aturan yayasan tidak seperti itu. Bahwa binaan mereka harus yang mengelola keuangan dari usaha mereka masing-masing,” ujarnya.

Waktu terus berjalan. Usaha pun terus berlanjut. Tiba suatu ketika dana hasil usaha bata yang dimulai tahun 2008 – 2011 diambil alih oleh salah satu pekerja yayasan tanpa sepengatuan pimpinan.

“Jadi, selama 2008 hingga 2011 saya usaha batu bata merah ini tidak pernah pegang uang. Hanya pegang uang gaji karyawan dan dana operasional saja,” ujarnya sambil melihat-lihat ke langit Wamena yang membiru.

Ia menuding sistem keuangan di yayasan ini tidak jelas. Bahkan rentang waktu tiga tahun itu dirinya merugi sekira Rp 1,8 miliar.

Setelah mengetahui ketidakberesan di yayasan, Ayub harus kembali lagi ke titil nol. Ada rasa tak berdaya. Bercampur was-was. Batin pun terus bergejolak. Apakah mau melanjutkan usahanya atau berhenti saja saat aset ditarik pihak yayasan?

“Waktu itu kami sempat duduk bersama dengan pimpinan Yayasan Oikonomos. Namun kenyataannya uang keuntungan bersih saya dari hasil usaha tidak juga dikembalikan, sehingga berjalannya waktu mesin cetak batu ditarik oleh yayasan dan bangunan pabrik di Pikhe pun diambil oleh pemilik tanah,” ujar pria yang memiliki satu anak ini.

Singkat cerita, setelah 2011 hingga 2014 ia harus memulai dari nol. Ayub hanya kerja di kebun sambil merintis usahanya kembali.

Tahun 2015 ia mendapat pekerjaan paket bangunan di kampungnya. Lantas tahun 2016 ia memulai lagi usaha batu batanya dari hasil pekerjaan ini.

“Bahkan dari itu pula saya bisa membeli alat cetak dan potong batu bata yang baru. Selain dari tabungan dari hasil pekerjaan bangunan itu, saya juga dibantu oleh adik saya yang berprofesi seorang TNI untuk membantu meminjamkan modal membangun kembali usaha batu bata merah di kampung,” katanya.

Bulan Desember tahun lalu, ia memulai usaha serupa pada lahan miliknya seluas 100×50 meter. Dibantu delapan pekerja, ia memproduksi bata dua kali seminggu, karena tempat ini terlalu kecil untuk menampung batu yang telah dicetak.

“Kita sekali produksi kurang lebih 6.000 batu dan dalam sebulan berhasil memproduksi sekitar 15.000 buah batu. Untuk bahan bakunya sendiri saya mengambil tanah di lahan belakang pabrik yang juga masih milik saya,” ucap pria kelahiran 8 Maret 1980 ini.

Ayub pun menjelaskan, harga jual batu per biji Rp 4.000, dan banyak permintaan dari konsumen. Permintaan bata yang begitu besar tak sepenuhnya bisa dilayaninya sebab tempat terlalu kecil.

“Dalam sistem jual beli selama ini konsumen yang butuh batu datang langsung memesan. Namun rata-rata konsumen yang datang untuk keperluan membangun rumah, bahkan ada juga pesanan dari pemerintah daerah untuk bangun kantor,” katanya.

Ia mengaku selama merintis dan menjalankan usaha ini murni usaha pribadi. Pemerintah setempat seolah buang muka. Namun perlahan tapi pasti, pemerintah daerah sepertinya memberikan sinyal positif untuk membantu usaha anak asli Jayawijaya ini.

Hingga kini Ayub Wuka merasa belum bisa menjelaskan keuntungan dari hasil penjualannya, karena awal Maret baru dilakukan pembakaran. Lalu pada Selasa, 14 Maret 2017, batu dibakar dan dijual lagi.

“Sebenarnya tidak terpikirkan dapat membangun usaha batu bata ini. Berrkat pengalaman saya membuat batu bata merah dan ada peluang, saya melanjutkan usaha ini,” katanya.

“Pelajaran masa lalu memang sempat menyakitkan hati saya, karena boleh dibilang saya jatuh bukan karena gulung tikar tetapi karena kasus penipuan, tetapi hal itu yang membuat saya harus bangkit lagi,” kata pria bekas didikan perguruan tinggi Yayasan Pendidikan Islam (Yapis) Wamena ini.

Usahanya ini mampu membiayai istri dan semata wayangnya serta delapan karyawan yang membantunya.

Wayus Asso, seorang karyawan Ayub mengakui sudah bekerja di pabrik batu bata milik Ayub sejak awal dan hingga tempat baru ini berdiri. Saban hari Wayus membantu Ayub mencetak bata merah. Ia senang karena dapat membantu “bosnya” ini.

“Pastinya keluarga saya juga terbantu dengan pekerjaan saya ini, karena saya rasa kita juga bisa membuka wirausaha sendiri di tanah sendiri,” kata Wayus. (*)

Ayopreneur – Jeff Bezos, pendiri dan CEO Amazon, telah menjadi subjek berita utama di seluruh dunia baru-baru ini, baik di berita tentang keberhasilan dirinya memimpin Amazon menuju masa keemasan, maupun berita yang mengkritik tajam budaya kerja yang dia buat di Amazon.

Namun, pada saat yang sama, banyak orang yang juga mengagumi kecerdikannya dan layanan pelanggan berkualitas tinggi yang disajikan Amazon, serta dedikasi Bezos kepada anak-anaknya dan istrinya, MacKenzie.

Apakah pencapaiannya lebih besar daripada kritik terhadapnya? Berikut ini 5 (lima) fakta yang perlu diketahui tentang CEO Amazon, seperti dikutip dari Heavy.

1. Bermula dari Garasi Kecil

Pada usia 31 tahun, Bezos memulai Amazon dari sebuah garasi kecil di Bellevue, Seattle dengan bantuan istri dan satu orang karyawan, Shel Kaphan. Awalnya dia menamai bisnisnya “Cadabra,” tetapi ketika seorang pengacara salah mendengar nama itu menjadi “Cadaver” yang berarti “bangkai”, dan kemudian ia memutuskan untuk mengubahnya menjadi Amazon.

Ia memilih Amazon karena berharap gagasan Amazon sebagai sungai terbesar di dunia itu mencerminkan perusahaannya yang suatu hari akan tumbuh menjadi penjual buku terbesar di dunia.

2. Keluarga

Bezos saat ini masih ada dalam ikatan pernikahan dengan wanita yang sama, ketika ia merintis Amazon. Wanita itu bernama MacKenzie Bezos. Bersama-sama, mereka memiliki empat orang anak: tiga orang anak laki-laki dan satu orang anak gadis yang diadopsi dari Tiongkok.

Mereka menikmati kegiatan keluarga pada umumnya, seperti pergi untuk melihat film Mission Impossible 5. Uniknya, MacKenzie juga menulis novel dan Jeff akan menghabiskan sepanjang hari untuk membaca naskahnya, sekaligus menawarkan ide-ide dan pikirannya.

Bezos sebenarnya adalah nama keluarga dari orangtua adopsinya, Miguel Bezos, seorang engineer perminyakan di Exxon, dan Jackie Bezos. Jeff diadopsi oleh mereka saat berusia empat tahun. Ayah biologis Jeff, Ted Jorgensen, berusia 19 tahun saat Jeff lahir dan meninggalkannya saat Jeff berusia 3 tahun.

Jorgensen memiliki toko sepeda di Glendale, Arizona. Sebelumnya, Ted telah mengizinkan Jackie dan Miguel untuk mengadopsi Jeff dan dari waktu ke waktu, Ted lupa nama belakang Jeff yang baru. Ketika Ted mengetahui bahwa Jeff Bezos adalah putranya, ia bahkan tidak tahu apa itu Amazon karena ia tidak menggunakan komputer.

3. Terus Berinovasi

Sosok yang inovatif dan pandai melihat peluang, mungkin layak disematkan kepada Jeff Bezos. Bagaiamana tidak, Amazon Inggris baru-baru ini menandatangani kesepakatan dengan trio Top Gear: Jeremy Clarkson, Richard Hammond, dan James May. Ketiganya menjadi tuan rumah pameran mobil di gelaran Amazon Prime 2016. Baginya, kemitraan adalah hal yang menggembirakan.

Bezos juga percaya bahwa pesawat tak berawak (drone) suatu hari akan menjadi hal umum, seperti halnya kita melihat sebuah truk pengangkut surat.

Perlu diingat, Jeff tidak hanya berinovasi melalui Amazon karena Jeff juga memiliki perusahaan luar angkasa bernama Blue Origin. Perusahaan ini meluncurkan roket pertamanya di tahun ini dan sudah mendaftar untuk penerbangan antariksa.

4. Orang Terkaya ke-15 di Dunia

Menurut Forbes, Jeff merupakan orang terkaya ke-15 di dunia, dengan nilai kekayaan sebesar US$ 47,2 juta pada usia 51 tahun. Sementara di jajaran perusahaan teknologi, ia merupakan orang terkaya ke-3, setelah Bill Gates dan Larry Ellison.

Sejumlah properti miliknya, antara lain properti di depan danau di Seattle, peternakan jagung di West Texas, area seluas tiga blok di Seattle, apartemen Century Tower di Manhattan, properti Medina di Washington, dan rumah senilai US$ 24,5 juta di Beverly Hills.

5. Budaya Kerja yang Dibuatnya Mengundang Kritik

Baru-baru ini Amazon mendapat banyak kritik tajam terkait budaya kerja. Dalam sebuah surat kepada pemegang saham pada 1997, Jeff menulis, “Anda dapat bekerja dalam waktu lama, bekerja keras, atau bekerja secara cerdas, tetapi di Amazon.com Anda tidak dapat memilih dua dari ketiganya.”

Potongan pada kalimat di surat tersebut jelas menyatakan bahwa budaya kerja di perusahaan yang didirikan pada 5 Juli 1994 ini memang keras. Pada 2011, di luar gudang Amazon ditemukan ambulans yang menunggu untuk mengangkut karyawan Amazon yang meninggal karena bekerja di ruangan bersuhu sangat panas.

Kemudian, Amazon juga dikenal dengan pergantian pekerjanya yang tinggi. Sejumlah karyawan diberikan 50 sampai 60 halaman yang berisi data dan hanya beberapa hari kemudian mereka akan ditanyai tentang ribuan angka dari data tersebut. Karena itu, banyak karyawan menjalani hari mereka tanpa tidur supaya bisa mengerjakannya.

Di samping itu, sebuah alat umpan balik (feedback) memungkinkan para karyawan di Amazon untuk berkompetisi dan melihat peringkat satu sama lain. Imbasnya, mereka yang ada di peringkat terendah setiap tahunnya tidak lagi bekerja di Amazon.

Hal ini menciptakan tensi kompetisi yang serius dan `gila`. Selain itu, hal yang juga patut disayangkan dari Amazon, para karyawan melaporkan bahwa mereka tidak memiliki kelonggaran apapun, jika kerabat atau mereka sendiri menderita penyakit serius, meskipun kinerja mereka sangat kuat. (bn)

Ayopreneur – CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengingatkan kepada generasi muda bahwa kunci sukses dalam meraih keberhasilan ialah menerapkan sikap kerja keras. Kerja keras yang maksud yaitu tidak terjebak pada rutinitas yang ada.

“Tapi harus kerja keras yang progresif, jangan terjebak pada rutinitas yang ada,”kata Hary di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) Toraja saat memberikan kuliah umum bertema Kewirausahaan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia, Toraja, Sulawesi Selatan.

Dia menekankan, kerja keras yang progresif sendiri ialah dengan terus meningkatkan kemampuan diri dan juga inovatif. Keduanya menjadi sarat mutlak yang harus dimiliki oleh generasi mudah untuk meraih kesuksesan di masa depan.

“Kalau kita sudah menguasai sesuatu maka kita harus meningkatkan terus kemampuan yang ada,” ungkapnya.

Pengusaha asal Surabaya Jawa Timur ini mencontohkan kisah sukses penjual makanan yang merintis usahanya dari nol dan menjadi besar seperti sekarang ini karena menerapkan sikap kerja keras yang progresif.

“Ada orang yang jago masak ayam. Dia jualan dari pagi sampai malam dan terus berulang seperti itu hingga pensiun. Hidupnya tidak berubah-ubah karena kerja kerasnya terjebak dalam rutinitas,” ungkapnya.

Hary pun membandingkan dengan seorang penjual ayam goreng lainnya yang menerapkan sikap kerja keras yang progresif. Di mana, dirinya terus melakukan inovasi yang salah satunya membuka outlet dan merekrut banyak karyawan.

“Di saat banyak konsumen yang membeli produknya dia langsung membuka outlet dan sukses. Dari situ Ia rintis usahanya menjadi franchise,” terangnya.

Dari cerita sukses yang dipaparkannya tersebut, Hary berharap kepada mahasiswa UKI Toraja agar mereka dapat mengambil hikmah. Ia juga berpesan agar tidak lupa bersikap rajin serta militan agar mampu sukses meraih masa depannya. (Hary Tanoe/okezone)

http://www.ayopreneur.com/, Ekosistem perusahaan rintisan (startup) di Indonesia membutuhkan strategi tiga C (3C) agar bisa berkembang menjadi kekuatan yang diperhitungkan di era ekonomi digital. Strategi 3C tersebut baik dari pemerintah maupun dari pemodal besar.

“3C itu adalah commitment, collaboration, dan confidence,” ungkap Pembina IndoTelko Forum Johnny Swandi Sjam di sela menghadiri perayaan HUT ke-5 IndoTelko.com di Jakarta, Kamis (15/12/2016), dikutip dari Kompas,com.

Perayaan HUT ke-5 dari portal yang menyajikan informasi seputar dunia Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) itu dihadiri juga oleh Menkominfo Rudiantara beserta sejumlah pimpinan dari organisasi, operator, dan perusahaan TIK ternama di Indonesia.

Dalam rangkaian HUT ke-5 portal tersebut diperkenalkan Indonesia Internet of Things (IoT) Forum dan buku “All About IoT” sebagai langkah menatap bisnis masa depan dari ekonomi digital.

Kado lain dari HUT ke-5 portal ini adalah berkolaborasi dengan LINE Today, Kurio, Baca, dan UZone untuk agregasi konten. IndoTelko juga melanjutkan kerja sama dengan Telkomsigma dalam pemanfaatan layanan cloud computing.

Menurut Johnny, di era digital sekarang isu akses ke capital atau commerce tak menjadi hal utama bagi pemain startup jika 3C dari pemerintah dan perusahaan besar bisa didapat.

“Saya ambil contoh yang terjadi dengan portal IndoTelko.com, berkat adanya 3C berupa komitmen dari mitra yang mempercayai adanya kolaborasi dengan pihak lain membuka jaringan, serta confidence dalam eksekusi, lima tahun sudah jalannya menghiasi media online nasional,” ulasnya.

Rudiantara mengakui tak banyak media yang menyajikan informasi untuk sektor tertentu bisa bertahan lama tanpa adanya dukungan dan kepercayaan dari komunitas.

“Saya lihat memang IndoTelko.com memiliki posisi yang jelas di pasar. Salah satu kekuatannya adalah membangun kolaborasi dengan pemangku kepentingan. Bisa dilihat dengan pendirian IndoTelko Forum sejak beberapa tahun lalu dan sekarang ada Indonesia IoT Forum yang didirikan bersama sejumlah perusahaan yang bermain di IoT,” katanya.

Rudiantara mengatakan, Internet of Things (IoT) adalah hal yang akan menjadi tren di masa depan dan tentu untuk membangun ekosistemnya membutuhkan kolaborasi dan komitmen dari semua pihak.

“Membangun ekosistem IoT tentu butuh kerja sama semua pihak, pintarnya IndoTelko membaca momentum dan menempatkan diri agar bisa merekatkan semua pihak. Ini kan salah satu peran media menjadi fasilitator,” katanya.

Pada kesempatan sama, Presiden Direktur Telkomsigma Judi Achmadi mengungkapkan, perseroan telah dua tahun bekerja sama dengan IndoTelko.com dalam memberikan layanan cloud computing.

“Kita perpanjang lagi karena melihat media ini punya prospek yang cerah. Di Telkomsigma kita ada layanan STAR Cloud bagi startup dan UKM. Ini salah satu bentuk komitmen Telkomsigma mendukung ekosistem ekonomi digital di Tanah Air,” katanya.

Kolaborasi

Pendiri Indonesia IoT Forum Teguh Prasetya mengakui bahwa kolaborasi memang dibutuhkan dalam membangun ekosistem ekonomi digital di Tanah Air.

“Konsep pentahelix yang melibatkan akademisi, bisnis, community, pemerintah, dan media harus berjalan beriringan agar kita maju serentak untuk menang di era IoT nantinya,” katanya.

Sementara Direktur Utama Media Andalas Sejahtera Doni Ismanto Darwin mengatakan, sebagai penerbit dari portal IndoTelko.com, masih banyak yang harus diperbaiki ke depannya agar tetap kompetitif di era digital.

“Dalam rangkaian HUT ke-5 ini memang yang ditonjolkan adalah kolaborasi dengan berbagai pihak. Sebagai pemain baru kami tak akan sanggup melangkah sejauh ini tanpa komitmen dan keyakinan dari semua mitra terhadap IndoTelko.com,” tutupnya.

AyoPreneur – Pengusaha nasional berpotensi besar untuk memasarkan produknya ke luar negeri. Apalagi, besarnya potensi Indonesia dengan banyaknya produk usaha kecil menengah (UKM) kreatif di berbagai daerah yang jenisnya ragam.

Founder dan Chairman Markplus, Inc, Hermawan Kartajaya, mengatakan hal yang pertama kali dilakukan bagi pengusaha yang ingin memasarkan produknya ke luar negeri adalah mulai tes pasar dengan cara online terlebih dahulu. Sebab, tentunya, harus melakukan manajemen risiko terlebih dahulu.

“Ya kalau go international itu dicoba yang enggak ada risikonya. Misalnya sekarang lewat internet dulu, nanti kalau sudah mendapat sambutan baru offline, cara yang aman kan internet. Tapi, di internet kita harus ingat, kita bersaing dengan banyak orang,” kata Hermawan, dikutip dari Viva.

Dia mengatakan, manajemen risiko perlu dilakukan bagi pengusaha, agar meminimalisir risiko. Sebab, perlu pertimbangan risiko dalam setiap pengambilan keputusan dalam dunia usaha.

“Dengan negara lain itu lewat online dulu baru offline,” kata dia.

Dia menambahkan, jiwa wirausaha atau enterpreneurship di Indonesia perlu untuk dikembangkan untuk ditingkatkan ke level yang lebih tinggi.

Hal ini, lantaran dari 57 juta pengusaha usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia, mayoritasnya adalah pengusaha dengan skala mikro sebesar 90 persen, sementara untuk usaha skala kecil dan menengah masih sedikit sekali.

“Jadi saya berharap supaya UMKM ini benar-benar harus berjiwa enterpreunership, artinya jiwa pengusaha itu kan enggak pernah putus asa, jatuh bangun, jatuh bangun lagi, terus begitu. Setidaknya pengusaha juga harus punya tiga syarat penting, yaitu enterprenership, produktivity, creativity,” kata dia. (bn)

Kecenderungan umum masyarakat di Indonesia ketika mengingat dan bicara tentang Papua ialah kekayaan alam yang begitu kayaraya. Menceritakan pohon, emas, perak, keindahan alam, festival budaya, dan sebagainya yang bersifat pengurasan apa yang ada di Tanah Papua menjadi orientasi yang jelas. Silahkan saja simak berita-berita di mana-mana di Indonesia, yang dicetak maupun online, yang audio maupun yang video. kecenderungan itu sangat jelas.

Pantas saja orang Papua merasa terancam karena alam yang tadinya menjadi tempat hunian, rumah itu sekarang menjadi rebutan, khususnya para Jenderal di Jakarta katanya sudah memetak-metak pulau New Guinea bagian barat menjadi wilayah garapan logging mereka.

Di sisi lain, coba baca semua berita onlne, terutama online, karena orang Papua hampir tidak punya media cetak, kecuali Tabloid Jubi. Berita utama, kategori berita, semuanya dipenuhi oleh berita-berita “POLITIK”, dan HAM.

Jadi, di satu sisi orang Indonesia melihat Papua dari sisi alamnya yang kaya, dan menggiurkan. Di sisi lain Papua melihat para pendatang dari sisi perilaku orang non-Papua terhadap orang asli Papua (OAP).

Tentu saja tidak ada titik temu.

Keduanya lupa, bahwa Papua tidak hanya kekayaan alam, Papua tidak hanya berbau politik dan HAM. Papua juga punya para entrepreneur dan pengusaha yang mulai belajar berdagang, sama dengan para kaum pendatang di Tanah Papua.

Silahak nsimak saja berita-berita sajian KSU Baliem Arabica di blog berikut:

  1. papuamart.com
  2. blog.papuamart.com
  3. papua.business
  4. baliemarabica.com
  5. papua.coffee
  6. papuacoffees.com
  7. kopi-papua.com
  8. papuamandiri.biz
  9. papua.ws
  10. papua.pw

situs-situs jaringan KSU Baliem Arabica dan anak-anak perusahaannya ini tidak membicarakan kekayaan alam, tidak juga membicarakan banyak tentang penderitaan dan pelenggaran HAM dan Papua Merdeka, yang selalu mewarnai otak dan pemberitaan di Tanah Papua.

Situs-situs ini berbicara tentang harapan-harapan yang terselubung dan yang sudah matang untuk digarap dan ditangani oleh orang Papua.

Harapan-harapan itu ialah peluang berbisnis, kesempatan untuk entrepreneur Papua bangkit, seirama dengan slogan gubernur provinsi Papua, Lukas Enembe: Papua Bangkit!, Papua Mandiri! dan Papua Sejahtera!

Menurut Jhon Yonathan Kwano, ke-wirausaha-an orang Papua belum banyak ditanggapi oleh Gubernur, Bupati dan Walikota, kepala-kepala dinas masih pada tingkat wacana, kursus dan pemberdayaan, mereka belum langsung terjun, mereka juga belum berani mengambil langkah mendanai kegiatan-kegiatan entrepreneur orang Papua, seperti contoh yang jelas ialah minimarket PAPUAmart.com dan kios-kios KKLingkar.com miliki KSU Baliem Arabica yang sudah berdiri hampir dua tahun belakangan dibiarkan begitu saja oleh Lukas Enembe dan seluruh pemerintah di Tanah Papua.

Gres Maria Karoba Tawi dan temannya mengatur barang di toko Papua Mart -Jubi/ Yance Wenda
Gres Maria Karoba Tawi dan temannya mengatur barang di toko Papua Mart -Jubi/ Yance Wenda

Sentani, Jubi – Gres Maria Karoba Tawi, 21 tahun, sedikit berbeda dari mahasiswi lainnya. Selain kuliah di semester satu di Jurusan Akuntasi, Universitas Yapis (Uniyap), ia juga bekerja membantu mamanya di Toko Papua Mart.

“Saya kuliah siang, jadi pagi menjaga toko, siangnya baru ke kampus,” kata Gres saat ditemui Jubi di Sentani pada Kamis (17/11/2016).

Meski begitu, kata perempuan asal Bokondini, Kabupaten Tolikara ini, ia menyempatkan diri meluangkan waktu belajar.

“Sedang tidak ada pelanggan datang saya belajar, kalau untuk tugas saya kerjanya malam,” ujarnya.

Ibu Gres kebetulan manager Papua Mart. Selain menjaga toko Gres juga ikut mengontrol di bagian admin mengontrol masuk barang.

Sama dengan Gres, Paulina Yoku, 15 tahun, adalah perempuan muda yang juga bekerja sambil studi. Paulina yang sekolah di SMP YPKP Sentani juga berjualan pinang.

“Pinang biasa saya ambil di pohon sendiri dan menjualnya, pagi saya atur pinang nanti mama yang bantu jaga dan pulang sekolah saya yang jaga,” ujar perempuan asal Sentani ini.

Dengan modal berjualan di depan rumah, perempuan asal Sentani ini bisa mendapatkan uang yang lumayan.

“Dari hasil jualan pinang paling tinggi Rp300 ribu dan paling rendah Rp200 ribu,” kata Paulina.

Untuk menyiasati kedua aktivitasnya, ketika mendapat tugas rumah dari sekolah, ia meminta tolong mamanya menjaga jualannya.

“Saya selesaikan dulu tugas sekolah, setelah itu saya kembali berjualan pinang sampai jam delapan malam,” ujarnya. (*)

Menanggapi perkembangan yang sedang terjadi di Indonesia, dalam kaitan hubungan Papua dengan kawasan Melanesia, terutama rapat-rapat teknis yang belakangan ini berlangsung di Tanah Papua antara pemerintah provinsi dengan Kementerian Luar Negeri untuk mengembangkan usaha-usaha dari Tanah Papua ke kawasan Melanesia, makan Jhon Yonathan Kwano sebagai Direktur PAPUAmart.com menyambut baik dan bergembira atas kabar ini.

Jhon Yonathan Kwano mengatakan, PAPUAmart.com ialah sebuah produk unggulan Tanah Papua sebagai sebuah badan usaha, karena ia dimiliki secara penuh oleh KSU Baliem Arabica, didirikan dengan modal sepenuhnya dari anggota koperasi. Koperasi Baliem Arabica ialah produsen Kopi Papua, produk unggulan Tanah Papua yang sudah banyak disebut-sebut telah diekspor ke berbagai negara.

Jhon Kwano menyatakan,

PAPUAmart.com diberi tugas pertama untuk memasarkan dan menjual Kopi Papua. Setelahd diberi tugas tahun 2013, kami mulai dengan membuka pasar di Indonesia, karena PAPUAmart.com berkantor pusat di D.I. Yogyakarta. Kami tahu persis pasar kopi terbesar untuk Kopi Papua ialah di Indonesia sendiri, dan Yogyakarta sudah menjadi rumah pertama di luar Tanah Papua bagi orang Papua. Oleh karena itu kami mulai dari sana. Kami hadir menanggapi kebutuhan pasar yang mendesak akan Kopi Papua waktu itu, dan masih saja dicari-cari sampai hari ini (2016).

Melihat potensi yang besar sudah terbuka untuk mengembangkan usaha-usaha minimarket di kawasan Melanesia lainnya, Kwano mengatakan

Kami sambut gembira semua perkembangan yagn sedang terjadi di Indonesia maupun di Tanah Papua secara khusus, lebih khusus lagi di kawasan Melanesia, karena PAPUAmart.com sangat terkait dengan masyarakat Melanesia, Tanah Papua dan kepulauan yang menyebar dari Timor Leste sampai ke Fiji. Kehadiran PAPUAmart.com di kawasan Pasific Selatan sangat ditunggu. Oleh karena itu gebrakan yang dilakukan oleh Presiden Indonesia Joko Widodo dan disambung oleh Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe memberikan suasana yang sangat positif. Kondisi ini harus disambut baik oleh orang Papua sendiri, terutama para entrepreneurs dan oleh Bank-bank yang ada di Tanah Papua.

Selanjutnya disebutkan bahwa sedang dijagaki kemungkinan kerjasama dengan Bank Papua dan Bank Rakyat Indonesia untuk membantu PAPUAmart.com dalam mengembangkan minimarket lainnya di seluruh kawasan Melanesia.

Hambatan terbesar saat membuka usaha adalah memulainya. Jika Anda sudah melalui fase ini, maka langkah selanjutnya relatif bisa Anda jalani. Untuk memulai usaha baru, mari kita coba langkah-langkah berikut ini.

1. Siapkan Mental

Hal pertama yang harus disiapkan adalah mental. Mental pengusaha berbeda dengan karyawan. Karyawan cenderung menghabiskan gaji bulanannya. Sedangkan, pengusaha harus menginvestasikan sebagian penghasilannya untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Maka, ketika kita sudah memilih untuk membuka usaha, terapkanlah mental sebagai pengusaha.

2. Siapkan Modal
Apapun jenis usahanya, pasti memerlukan modal. Banyak pengusaha yang mengeluhkan modal. Sebenarnya, tak perlu dirisaukan. Dengan modal kecil pun Anda sudah bisa membuka usaha. Besarnya modal tergantung dari besar atau kecilnya usaha yang Anda jalankan.

3. Bidang Usaha
Tentukan bidang usaha yang akan Anda buka. Anda bisa memilih bidang usaha yang belum pernah ada atau yang sudah banyak. Pada awalnya, orang merasa ragu untuk mulai membuka usaha, baik bidang yang belum pernah ada maupun yang sudah banyak dilakukan.

4. Lokasi
Lokasi merupakan peran penting dalam membuka usaha. Lokasi yang ramai diyakini akan membuat usahamu cepat dikenal dan menarik banyak peminat. Pilih lokasi yang strategis, yaitu dekat dengan tempat aktivitas masyarakat, kantor, sekolah, atau kampus.

5. Fokus
Fokuslah pada satu bidang usaha terlebih dahulu. Banyak pengusaha yang gagal saat mulai berkembang, karena tidak fokus pada peningkatan bisnis awal, melainkan terlalu banyak ingin mencoba bidang usaha lain.

6. Cari Pelanggan
Kenalkan bidang usaha Anda ke luar. Sebarkan informasi barang dagangan atau usaha jasa Anda ke semua orang, agar bisa mendapatkan klien. Ada banyak cara untuk promosi, baik dari

7. Cara Berbisnis
Sebenarnya, berbisnis itu mudah, kok. Contohnya, barang seharga Rp1000, tugas Anda adalah menjualnya dengan harga lebih dari itu, misalnya Rp. 1.500. Intinya, dari sebuah barang, Anda bisa menjualnya dengan memperoleh keuntungan. Setelah itu, juallah barang tersebut sebanyak-banyaknya.

8. Pegawai
Pada awal membuka usaha, Anda hanya membutuhkan sedikit pegawai. Selain Anda sendiri yang mengurus usaha tersebut, Anda bisa melibatkan pasangan atau anggota keluarga yang lain untuk ikut mengelola. Tujuannya agar mereka dapat ikut merasa memiliki usaha tersebut. Setelah usaha Anda berkembang, Anda bisa mepekerjakan pegawai tambahan.

9. Perencana Keuangan
Keuangan untuk membuka bidang usaha, tak hanya terpaku pada modal awal. Ketika usaha sudah berjalan, Anda harus pandai mengatur alur keluar masuknya uang. Pisahkan keuangan bisnis dengan keuangan pribadi. Banyak pengusaha yang gagal karena keuangan pribadi dan bisnis, tercampur aduk.

10. Mulai!
Sudah memikirkan segala sesuatunya? Kalau begitu, mulailah!

11. Risiko
Membangun bisnis, tentu saja ada risikonya. Namun, kalau Anda sudah menyadari risikonya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semakin maju usaha Anda, reputasi Anda semakin dipertaruhkan. Karena itu, sambil menjaga kelangsungan bisnis, Anda juga harus terus menjaga reputasi.

12. Antisipasi Kegagalan
Risiko kegagalan dalam berbisnis, selalu ada. Karena itu Anda dituntut untuk bersikap tegas dan cepat bertindak, terutama bila melihat sesuatu yang tak beres.

Tourism eyed as mine backup

LANDOWNERS of the Ok Tedi mine area in Western want to venture into tourism as a backup for when the mine closes.

A memorandum of understanding was signed between the Landowners’ Royalty Trust and Tourism Promotion Authority (TPA) in Port Moresby on Friday for this community-based project.

“I need tourism development,” chief landowner and president of Star Mountains local-level government Borok Pitalok said.

“It is a fall-back for my people.

“More good things will happen because the mine will one day come to an end.”

Royalty Trust chief executive Aubrey DeSouza, when signing the agreement with Tourism Promotion Authority chief executive Jerry Agus, said there was huge potential for tourism in the Star Mountains. The agreement will look at developing bird watching as a first project.

“We have got other investments in commercial, residential property, hotels, stocks and shares but what we are really excited about is that this is a project which is community based,” DeSouza said.

“Royalty Trust has 10 mine villages around Ok Tedi and about 5000 beneficiaries.

“Every year we inform them about the various investments for after-mine life to sustain them for the rest of their lives.

“We expect the project to grow and give them sustainable employment and other opportunities with technical expertise of TPA.”
Agus said this was the first time for a landowner company to partner with a government agency to support local people in the community.

“Most of the time you do not see landowner companies, especially from mining and petroleum-producing areas trying to partner with sectors in tourism and agriculture,” he said.

“You do not have to have huge capital investments to go into tourism.

“It is something that we live with every day, just like agriculture.

“What we will do is to market and promote tourism products in Ok Tedi and Tabubil areas.”

Source: The National PNG

Gubernur Papua tawarkan peluang bisnis ke Lion Air Group

Gubernur Papua Lukas Enembe (Batik Biru) didampingi Kepala Badan Penghubung Provinsi Papua di Jakarta, Alex Kapisa, saat bertemu langsung Direktur Utama Lion Air Group, Edward Sirait, di Kantor Lion Air Group - Jubi/Humas Gubernur
Gubernur Papua Lukas Enembe (Batik Biru) didampingi Kepala Badan Penghubung Provinsi Papua di Jakarta, Alex Kapisa, saat bertemu langsung Direktur Utama Lion Air Group, Edward Sirait, di Kantor Lion Air Group – Jubi/Humas Gubernur

Jayapura, Jubi – Gubernur Papua, Lukas Enembe, menawarkan peluang bisnis kepada manajemen Lion Air Group, khususnya untuk membuka rute penerbangan dari Papua ke negara-negara Pasifik.

Penawaran peluang bisnis penerbangan disampaikan langsung oleh Gubernur Enembe yang pada saat itu didampingi Kepala Badan Penghubung Provinsi Papua di Jakarta, Alexander Kapisa, kepada Direktur Utama Lion Air Group, Edward Sirait ,dan Presiden Direktur Wings Air, Achmad Hasan, di Jakarta, Senin (1/10/2018).

“Potensi peluang bisnis di wilayah negara-negara Pasifik, lebih khusus di Papua Nugini (PNG) cukup besar. Untuk itu, sangat baik jika dibuka rute baru penerbangan,” kata Enembe, melalui rilis pers kepada Jubi, di Jayapura, Selasa (2/10/2018).

Menurut ia, rencana pembukaan rute baru penerbangan bukan hanya keinginan dirinya saja, melainkan sejumlah pemimpin di wilayah Pasifik, seperti Gubernur di PNG, Gubernur Port Moresby, Gubernur Morobe, Gubernur Madang, dan Wali Kota Wewak juga menginginkan hal itu.

“Hal ini sudah kami bahas saat saya melakukan kunjungan kerja ke PNG beberapa waktu lalu, dan para gubernur di PNG sudah menyatakan mendukung. Bahkan mereka siap memberikan lahan,” ujarnya.

Ia katakan saat ini negara lain seperti Cina dan Malaysia sudah menguasai pasar ekonomi di PNG. Untuk itu, Indonesia juga harus bisa bersaing dan menjadi peserta dalam potensi bisnis tersebut.

“Kalau memang pihak managemen Lion Air Group bisa membuka layanan penerbangan ke PNG, maka kami Pemprov Papua juga siap ikut penyertaan modal untuk bekerjasama,” kata Enembe.

Direktur Utama Lion Air Group, Edward Sirait, mengaku menyambut baik rencana Gubernur Papua dalam membangun kerjasama dengan Lion Air Group untuk membuka rute penerbangan ke PNG.

Edward menyatakan pihaknya siap menjelajahi dan melakukan survei pangsa pasar provinsi di PNG yang nantinya akan dibuka rute baru. Dirinya menjanjikan ketika pihaknya sudah go public maka rencana pembukaan rute baru kemungkinan akan dibuka.

“Setelah Pilpres 2019 mendatang, Lion Air Group akan go public. Jadi tentunya ini akan kami bahas lebih detail,” kata Edward. (*)

Negosiasi divestasi Freeport rumit, kata Sri Mulyani

akarta, Jubi – Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan negosiasi divestasi saham antara PT Freeport Indonesia dan pemerintah yang pada akhirnya menghasilkan kesepakatan, prosesnya panjang dan pelik.

“Akhirnya selesai juga. Proses ini panjang, rumit dan pelik,tapi atas kerja sama banyak pihak selesai juga dengan kesepakatan yang saling menguntungkan,” kata Sri Mulyani di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, Kamis (27/9/2018)

Sri Mulyani juga menyampaikan bahwa dengan selesainya proses negosiasi divestasi ini,menunjukkan bahwa Indonesia tempat yang baik untuk investasi, karena antara investor dan pemerintah harus sama-sama untung.

Pada hari Kamis, di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya tercapai kesepakatan sah, saham kepemilikan mayoritas Freeport Indonesia menjadi milik pemerintah Indonesia.

“Ya, proses divestasi saham PT Freeport berarti sudah selesai, setelah ini tinggal proses administrasi saja, antara Freeport dan Inalum,” kata Menteri ESDM Ignasius Jonan ketika menyaksikan proses tanda tangan kesepakatan.

Holding Industri Pertambangan PT Inalum (Persero), Freeport McMoRan Inc (FCX) dan Rio Tinto, melakukan penandatanganan sejumlah perjanjian sebagai kelanjutan dari Pokok-Pokok Perjanjian (Head of Agreement) terkait penjualan saham FCX dan hak partisipasi Rio Tinto di PT Freeport Indonesia (PTFI) ke Inalum.

Penandatanganan itu meliputi Perjanjian Divestasi PTFI, Perjanjian Jual Beli Saham PT Rio Tinto Indonesia (PTRTI), dan Perjanjian Pemegang Saham PTFI.

Penandatanganan perjanjian dilakukan oleh Direktur Utama Inalum Budi G Sadikin, dan CEO FCX Richard Adkerson, yang disaksikan oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat.

Dengan demikian jumlah saham PTFI yang dimiliki Inalum akan meningkat dari 9,36 persen menjadi 51,23 persen. Pemda Papua akan memperoleh 10 persen dari 100 persen saham PTFI.

Perubahan kepemilikan saham ini akan resmi terjadi setelah transaksi pembayaran sebesar 3,85 miliar dolar AS atau setara dengan Rp56 triliun kepada FCX diselesaikan sebelum akhir tahun 2018.

“Dengan ditandatanganinya perjanjian ini, pemerintah akan menerbitkan IUPK dengan masa operasi maksimal 2×10 tahun sampai tahun 2041,” kata Jonan.

Selanjutnya, kewajiban PTFI untuk membangun pabrik peleburan (smelter) tembaga berkapasitas 2 sampai 2,6 juta ton per tahun akan terus dimonitor dan evaluasi perkembangannya, sehingga diharapkan dapat selesai dalam waktu kurang dari 5 tahun, kata Jonan. (*)

KAP Papua akan gelar pameran sebagai langkah evaluasi

Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP), Merry Yoweni
Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP), Merry Yoweni

Jayapura, Jubi – Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP), Merry Yoweni mengatakan, pihaknya akan menggelar pameran dalam waktu dekat. Lokasi pameran direncanakan di halaman Kantor Gubernur Papua, Jalan Soa Siu, Dok II, Kota Jayapura.

“Itu untuk mengevaluasi tiga tahun dukungan pemerintah provinsi kepada KAPP. Meski dana terbatas, namun dapat menjangkau ribuan orang. Mungkin dari ribuan orang itu ada yang sukses dan mereka ini yang akan dipersiapkan. Kami tunjukkan ke pemprov kalau kami bisa,” kata Merry Yoweni kepada Jubi, Kamis (27/9/2018).

Hanya saja, pihaknya belum dapat memastikan kapan tanggal pelaksanaan pameran. Namun menurut Yoweni, jika tidak akhir Oktober 2018, pameran akan digelar awal November 2018.

“Kami akan rapat lagi untuk menentukan tanggalnya. Kami akan pamerkan apa yang kami hasilkan dari dukungan pemerintah selama ini. Kami sudah dapat gambaran, apa yang akan kami pamerkan,” ujarnya.

Pameran katanya, tidak hanya untuk anggota KAPP, pengusaha asli Papua dari organisasi lain yang ingin ambil bagian diberikan kesempatan memarkan hasil kerjanya selama ini.

Ini sebenarnya dalam rangka dua tahun hari kebangkitan ekonomi orang asli Papua, 7 September 2018. Tapi karena gubernur dilantik, 5 September 2018, kami pikir waktunya sangat mepet jika digelar, 7 September 2018,” ucapnya.

Sementara anggota komisi bidang ekonomi DPR Papua, Mustakim HR mengatakan, kini sudah banyak pengusaha asli Papua sukses dalam dunia usaha.

“Saya sangat yakini orang Papua ini mampu. Hanya butuh waktu dan pembinaan saja. Sudah menuju ke sana,” kata Mustakim.

Meski begitu menurutnya, pengusaha asli Papua juga harus punya kemauan untuk maju. Kalapun pemerintah punya niat baik jika pengusaha asli Papua sendiri tak punya niat, sulit mencapai suskes. (*)

Papua butuh tenaga ahli kelola sumber daya alam

Gubernur Papua, Lukas Enembe - Jubi.Dok
Gubernur Papua, Lukas Enembe – Jubi.Dok

Jayapura, Jubi – Gubernur Papua, Lukas Enembe mengatakan provinsi yang diPapua saat ini membutuhkan tenaga ahli untuk mengembangkan dan memanfaatkan potensi-potensi lokal, seperti Sagu dan Kopi.

“Sagu dan Kopi Papua kualitasnya sangat baik, hanya saja belum dikembangkan dan dikelola secara baik untuk kemudian diekspor keluar, jadi kami butuh pemikir-pemikir yang handal di bidang ini,” kata Enembe kepada wartawan, di Jayapura belum lama ini.

Ia menilai, Sumber Daya Manusia (SDM) Papua belum mampu mengelola potensi yang ada . Oleh karena itu, butuh orang-orang yang memiliki keahlian mengelola sumber daya alam dengan baik.

“Makanya saya terus dorong sektor ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat Papua, sehingga seluruh potensi yang ada ke depan bisa dikelola orang Papua sendiri,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Mayjen TNI Doni Monardo mengatakan Kopi Papua asal Tiom, Kabupaten Lanny Jaya menjadi salah satu kopi termahal dengan harga jual Rp5.3 juta per kilo.

Apalagi kata ia, sisa-sisa kopi sepeninggalan Hindia-Belanda di wilayah Pegunungan Tengah Papua masih sangat banyak, sehingga perlu dikelola dan dikembangkan karena kualitas Kopi asal Papua sangat baik.

“Mudah-mudahan dengan adanya kerjasama dengan pemerintah provinsi, kabupaten, kota, kepala suku, Ondoafi dan pihak lainnya di Papua, produksi Indonesia makin banyak karena lahan di Papua memungkinkan untuk dikembangkan,” kata Doni.

Untuk itu, ujar ia, pihaknya akan mengirim tim ke Kabupaten Keerom, Papua untuk melakukan penelitian dan penjajakan, dengan harapan bisa membuka industri perkebunan Kopi.

“Intinya, kami berencana akan membuka industri kopi di Papua dan Papua Barat, karena kualitas Kopi Papua terbaik,” ujarnya. (*)

OAP harus jadi pelaku bisnis di Pasifik

Gubernur Lukas Enembe berbincang dengan Gubernur Madang, Peter Yama - IST
Gubernur Lukas Enembe berbincang dengan Gubernur Madang, Peter Yama – IST

Jayapura, Jubi – Gubernur Papua, Lukas Enembe mengajak Gubernur Provinsi Madang, Papua Nugini (PNG) Peter Yama untuk bersama membangun kerjasama ekonomi dan menjadikan pengusaha-pengusaha di kedua provinsi sebagai pebisnis di Pasifik.

Dalam sambutannya, Gubernur Enembe mengatakan bahwa pemerintah pusat mempercayakan pada dirinya sebagai Gubernur Papua untuk membuka jalur perdagangan dengan PNG. Setiap investasi Indonesia di Pasifik, menurut Enembe harus lewat Papua.

“Ini negeri kita, tanah kita. Ini waktunya kita menjadi pemain ekonomi di Pasifik. Baik pengusaha di Madang maupun di Papua,” ujar Gubernur Enembe saat berkunjung ke Madang, pekan lalu.

Untuk mewujudkan hal tersebut, lanjut Gubernur Enembe, dalam periode kedua kepemimpinannya, ia telah memutuskan seluruh APBD Provinsi Papua yang bersumber dari dana otonomi khusus akan dikelola oleh Orang Asli Papua (OAP), terutama untuk pengembangan ekonomi. Kebijakan ini dilakukan agar OAP bisa bangkit, mandiri, sejahtera dan berkeadilan, lepas dari ketertinggalan.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Enembe juga mencari kemungkinan untuk membuka jalur perdagangan melalui laut. Melalui laut, kedua provinsi bisa melakukan perdagangan dengan biaya murah.

“Kita sudah mengekspor beras dari Merauke. PNG bisa mengimpor beras dari Papua. Tidak perlu dari Australia atau Thailand yang biayanya sangat mahal,” ujar Enembe.

Ia juga berharap Pemerintah Madang bisa menyediakan fasilitas pergudangan untuk menjalankan kerjasama perdagangan melalui laut. Menurutnya, Provinsi Papua sudah memiliki kapal yang bisa berlayar di sepanjang pesisir utara Papua hingga PNG. Saat ini kapal tersebut beroperasi di Kalimantan.

“Kapal ini bisa memasok kebutuhan-kebutuhan di region Momase yang meliputi Morobe, Madang, East Sepik dan West Sepik dan sebaliknya membawa hasil pertanian, perkebunan atau industri dari region Momase ke Papua,” kata Enembe.

Gubernur Madang menyambut tawaran Gubernur Enembe dengan antusias. Menurutnya, Gubernur  Enembe datang ke tempat yang tepat. Madang adalah provinsi utama di PNG. Provinsi ini, selain dikenal memiliki potensi wisata seperti pegunungan dan laut, juga menjadi pusat pertanian dan perkebunan PNG. Kopi, coklat, kopra dan vanilla adalah hasil pertanian dan perkebunan utama provinsi ini.

“Selain hasil perkebunan, kami juga memiliki industri perikanan dan pertambangan,” kata Gubernur Yama.

Lanjutnya, Papua dan Madang memang berada di dua negara yang berbeda. Namun tidak seharusnya itu menjadi membatasi penduduk yang ada di kedua provinsi untuk berinteraksi karena penduduk di kedua provinsi saling bersaudara.

“Provinsi Papua adalah saudara tua PNG. Kami bisa belajar banyak dari Papua yang sudah lebih maju. Demikian juga sebaliknya, Papua bisa belajar dari kelebihan yang kami miliki,” ujar Gubernur Yama.

Ia sepakat bahwa pengusaha-pengusaha dari Papua dan Madang bisa menjadi pelaku bisnis utama di Pasifik. Karena itu, ia berharap kunjungan kerja Gubernur Enembe ke Madang bisa ditindaklanjuti secepat mungkin.

“Kita punya tanah paling besar di Pasifik ini. Penduduk paling banyak. Memang kita harus menjadi pelaku utama di berbagai sektor di Pasifik ini, terutama sektor ekonomi,” ungkap Gubernur Yama. (*)

Jayapura, Jubi – Bupati Yahukimo, Abock Busup, menyatakan pihaknya sedang berusaha menutup tambang rakyat di wilayah itu. Katanya, perlu kajian, analisis, dan mendengar saran serta masukan dari berbagai pihak terlebih dahulu untuk mengetahui dampak positif dan negatif kehadiran tambang emas di daerah tersebut.

“Kalau nanti ribut, ada masyarakat korban, siapa yang bertanggung jawab. Perlu kajian dulu, dipelajari dulu agar diatur baik supaya tak ada masalah ke depan,” kata kata Abock Busup, di Jayapura, akhir pekan kemarin.

Ia mengatakan DPRD setempat telah membentuk Panitia Khusus (Pansus) dan telah menyurati pemilik lima helikopter yang selama ini membawa penambang masuk ke wilayah tambang rakyat, agar untuk sementara helikopter tidak dioperasikan.

“Tanggal 17 September 2018, kami sudah kirim surat kalau lima helikopter itu tinggal di Yahukimo,” ucapnya.

Pihaknya tak ingin jika helikopter tidak berada di Yahukimo, masyarakat setempat akan menduga digunakan mengangkut orang ke lokasi penambangan.

“Kalau nanti ada konflik, dibilang pelanggaran HAM, pemerintah tidak perhatikan dan lainnya. Padahal kami sudah tegas,” ujarnya.

Lokasi tambangan rakyat di Yahukimo, kata Busup, berada di Distrik Seredala. Lokasi penambangan dapat ditempuh 30 menit menggunakan jalan darat dari Dekai, ibu kota Yahukimo. Penambang, tidak hanya berasal dari masyarakat asli setempat, juga orang dari daerah lain.

“Memang hingga kini aktivitas (penambangan) tetap jalan, namun sudah berkurang,” ucapnya.

Gubernur Papua, Lukas Enembe, belum lama ini juga menyatakan menolak kehadiran penambangan ilegal di provinsi yang ia pimpin, karena merusak alam Papua.

“Mulai sekarang tidak boleh ada kegiatan ilegal lagi karena Papua sekarang dibawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” kata Enembe.

Menurutnya, Majelis Rakyat Papua (MRP) memegang surat dari PBB untuk melindungi hutan dan tanah di Papua.

“Pokoknya tidak boleh ada kegiatan ilegal baik itu Illegal fishing, logging, dan ilegal tambang. Semua tidak boleh ada di atas tanah Papua,” ucapnya. (*)

Jayapura, Jubi – Bupati Yahukimo, Abock Busup, mengatakan Kota Dekai, ibu kota Kabupaten Yahukimo, merupakan salah pintu masuknya penambang dari daerah lain ke lokasi tambang rakyat di Kampung Kawe, Distrik Awimbon, Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin).

“Pemkab Pegunungan Bintang yang mengizinkan penambangan di Kampung Kawe. Namun penambang dari luar masuknya lewat Dekai,” kata Abock Busup, di Jayapura, akhir pekan kemarin.

Menurutnya, akses dari Dekai ke Kampung Kawe dapat ditempuh lewat jalur darat dan udara, dengan waktu sekira 20 menit. Gampangnya akses itu membuat para penambang dari daerah lain di Papua, bahkan luar Papua, cenderung memilih Dekai sebagai jalur masuk ke lokasi tambang.

“Penambang dari luar Yahukimo tiba di Dekai menggunakan pesawat kemudian lanjut ke wilayah itu (Kampung Kawe),” ucapnya.

Tambang emas tidak hanya wilayah Kabupaten Pegubin, juga di Kabupaten Yahukimo. Kehadiran tambang emas itu membuat Ikatan Suku Besar Una, Kopkaka, Arumtap, Arupkor, Mamkot, Momuna (IS-UKAM) Papua minta aktivitas pertambangan dihentikan.

Sekretaris IS-UKAM, Timeus Aruman, beberapa waktu lalu, mengatakan pengusaha tambang di wilayah itu diduga mendatangkan penambang dari pulau Jawa, Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan.

Hal yang sama dikatakan Kepala Suku Una-Ukam, Yakobus Kisamlu. Katanya, pihaknya menolak penambangan ilegal dan mengeluarkan lima poin pernyataan sikap di antaranya menyatakan pendulangan emas di Kampung Kawe, Distrik Awimbon, Kabupaten Pengubin dan Distrik Suntamon Kabupaten Yahukimo adalah ilegal dan masyarakat UKAM sebagai hak ulayat menolak pelaku pendulang. (*)

Ratusan pengusaha wanita ikut pelatihan digital marketing

Pelatihan digital marketing IWAPI kepada para pengusaha perempuan di Papua – Jubi/Dok. IWAPI
Pelatihan digital marketing IWAPI kepada para pengusaha perempuan di Papua – Jubi/Dok. IWAPI

Jayapura, Jubi –  Untuk mendongkrak semangat kewirausahaan perempuan Papua, sekitar 300 perempuan yang tergabung dalam Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Papua ikuti digital marketing training atau pelatihan pemasaran bersama Facebook.

“IWAPI goes Digital ini merupakan pelatihan digital sebagai lembaran baru pada agenda edukasi untuk para pengusaha perempuan Papua membangun jaringannya, berbagai pengetahuan, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam perjalanan bisnis mereka, terutama untuk pembelajaran secara onlineuntuk menembus pasar digital,” ujar Moza Pramita, penanggung jawab pelatihan, Sabtu (22/9/2018).

Menurut Moza, sudah saatnya perempuan bersiap menghadapi era globalisasi atau era digital dalam mendukung usaha mereka, dimana selama ini merasa tersaingi karena memajukan dan mengembangkan serta mendirikan usaha yang belum ada menjadi semakin mendunia melalui fasilitas halaman bisnis Facebook.

“Kita kerjasama dengan Facebook mulai tahun 2016. Tahun 2018 ini, Jayapura menjadi kota ke delapan yang mengembangkan program yang sama yaitu IWAPI goes Digital. Saat ini sudah terdaftar kurang lebih 1.649 peserta. Kita akan publish setelah selesai di Jayapura,” katanya.

Moza menambahkan dengan adanya laman bisnis Facebook ini adalah adanya sistem promosi, hanya cukup sekali meng-upload kemudian akan secara otormatis bekerja sendiri dengan adanya fitur promosi berjadwal.

“Promosi itu bisa setiap hari, setiap jam juga bisa, istilahnya tak kenal waktu dan tempat serta kendala jaringan,” ujarnya.

Pembina IWAPI, Dewi Monik, mengemukakan potensi Papua sangat banyak yang takkan habis untuk digali untuk dunia, seperti pariwisata, budaya, kesenian, antropologi, ukiran, dan keindahan pulaunya.

“Dengan Facebok potensi perempuan Papua akan lebih maju ke depannya,” ujarnya.

Staf ahli Gubernur Papua, Anie Rumbiak, mewakili Pemerintah Provinsi Papua, mengemukakan pihaknya akan mendorong dan bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat untuk bisa ikut bertransaksi dan mendongkrak perekonomian melalui digital marketing khususnya di media daring.

“Kita akan dorong IWAPI kabupaten/kota dapat bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk ikut mendukung perekonomian melalui sarana daring,” ujar Anie. (*)

Jayapura, Jubi – Gubernur Provinsi Morobe, Papua Nugini (PNG), Ginson Sauno meminta Gubernur Papua, Lukas Enembe memfasilitasi kunjungan pemerintah Provinsi Morobe ke lokasi tambang PT. Freeport Indonesia di Timika. Hal ini disampaikan oleh Gubernur Morobe dalam jamuan makan malam yang ia selenggarakan di Kota Lae, Kamis (20/9/2018) untuk menyambut kedatangan Gubernur Papua beserta rombongan yang berjumlah 13 orang.

“Ibu kota Morobe, Kota Lae, sering menjadi tuan rumah even nasional tentang pertambangan. Karena itu, kami minta Gubernur Papua bisa memfasilitasi kami berkunjung ke PT. Freeport Indonesia,” ujar Gubernur Ginson.

Morobe adalah provinsi yang sangat penting di PNG. Provinsi ini memiliki pelabuhan utama di kawasan Pasifik, pertanian, perkebunan, peternakan sapi dan ayam, pengolahan hasil tambang  dan industri utama lainnya. Provinsi  inilah yangmengolah dan mendistribusikan kebutuhan hidup masyarakat PNG.

Provinsi terletak di pantai utara Papua Nugini. Luasnya 33.705 km², dengan populasi sekitar 750.000 jiwa. Dan karena pembagian Provinsi Southern Highlands pada tahun 2012, provinis ini merupakan provinsi yang paling padat penduduknya. Ini termasuk Huon Peninsula, Sungai Markham, dan delta, dan wilayah pesisir di sepanjang Teluk Huon.

Menanggapi permintaan Gubernur Ginson, Gubernur Enembe berjanji akan memfasiltasi tim dari Provinsi Morobe mengunjungi lokasi pertambangan PT. Freeport Indonesia.

“Seperti yang kita ketahui, kami baru saja mendapatkan 10 persen saham Freeport dari 51 persen divestasi saham pertambangan emas terbesar itu. Saya akan membantu memfasilitasi kunjungan Gubernur Morobe beserta timnya,” kata Gubernur Enembe menanggapi permintaan Gubernur Ginson.

Selain ingin berkunjung ke PT. Freeport Indonesia, Gubernur Ginson juga menawarkan kerjasama pertukaran guru dan mahasiswa. Menurutnya, hambatan dalam kerjasama kedua provinsi ini adalah bahasa. Sehingga ia merasa perlu ada pertukaran guru antar kedua provinsi yang berbeda negara ini. Provinsi Morobe akan mengirimkan guru bahasa Inggris ke Papua dan sebaliknya, Provinsi Papua mengirimkan guru bahasa Indonesia. Sedangkan untuk program pertukaran mahasiswa, Gubernur Gimson menawarkan program beasiswa bagi mahasiswa Morobe yang ingin belajar di Perguruan Tinggi di Papua dan sebagai timbal baliknya, Pemerintah Provinsi Papua juga memberikan beasiswa kepada mahasiswa asli Papua yang ingin belajar ke Morobe.

Gubernur Enembe menyambut baik tawaran ini.

“Kami telah mengirimkan banyak mahasiswa Papua untuk belajar ke luar negeri. Sehingga tawaran saudara saya, Gubernur Gimson ini akan kami tindak lanjuti segera,” kata Gubernur Enembe.

Gubernur Enembe dalam kesempatan itu juga menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa bertemu dengan Gubernur Ginson dalam penandatanganan Letter of Intent  (LoI) tahun lalu. Karena saat itu ia dipanggil oleh Presiden Indonesia ke Jakarta.

“Saya juga minta maaf karena belum bisa membawa staf kantor saya. Saya baru dilantik sebagai Gubernur beberapa hari lalu untuk periode kedua selama lima tahun mendatang,” tambah Gubernur Enembe.

Mengenai permintaan pasokan daging sapi dalam PON 2020 nanti, Gubernur Ginson menyambut baik permintaan tersebut. Menurutnya, ini merupakan kerjasama ekonomi yang akan saling menguntungkan bagi kedua provinsi.

“Kami siap menjadi pemasok kebutuhan daging untuk PON 2020, seperti yang disampaikan Gubernur Papua.  Kami memiliki peternakan sapi terbesar di PNG. Juga peternakan ayam. Ini akan saling menguntungkan bagi dua provinsi ini,” kata Gubernur Ginson. (*)

Skip to toolbar