Bisnis di Tanah Papua dan Kebijakan Pemerintah Provinsi Papua (1)

Kasus Proposal Kopi dan Minyak Buah Merah oleh Utusan Khusus Joko Widodo

Ini tulisan pertama pengelaaman menjadi wirausahawan di Tanan Papua, sebagai Orang Asli Papua (OAP). Laporan ini menyoroti perilaku arogan dan tidka profesional dari para utusan yang mengaku diri sebagia orang-orang Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia.

Tulisan ini kami buat sebagai bagian dari “pengalaman hidup” dalam berkarya sebagai entrepreneur Papua pada tahun 2015.

Ada empat orang yang pernah datang ke Desa Wodlo dan Kelila. Mereka mengaku diri diutus oleh Presiden Joko Widodo. Mereka berasal dari Jawa, ada dari Jogja, ada dari Jawa Timur. Saat mereka datang, mereka mengatakan mereka diutus langsung. Tujuan utama mereka ialah menyusul Proposal Bisnis pengembangan Kopi Papua dan Buath Merah Papua.

Mereka turun ke Wodlo dan Kelila secara diam-diam. Tetapi entah alasannya apa kami tidak tahu, mereka tiba-tiba datang ke Minimarket PAPUAmart.com di Jalan Raya Sentani, Hawai, Kabupaten Jayapura. Mereka datang, terlihat gelisah, tergesa-gesa dan sangat sibuk.

Mereka serahkan undangan, meminta Kartu Nama (busines Card) dan mereka cepat-cepat keluar. Undang itu mengatakan kami dari KSU baliem Arabica harus hadir dalam pertemuan bisnis yang akan diselenggarakan keesokan harinya.

Keesokan harinya Kepala Gudang Baliem Blue Coffee dan Direktur Pelaksana PAPUAmart.com menghadiri pertemuan dimaksud. Yang paling mengherankan, utusan KSU Baliem Arabica disuruh duduk dekat dengan para pembicara. Lalu mereka selalu mengatakan “untuk Kopi satu-satunya ialah Koperasi Baliem Arabica, jadi semua harus ikut,” tetapi dalam tindakannya mereka tidak pernah berkonsultasi dengan koperasi. Apa yang mereka lakukan terlihat seolah-oleh Koperasi dan para utusan Joko Widodo bekerjasama untuk mempresentasikan hasil studi yang mereka lakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Dalam presentasi ini mereka katakan bahwa Pusat Pengembangan Kopi Papua sebagai produk unggulan Tanah Papua telah dipilih di Desa Wodlo, Kabupaten Jayawijaya, sedangkan Pusat Pengembangan Buah Merah sebagai produk unggulan Tanah Papua dipusatkan di Kelila, Kabupaten Mamberamo Tengah, terutama di Distrik Eragayam.

Kebetulan sekali Direktur Pelaksana PAPUAmart.com berasal dari desa Wodlo dan Kepala Gudang Baliem Blue Coffee berasal dari Distrik Eragayam. Maka mereka ajukan pertanyaan-pertanyaan raktis dan teknis terkait dengan apa yang telah dilakukan tim peneliti dan apa yang akan terjadi setelah tim ini ke Jakarta dan melaporkan hasilnya kepada Presiden Joko Widodo.

Tiba-tiba Pak Loupatty, Asosten Bidang Ekonomi Profinsi Papua bertanya kepada tusan Koperasi, “Kamu perlu uang berapa?” Pertanyaan ini diajukan karena dari pihak koperasi berasalan bahwa Koperasi selama ini sudah punya banyak program, juga sudah ajukan proposal kepada Gubernur Provinsi Papua, dan dinas terkait, juga kepada Kepala Bappeda Provinsi Papua, tetapi tidak pernah ada tindak lanjut.

Dalam pertemuan ini Koperasi Baliem Arabica ditekan dan dipaksa supaya harga Kopi yang dibeli dari petani harus dinaikkan. Jadi, ada pesan dari pihak lain kepada para utusan ini supaya harga kopi dinaikkan oleh koperasi. Pesan ini langsung kami tanggapi dan katakan, “Harga Kopi ditentukan dalam Rapat Anggota, bukan kebijakan sepihak dari pengurus koperasi”. Tetapi mereka terus bersikeras menekan supaya harga kopio dinaikkan. Mereka bilang, “Kalau mau ikut proyek ini, kamu harus naikkan harga beli kopi dari petani.”

Secara teori, kopi yang kami beli ialah dalam kondisi basah, setelah baru dipetik, dan kami beli sebelum proses lanjutan dari kopi basah dimaksud. Kami beli dengan ukuran liter. Itu patokan yang menguntungkan bagi petani. Dalam proses pengeringan, banyak terjadi penyusutan karena kopi yang kami beli dalam kondisi basah, kami yang harus keringkan dan proses standarisasai lanjutan. Bayangkan saja apa yang bisa terjadi kalau Koperasi beli kopi yang sudah dikeringkan petani: apakah para petani tahu standarisasi dan proses pengeringan yang benar? Bayangkan kalau Koperasi beli kopi basah dari petani dengan ukuran kg? Akankah koperasi bertahan dengan cara ini? [berjanut]

 

Comments

comments

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment

Skip to toolbar