Pedagang lokal keluhkan tempat jualan

Pedagang lokal keluhkan tempat jualan

Sentani, Jubi – Sejumlah pedagang lokal yang setiap pagi dan sore berjualan di eks pasar lama Sentani mengeluh soal tempat jual mereka saat ini.

Trotoar di eks pasar lama Sentani yang digunakan pedagang sebagai tempat jualan – Jubi/Engel Wally
Trotoar di eks pasar lama Sentani yang digunakan pedagang sebagai tempat jualan – Jubi/Engel Wally

Pasalnya, trotoar yang biasa digunakan bagi pejalan kaki digunakan sebagai tempat untuk meletakkan barang jualan mereka, baik ikan danau, sagu, umbi-umbian, buah, dan sayur mayur.

“Tidak ada tempat yang baik disediakan bagi kami, makanya trotoar ini kami pakai untuk menaruh barang jualan kami,” ujar Dortea, salah seorang pedagang ikan danau di eks pasar lama Sentani, saat ditemui Jubi, Senin (29/7/2019).

Diakuinya trotoar bukan tempat untuk berjualan, tetapi kondisi yang tidak memungkinkan sehingga semua pedagang yang datangnya dari danau menaruh barang jualan mereka di trotoar dekat dengan badan jalan raya.

“Sering kita mendapat sungutan juga dengan saudara-saudara pedagang yang non Papua, karena jalan masuk ke kios mereka terhalang oleh barang jualan kami,” ungkapnya.

Ia sangat berharap ada perhatian serius terhadap hal ini, sehingga ada pemerataan bagi masyarakat lokal dalam peningkatan ekonomi.

“Transportasi dari kampung di pesisir danau hingga ke pasar baru harus dua kali, lalu waktu berjualan di pasar baru hanya sampai sore, sementara di eks pasar lama ini bisa sampai malam. Oleh sebab itu, pemerintah juga harus mengantisipasi hal-hal ini dengan baik. Karena di pasar baru juga tidak ada lampu penerangan untuk masing-masing los jualan,” ungkapnya.

Terpisah, Ketua Forum Kota (Forkot) Sentani, Deniks Felle, mengatakan kebijakan Pemerintah Kabupaten Jayapura hingga saat ini tidak begitu tegas dalam menyikapi kondisi masyarakat di kalangan bawah.

“Potensi sumber daya alam yang begitu banyak, tetapi tidak diberikan tempat yang layak sebagai tempat mereka. Awalnya, eks pasar lama Sentani mau ditertibkan dan disatukan ke pasar baru (Pasar Pharaa-Red), tetapi sampai saat ini masih begitu-begitu saja,” pungkasnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Comments

comments

Related Post

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar