Sriwijaya Air tak bisa maksimalkan penerbangan di Papua karena keterbatasan waktu penerbangan

Pesawat Boeing 737 milik maskapai Sriwijaya Air - Dok. Jubi

Pesawat Boeing 737 milik maskapai Sriwijaya Air – Dok. Jubi

Jayapura, Jubi – Manajemen PT Sriwijaya Air Grup berharap dapat segera melakukan penerbangan malam di Papua agar jadwal penerbangan ke wilayah tersebut bisa lebih fleksibel.

Direktur keselamatan dan keamanan Nam Air (Sriwijaya Grup) Dwiyanto Ambarhidayat di Jayapura, Minggu (3/9/2017), mengungkapkan salah satu kendala pihak maskapai belum dapat memaksimalkan jadwal penerbangan armadanya karena masalah waktu yang sangat terbatas.

“Andai kata di beberapa daerah sudah bisa terbang lebih dari jam enam sore, kita bisa lebih menggerakkan banyak penerbangan,” ujarnya.

Menurutnya khusus untuk Nam Air yang sudah mengoperasikan pesawat ATR dengan kapasitas 72 penumpang untuk penerbangan intra Papua dan Papua Barat, jumlah rute yang dilakukan kini belum terlalu banyak karena keterbatasan waktu.

“Contoh pesawat kita yang di Nabire, mau berangkat pagi tidak bisa karena jam enam pagi di Nabire masih gelap dan pihak bandara tidak akan mengizinkan, tetapi pendaratan terakhir harus sebelum jam lima sore,” kata dia.

Dwiyanto pun berharap pihak otoritas bandara atau pemerintah daerah bisa memperhatikan hal tersebut dan segera menambah fasilitas di bandara agar penerbangan malam dimungkinkan.

Sebelumnya, Direktur Komersial Sriwijaya Air Toto Nursatyo sempat menuturkan pihaknya mengagendakan penambahan jumlah pesawat yang akan melayani rute penerbangan di wilayah Papua dan Papua Barat, terutama ke wilayah yang belum memiliki landasan yang bisa didarati pesawat berbadan besar.

“Lima tahun ke depan kita akan masukin lagi 5-6 pesawat ke Papua, tipenya Boeing 737-800 dan juga ATR,” ujarnya.

Ia menambahkan kini Sriwijaya sudah masuk di enam kota yang ada di Papua dan Papua Barat, semua yang memiliki landasan yang bisa didarati pesawat berbadan lebar.

Namun pihaknya juga ingin menambah frekuensi penerbangan dengan pesawat kecil untuk ke daerah yang belum memiliki landasan yang tidak bisa didarati Boeing.

“Rute-rute yang kami akan jajaki adalah ke Nabire, Kaimana, Fakfak, Raja Ampat, Wamena, Dekai, Tanah Merah, Oksibil,” katanya. (*)

Comments

comments

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment

Skip to toolbar