Disnaker belum mendata pekerja OAP

Pencari kerja OAP – Jubi/Dok.
Pencari kerja OAP – Jubi/Dok.

Jayapura, Jubi Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Jayapura belum mendata orang asli Papua (OAP) yang bekerja di perusahaan-perusahaan.

Kepala Disnaker Kota Jayapura, Yosias Fonotaba mengatakan, meski pekerja OAP belum terdata di pihaknya, perusahaan harus mengutamakan 70 persen pekerja OAP.

“Kami selalu menyampaikan penerimaan pegawai harus 70 persen putra/i asli Papua dan 30 persen orang non-Papua, misalnya, di mal, toko dan hotel,” katanya kepada Jubi di Jayapura, Rabu (5/4/2017).

Persentasi jumlah tersebut harus berlaku di semua perusahaan di Kota Jayapura. Namun ia tak menampik masih ada OAP yang tak betah bekerja di perusahaan dan berpindah ke perusahaan lainnya.

“Saya berkesimpulan bahwa mental berwirausaha sekaligus niat untuk bekerja di perusahaan swasta ini harus ditanamkan sejak dini kepada orang asli Papua, sehingga tidak berharap hanya PNS saja,” katanya.

Alternatif untuk OAP jika tidak cocok di kasir, lanjutnya, harus dimutasi ke tempat lain sesuai kemampuannya.

“Putra/i daerah harus diberdayakan. Itu komitmen kami,” katanya.

Ia mengaku selalu menyosialisasikan kepada pencari kerja agar mempunyai keahlian dan mental yang baik di dunia kerja.
Maka dari itu, diharapkan kepada mereka, terutama OAP agar menggali potensi yang ada dan bekerja sesuai dengan keahliannya.

“Kami baru usaha memenej finansial dengan baik kenapa orang luar bisa putra/i asli Papua tidak bisa. Saya mengatakan demikian karena kami sudah memberiakan modal usaha, tetapi karena tidak dikelola dengan baik akhirnya bangkrut. Sehingga menurut saya mental dan ketrampilan harus dibina baik,” katanya.

Alumnus magister antropologi Universitas Cenderawasih, Abner Koybur meminta agar pemerintah mendata pekera OAP untuk mengukur perkembangan mereka dalam berbagai bidang.

“Penting juga melakukan penelitian mengenai orang Papua guna memproteksi OAP juga dalam berbagai aspek,” katanya.
Ia juga mengimbau kepada masyarakat lokal agar kreatif mengelola kearifan lokal agar bisa diandalkan dan mendatangkan nilai ekonomis, sebab skill sangat penting dalam era pasar bebas. (*)

Comments

comments

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar