Ayopreneur – Generasi millennial merupakan mereka yang lahir pada awal 1980-an sampai awal 2000-an. Banyak yang menyebut jika millennial merupakan generasi individual yang tidak bisa lepas dari ponsel, namun  merekalah yang mengubah kondisi dunia sehingga bisa seperti sekarang ini. Mereka tidak terlalu peduli dengan uang, tetapi lebih percaya pada suatu nilai atau nilai yang otentik.

Tanpa disadari, banyak entrepreneur berpengaruh saat ini merupakan generasi millennial. Tren tersebut juga akan semakin meningkat, sebagaimana generasi millennial akan mencapai titik maksimal dalam karir mereka dalam 2 dekade ke depan.

Dilansir dari Inc Asia, berikut 10 entrepreneur millennial yang paling berpengaruh saat ini:

1. Mark Zuckerberg
Mungkin Mark Zuckberberg merupakan wakil generasi millennial yang paling terkenal dan paling kaya. Di usianya yang baru menginjak 32 tahun, Zuckerberg berhasil menaklukkan dunia lewat platform Facebook. Semua kekayaannya disumbangkan untuk kesejahteraan manusia di bidang kesehatan dan pendidikan, yang mana ia bertekad untuk membuat dunia menjadi lebih baik.

2. Gerard Adams
Sebagai soerang millennial, Gerard Adams mencoba mengerti jalan pikiran millennial lainnya. Pendiri Elite Daily ini baru saja mendirikan startup baru, yang ia sebut dengan Fownders, untuk membantu generasi millennial menciptakan startup milik mereka sendiri dan menjadi entrepreneur.

3. David Karp
David Karp dikenal sebagai pendiri Tumblr, yang mana platform blog-nya tersebut digunakan oleh banyak generasi millennial untuk berbagi ide, pemikiran, serta karya-karya seni lainnya.

4. Michelle Phan
Sebagai seorang YouTube personality yang terkenal, Michelle Phan memanfaatkan fanbase-nya yang sangat besar tersebut untuk mempromosikan koleksi makeup-nya. Dari situ lahirlah Ipsy, sebuah perusahaan makeup dan kecantikan yang kini memiliki nilai yang sangat besar.

5. Peter Cashmore
Memulai karir sebagai tech-blogger, Peter Cashmore kemudian mendirikan raksasa media yang kini kita kenal sebagai Mashable.

6. Brian Chesky
Brian Chesky berhasil merevolusi kegiatan traveling menjadi sesuatu yang lebih efisien berkat temuannya yang disebut dengan Airbnb.

7. Daniel Ek
Daniel Ek merupakan salah satu pendiri layanan musik streaming Spotify, yang kini memiliki pangsa pasar yang besar dan berhasil mengubah pandangan banyak pihak dalam mendengarkan musik.

8. Blake Ross
Mendirikan banyak perusahaan, nama Blake Ross mungkin paling dikenal setelah menggagas Mozilla Firefox. Sejak saat itu, Ross juga mendirikan Parakey, yang kini sudah dijual ke Facebook dengan nilai yang besar.

9. Evan Spiegel dan Bobby Murphy
Kedua pria di atas merupakan pendiri Snapchat, yang kini menjadi media sosial paling besar dan paling berpengaruh di dunia.

10. Sean Rad
Sean Rad mengerti jalan pikiran millennial saat ingin mencari pasangan hidup. Maka ia menciptakan Tinder, sebuah aplikasi yang membantu orang-orang jomblo mencari pasangan di sekitar mereka. Tidak heran aplikasi ini begitu terkenal di kalangan millennial.(fb)

Ayopreneur – Dapat dikatakan bahwa bisnis yang terus melakukan inovasi adalah bisnis yang terdepan dan berhasil. Sama halnya dengan kehidupan yang selalu berganti tantangan dari hari ke hari, begitu juga yang terjadi pada dunia bisnis.

Dalam sebuah bisnis, inovasi adalah salah satu wujud sebuah bisnis yang digarap serius, apapun bidang bisnisnya jika ada inovasi didalamnya akan menghindarkan bisnis tersebut dari keadaan terburuk. Jangan pernah terlena sengan kondisi bisnis anda yang sedang berkembang baik saat ini, jika tanpa inovasi, maka sebenarnya bisnis anda akan berhenti sampai disini dan hanya menunggu waktu untuk dibubarkan.

Agar inovasi yang diputuskan dapat memberikan hasil terbaik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Berikut ini adalah beberapa diantaranya.

1. Inovasi tidak harus sesuatu baru
Kadang seseorang menganggap bahwa sebuah inovasi adalah sesuatu yang baru yang belum pernah ada sebelumnya, boleh saja kita mengupayakan sesuatu yang baru. Tapi tidak ada salahnya jika kita mengulang hal yang sama yang pernah dilakukan oleh kompetitor atau perusahaan yang lain. Asalkan inovasi tersebut tepat guna dan berada di momen yang tepat juga.

2. Pendapat dari berbagai pihak
Sebelum memutuskan sebuah inovasi yang dipilih, lakukan survey. Kumpulkan tanggapan dari berbagai pihak tentang ide anda, terima semua kritik dan saran, baik dari pihak internal (karyawan) ataupun dari pihak eksternal (konsumen dan lingkungan). Semakin banyak data yang masuk akan membantu Anda memperkirakan bagaimana hasilnya jika inovasi tersebut sudah dilakukan.

3. Perencanaan yang tepat
Sebuah inovasi yang dilakukan akan menentukan nasib bisnis Anda semakin baik atau justru kebalikannya, agar target Anda dapat dicapai. Lakukan perencanaan dengan matang, pilih waktu yang tepat dan tidak terburu buru. Tentukan siapa yang terlibat sesuai dengan kapasitasnya. Lakukan perhitungan dengan tepat untuk biaya yang dibutuhkan, dan tentukan kapan akan dilakukan evaluasi tentang inovasi Anda.

4. Lakukan pengawasan
Lakukan pengawasan secara rutin, perhatikan baik – baik bagaimana inovasi yang sedang Anda garap. Kumpulkan lagi pendapat dari berbagai pihak tentang inovasi Anda. Jika Anda menemukan sesuatu diluar rencana atau Anda menemui kendala, segera diskusikan dengan siapapun yang terlibat didalamnya dan segera lakukan tindakan.

5. Evaluasi dan beri keputusan lanjutan
Jika semua perencanaan telah dilakukan, saatnya Anda melakukan evaluasi dari inovasi Anda. Jangan pernah terlena dengan target yang tercapai, sebab bisa saja muncul hal yang tidak di rencanakan sebelumnya. Setelah evaluasi selesai, persiapkan lagi inovasi berikutnya sebagai keputusan lanjutan. (Bob Sadino)

Ayopreneur – Dapat dikatakan bahwa bisnis yang terus melakukan inovasi adalah bisnis yang terdepan dan berhasil. Sama halnya dengan kehidupan yang selalu berganti tantangan dari hari ke hari, begitu juga yang terjadi pada dunia bisnis.

Dalam sebuah bisnis, inovasi adalah salah satu wujud sebuah bisnis yang digarap serius, apapun bidang bisnisnya jika ada inovasi didalamnya akan menghindarkan bisnis tersebut dari keadaan terburuk. Jangan pernah terlena sengan kondisi bisnis anda yang sedang berkembang baik saat ini, jika tanpa inovasi, maka sebenarnya bisnis anda akan berhenti sampai disini dan hanya menunggu waktu untuk dibubarkan.

Agar inovasi yang diputuskan dapat memberikan hasil terbaik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Berikut ini adalah beberapa diantaranya.

1. Inovasi tidak harus sesuatu baru
Kadang seseorang menganggap bahwa sebuah inovasi adalah sesuatu yang baru yang belum pernah ada sebelumnya, boleh saja kita mengupayakan sesuatu yang baru. Tapi tidak ada salahnya jika kita mengulang hal yang sama yang pernah dilakukan oleh kompetitor atau perusahaan yang lain. Asalkan inovasi tersebut tepat guna dan berada di momen yang tepat juga.

2. Pendapat dari berbagai pihak
Sebelum memutuskan sebuah inovasi yang dipilih, lakukan survey. Kumpulkan tanggapan dari berbagai pihak tentang ide anda, terima semua kritik dan saran, baik dari pihak internal (karyawan) ataupun dari pihak eksternal (konsumen dan lingkungan). Semakin banyak data yang masuk akan membantu Anda memperkirakan bagaimana hasilnya jika inovasi tersebut sudah dilakukan.

3. Perencanaan yang tepat
Sebuah inovasi yang dilakukan akan menentukan nasib bisnis Anda semakin baik atau justru kebalikannya, agar target Anda dapat dicapai. Lakukan perencanaan dengan matang, pilih waktu yang tepat dan tidak terburu buru. Tentukan siapa yang terlibat sesuai dengan kapasitasnya. Lakukan perhitungan dengan tepat untuk biaya yang dibutuhkan, dan tentukan kapan akan dilakukan evaluasi tentang inovasi Anda.

4. Lakukan pengawasan
Lakukan pengawasan secara rutin, perhatikan baik – baik bagaimana inovasi yang sedang Anda garap. Kumpulkan lagi pendapat dari berbagai pihak tentang inovasi Anda. Jika Anda menemukan sesuatu diluar rencana atau Anda menemui kendala, segera diskusikan dengan siapapun yang terlibat didalamnya dan segera lakukan tindakan.

5. Evaluasi dan beri keputusan lanjutan
Jika semua perencanaan telah dilakukan, saatnya Anda melakukan evaluasi dari inovasi Anda. Jangan pernah terlena dengan target yang tercapai, sebab bisa saja muncul hal yang tidak di rencanakan sebelumnya. Setelah evaluasi selesai, persiapkan lagi inovasi berikutnya sebagai keputusan lanjutan. (bn)

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua memperkenalkan kepada anak muda Papua untuk berwirausaha.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen) Abepura diikuti oleh lebih dari 1500 mahasiswa dan masyarakat Papua.
Kegiatan ini atas kerja sama BI Papua, GenBI dan Uncen dan menghadirkan narasumber dari pengusaha-penguasah muda, diantaranya founder of Radja Cendol asal Jakarta, Danu Sofwan; Pengusaha Fashion yang juga penyangi asal Jakarta Alika, Pengusaha Noken Papua, Mama Merry, akademisi Uncen dan enterpreneur, Anthonius Citra.

Dalam kesempatan ini, Kepala BI Perwakilan Provinsi Papua, Joko Supratikto menyebutkan jiwa usaha muda berperan penting menggerakan perekonomian di Papua. Data yang dimiliki BI, baru ada 50-an ribu pengusaha muda di Papua.

“Setelah kuliah mau jadi apa sih ? Pasti jawabnya ingin jadi pegawai negeri, dan anggota DPR. Boleh saja tapi peluang untuk menjadi PNS sedikit tapi untuk bisa menjadi pengusaha tidak ada batasan,” ujar Supratikto, Sabtu 21 Mei 2016.

Dijelaskannya, untuk bisa menjadi pengusaha tidak langsung jadi saat mulai, tapi melalui kesabaran, kemauan dan tekad yang tinggi, serta terus belajar yang merupakan kunci dari kesuksesan seorang pengusaha atau interpreneur agar berperan penting menumbuhkan perekonomian Indonesia khususnya diri sendiri.

Dalam kesempatan ini, BI Papua memperkenalkan kewenangan BI kepada seluruh peserta, yaitu mengeluarkan alat pembayaran yang sah dari suatu negara, merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, menjaga stabilitas sistem keuangan, menjalankan fungsi sebagai “sistem of lander”.

Kristina, (20 Tahun) mahasiswa Uncen semester VI jurusan Fisika Program studi Teknik Geofisika menyebut, acara ini sangat membantu bagi dirinya, salah satunya untuk merencanakan keuangan.

“Biar kita tau cara menyimpan uang dan menjadi pengusaha. Karena ada rasa tertarik mengenai kewirausahan, sehingga kami ikuti dan ini sangat menarik dan akan mempratekan dalam kehidupan demi meningkatkan perekonomian yang bukan saja jadi PNS,” ujar Kristina. *** (Ramah)

Orientasi saya bersekolah untuk jadi pintar, bukan untuk jadi kaya

Ini jawaban yang sring kita dengar atas pertanyaan dalam judul tulisan ini. Akan tetapi kita harus bertanya lagi, “menjadi pintar untuk apa?” atau “Apa kegunaannya menjadi pintar?” Alasannya jelas, karena dengan kepintarannya saya bisa mencari jalan untuk menjadi kaya.

Saya terhentak saat saya baca buku Robert Kiyosaki pada tahun 2013, waktu itu saya dikirim oleh KSU Baliem Arabica, menghadiri sebuah worskhop tentang Sertifikasi Produk di salah satu hotel termewah di Kuala Lumpur. Kebanyakan peserta ialah pengusaha kelapa sawit, dan semua peserta berasal dari Malaysia. Satu orang ber-paspor Indonesia adalah saya,dan ditambah lagi saya bukan pengusaha kelapa sawit tetapi pengusaha Kopi.

Setelah tiga hari saya-pun kembali ke Jakarta. Dan saat saya di airport sesuatu menarik perhatian saya, sebuah buku brejudul “Rich Dad Poor Dad”. Saya sebagai seorang ayah, dan saya juga punya ayah. jadi sayapun bertanya, “Apakah saya orang kaya, atau apakah ayah saya orang kaya, atau sebaliknya?” Saya tidak pernah menyangka buku itu berisi pelajaran yang nantinya me-reset paradigma berpikir saya tentang bisnis dan entrepreneurship.

Saya beli buku itu, dan terus membacanya sementara menunggu di Airport. Saya masih ingat banyak orang waktu itu menonton saya. saya baca dan baca dan baca, habis 30 halaman pada saat saya tunggu pesawat. Saya board ke pesawat. Terus di pesawat saya baca dan baca lagi. Sampai habis 40 halaman di dalam pesawat. Waktu penerbangan hanya 2 jam.

Setelah sampai di Jakarta, saya bertanya-tanya dalam hati. Ada banyak teman-teman saya, bahkan anak-anak saya sekolahkan mulai dari TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi. Saya mulai hitung jumlah uang yang dikeluarkan untuk menyekolahkan satu orang anak mulai dari TK sampai SMA saja sudah hampir milyaran rupiah. Biaya yang kita keluarkan untuk sekolah anak dari TK sampai SMA saja sudah hampir mendekati Rp50.000.000,- (terbilang: Limapuluh Juta Rupiah). Ini baru biaya-biaya dasar. Belum termasuk biaya OSIS, biaya BP3, biaya tambahan, beli sepatu, beli seragam, dan sebagainya. Bayangkan saja kalau punya anak dua atau tiga orang.

Setelah di perguruan tinggi, biayanya bisa menyamai dan bahkan melebihi keseluruhan biaya dari TK sampai SMA karena kia harus mengirim anak ke tempat kuliah, yang tidak tersdia di tempat kita berada.

Secara kasar untuk satu orang anak mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi kita habiskan modal Rp.500.000.000,- (terbilang: Limaratus Juta Rupiah). Itu pengeluaran kasar.

Nah, kalau saya mulai putar otak dan menghitung modal penyekolahan anak ini dari kacamata Robert Kiyosaki, yaitu paradigma berpikir entrepreneur, maka saya harus menghitung berapa uang kembali, atau balik modal dari modal sekian itu.

Pada saat kita menghitung juga harus kita pikirkan modal waktu, modal tenaga, dan modal uang yang kita keluarkan untuk menyekolahkan seorang anak sampai menjadi sarjana.

Setelah itu kia perlu hitung dengan dasar pemikiran entrepreneur, yaitu hitungan untung-rugi.

Maka saya sendiri menyesal, mengapa saya pernah ke sekolah? Sedangkan apa saja yang saya pelajari di sekolah sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya sekarang sebagai pedagang kopi dan pengusaha toko Online dari Tanah Papua.

Yang menjadi masalah di sini bukannya sekolah atau tidak, tetapi tujuan kita sekolah yang menjadi masalah.

Kebanyakan orang Papua hari ini bersekolah untuk menjadi politisi, menjadi Pegawai Negeri, menjadi karyawan. Saya belum temukan satupun siswa atau mahasiswa Papua yang bercita-cita merintis usaha sebagai kelanjutan dari sekolahnya. Padahal semua orang tahu bahwa bersekolah untuk kemudian bekerja bagi orang lain sama saja dengan bohong dari sisi ekonomi. Modal sekian ratus juta itu apakah bisa dikembalikan dengan pekerjaan kita sebagai pegawai negeri atau menjadi karyawan? Ini yang tidak dipertanyakan orang Papua. Maklum saja mayoritas orang Papua baru saja keluar dari zaman batu ke zaman pascamodern. Saya salah satu contoh paling tepat dan paling jelas. Itulah sebabnya saya sampaikan catatan ini. Semoga ada nilai positifnya.

RABU, 10 OKTOBER 2012 , 08:25:00 WIB, LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

RMOL. Kementerian Koperasi dan UKM melalui Deputi Menteri bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Pemerintah Kota Sorong menggelar pelatihan Pemasyarakatan Kewirausahaan.

Pelatihan kewirausahaan dititik beratkan untuk Sarjana. Sedangkan pelatihan sendiri dilaksanakan di Gedung Samu Siret, Komplek Walikota, Sorong, Papua Barat, Rabu (10/10).

Deputi Pengembangan SDM, Prakoso BS, menyatakan sasaran dari pelatihan yaitu menumbuhkan semangat dan jiwa kewirausahaan di kalangan sarjana, mendorong sarjana percaya diri, selalu ingin maju, mampu melihat peluang dan segera memanfaatkannya, selalu ingin berprestasi, kreatif, inovatif, mandiri, pantang menyerah dan berani mengambil resiko.

“Melalui penyelenggaraan acara Pemasyarakatan Kewirausahaan, membuktikan bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Pemerintah Kota Sorong sangat fokus dan telah secara nyata menunjukan kepedulian serta komitmen yang besar dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan kewirausahaan di kalangan masyarakat khususnya sarjana,” katanya.

Menurut Prakoso untuk mendukung berkembangnya UMKM di Indonesia dan upaya menumbuhkan wirausaha dari kalangan sarjana, Kemenkop dan UKM, telah melaksanakan program dan kegiatan pada tahun 2011 serta dilanjutkan pada tahun 2012.

Program tersebut anatara lain, Pelaksanaan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) di Pusat, Pelatihan Nasional Kewirausahaan di Pusat dan Daerah secara serentak, Sosialisasi Kewirausahaan di Provinsi seluruh Indonesia, Expo Kewirausahaan, Expo Pendidikan dan Pelatihan, Program Magang di berbagai Perusahaan;

Untuk itu, kata dia, pengembangan Kewirausahaan dari kalangan sarjana, diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan lingkungannya, yang pelaksanaannya berkoordinasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha dan dunia pendidikan, untuk menumbuhkan dan mengembangkan kewirausahaan. [dzk]

Skip to toolbar