Art Shop, usaha perempuan memajukan kerajinan khas Papua

Mince Ohe di Art Shop kerajinan khas Papua- Jubi/ Yance Wenda.

Mince Ohe di Art Shop kerajinan khas Papua- Jubi/ Yance Wenda.

Sentani, Jubi Mince Ohe, 30 tahun, perempuan asal Sentani menjual kerajinan tangan khas Papua di Art Shop yang terletak di jalan masuk Pantani Kalkhote, Sentani Timur sejak 2009.

Art Shop merupakan warung kerajinan milik kelompok beranggota sembilan perempuan pengrajin yang berdiri berkat dana PNPM Rp1 juta pada 2016. Di warung ini juga dijual produk yang dibeli dan dipesan di luar anggota.

Art Shop menjual noken dari kulit dan benang, tempat tisu, tempat alkitab, kalung, gantungan kunci, topi, dan sandal.

“Kalau yang dari kain atau benang kami beli di pasar, yang dari kulit kami cari di Genyem, kami masuk hutan mencari karena di kampung sekitar Sentani sudah tidak ada,” katanya ketika ditemui Jubi, Jumat (3/3/2017).

Ia mengatakan, untuk membuat noken dari benang berbeda lama pengerjaan dibanding dari kulit. Membuat noken ukuran besar dari benang paling lama dua hari dan dua buah untuk ukuran. Membuat ukiran pada bahan kulit lebih lama.

Harga barang yang dijual berkisar Rp50 ribu hingga Rp1,5 juta untuk noken ukuran besar. Sedangkan noken kulit dijual Rp500 ribu.

Setiap hari Art Shop ini cukup ramai dikunjungi, baik warga Papua maupun luar daerah. Namun ia mengaku pembeli tak begitu banyak. Kadang seminggu hanya terjual satu buah.

“Kami mengalami beberapa kendala, misalnya tidak memiliki lemari kaca, tidak punya mesin jahit sehingga harus bawa bahan ke penjahit dan mengeluarkan uang Rp30 ribu per bahan, jadi kalau ada yang pesan banyak justru kami rugi bukan untung,” ujarnya.

Pengunjung, Betty Hana berharap motif khas Papua ini harus dijaga dan dilestarikan. Sebab banyak yang suka dengan motif tersebut karena bahan-bahanya dibuat dengan tangan, bukan mesin. (*)

Comments

comments

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment

Skip to toolbar