Fakta Unik Soal Jeff Bezos Yang Perlu Anda Tahu

AyoPreneur – Jeff Bezos, pendiri dan CEO Amazon, telah menjadi subjek berita utama di seluruh dunia baru-baru ini, baik di berita tentang keberhasilan dirinya memimpin Amazon menuju masa keemasan, maupun berita yang mengkritik tajam budaya kerja yang dia buat di Amazon.

Jeff Bezos, pendiri dan CEO Amazon
Jeff Bezos, pendiri dan CEO Amazon

Namun, pada saat yang sama, banyak orang yang juga mengagumi kecerdikannya dan layanan pelanggan berkualitas tinggi yang disajikan Amazon, serta dedikasi Bezos kepada anak-anaknya dan istrinya, MacKenzie.

Apakah pencapaiannya lebih besar daripada kritik terhadapnya? Berikut ini 5 (lima) fakta yang perlu diketahui tentang CEO Amazon, seperti dikutip dari Heavy.

1. Bermula dari Garasi Kecil

Pada usia 31 tahun, Bezos memulai Amazon dari sebuah garasi kecil di Bellevue, Seattle dengan bantuan istri dan satu orang karyawan, Shel Kaphan. Awalnya dia menamai bisnisnya “Cadabra,” tetapi ketika seorang pengacara salah mendengar nama itu menjadi “Cadaver” yang berarti “bangkai”, dan kemudian ia memutuskan untuk mengubahnya menjadi Amazon.

Ia memilih Amazon karena berharap gagasan Amazon sebagai sungai terbesar di dunia itu mencerminkan perusahaannya yang suatu hari akan tumbuh menjadi penjual buku terbesar di dunia.

2. Keluarga

Bezos saat ini masih ada dalam ikatan pernikahan dengan wanita yang sama, ketika ia merintis Amazon. Wanita itu bernama MacKenzie Bezos. Bersama-sama, mereka memiliki empat orang anak: tiga orang anak laki-laki dan satu orang anak gadis yang diadopsi dari Tiongkok.

Mereka menikmati kegiatan keluarga pada umumnya, seperti pergi untuk melihat film Mission Impossible 5. Uniknya, MacKenzie juga menulis novel dan Jeff akan menghabiskan sepanjang hari untuk membaca naskahnya, sekaligus menawarkan ide-ide dan pikirannya.

Bezos sebenarnya adalah nama keluarga dari orangtua adopsinya, Miguel Bezos, seorang engineer perminyakan di Exxon, dan Jackie Bezos. Jeff diadopsi oleh mereka saat berusia empat tahun. Ayah biologis Jeff, Ted Jorgensen, berusia 19 tahun saat Jeff lahir dan meninggalkannya saat Jeff berusia 3 tahun.

Jorgensen memiliki toko sepeda di Glendale, Arizona. Sebelumnya, Ted telah mengizinkan Jackie dan Miguel untuk mengadopsi Jeff dan dari waktu ke waktu, Ted lupa nama belakang Jeff yang baru. Ketika Ted mengetahui bahwa Jeff Bezos adalah putranya, ia bahkan tidak tahu apa itu Amazon karena ia tidak menggunakan komputer.

3. Terus Berinovasi

Sosok yang inovatif dan pandai melihat peluang, mungkin layak disematkan kepada Jeff Bezos. Bagaiamana tidak, Amazon Inggris baru-baru ini menandatangani kesepakatan dengan trio Top Gear: Jeremy Clarkson, Richard Hammond, dan James May. Ketiganya menjadi tuan rumah pameran mobil di gelaran Amazon Prime 2016. Baginya, kemitraan adalah hal yang menggembirakan.

Bezos juga percaya bahwa pesawat tak berawak (drone) suatu hari akan menjadi hal umum, seperti halnya kita melihat sebuah truk pengangkut surat.

Perlu diingat, Jeff tidak hanya berinovasi melalui Amazon karena Jeff juga memiliki perusahaan luar angkasa bernama Blue Origin. Perusahaan ini meluncurkan roket pertamanya di tahun ini dan sudah mendaftar untuk penerbangan antariksa.

4. Orang Terkaya ke-15 di Dunia

Menurut Forbes, Jeff merupakan orang terkaya ke-15 di dunia, dengan nilai kekayaan sebesar US$ 47,2 juta pada usia 51 tahun. Sementara di jajaran perusahaan teknologi, ia merupakan orang terkaya ke-3, setelah Bill Gates dan Larry Ellison.

Sejumlah properti miliknya, antara lain properti di depan danau di Seattle, peternakan jagung di West Texas, area seluas tiga blok di Seattle, apartemen Century Tower di Manhattan, properti Medina di Washington, dan rumah senilai US$ 24,5 juta di Beverly Hills.

5. Budaya Kerja yang Dibuatnya Mengundang Kritik

Baru-baru ini Amazon mendapat banyak kritik tajam terkait budaya kerja. Dalam sebuah surat kepada pemegang saham pada 1997, Jeff menulis, “Anda dapat bekerja dalam waktu lama, bekerja keras, atau bekerja secara cerdas, tetapi di Amazon.com Anda tidak dapat memilih dua dari ketiganya.”

Potongan pada kalimat di surat tersebut jelas menyatakan bahwa budaya kerja di perusahaan yang didirikan pada 5 Juli 1994 ini memang keras. Pada 2011, di luar gudang Amazon ditemukan ambulans yang menunggu untuk mengangkut karyawan Amazon yang meninggal karena bekerja di ruangan bersuhu sangat panas.

Kemudian, Amazon juga dikenal dengan pergantian pekerjanya yang tinggi. Sejumlah karyawan diberikan 50 sampai 60 halaman yang berisi data dan hanya beberapa hari kemudian mereka akan ditanyai tentang ribuan angka dari data tersebut. Karena itu, banyak karyawan menjalani hari mereka tanpa tidur supaya bisa mengerjakannya.

Di samping itu, sebuah alat umpan balik (feedback) memungkinkan para karyawan di Amazon untuk berkompetisi dan melihat peringkat satu sama lain. Imbasnya, mereka yang ada di peringkat terendah setiap tahunnya tidak lagi bekerja di Amazon.

Hal ini menciptakan tensi kompetisi yang serius dan `gila`. Selain itu, hal yang juga patut disayangkan dari Amazon, para karyawan melaporkan bahwa mereka tidak memiliki kelonggaran apapun, jika kerabat atau mereka sendiri menderita penyakit serius, meskipun kinerja mereka sangat kuat. (bn)

Mama Yetta jualan pernak-pernik unik

Mama Yetta dan dagangan pernak-perniknya – Jubi/Yance

Sentani, Jubi Demi memenuhi kebutuhan hidup, Mama Yetta Masoka berjualan pernak-pernik berbentuk buah pinang. Ia terus menekuni usahanya itu sejak 2009 sampai sekarang.

“Saya sudah berjualan ini sejak 2009. Pokoknya saya keliling di atas kapal sampai ke pasar hingga sekarang. Pernak-pernik ini juga tidak sembarang untuk digunakan, sebab ini bagian dari budaya, kalo mama kami dari Serui itu pake pinang,” kata Yetta, kepada Jubi, Senin, (26/6/2017).

Yetta menjelaskan, bahan-bahan yang digunakan dipilih yang berkualitas agar tidak mudah busuk atau hancur.

“Saya pake bahan dari buah pohon bitanggur, salah satu pohon yang ada di pinggir pante itu. Saya bawa dan amplas, setelah itu saya pakai cat semprot pylox, lalu dikasih lem yang dicampur ampas serbuk,” terangnya.

Sepintas hiasan atau pernak-pernik itu terlihat mudah untuk membuatnya, namun Mama Yetta mengatakan untuk membuatnya susah-susah gampang.

“Aduh, kalau mau kerja ini susah. Saya kerja sendiri bisa sampai 200 buah. Untuk mewarnai saja butuh empat macam warna dari hijau, kuning, putih dan pembungkus warna itu. Butuh empat sampai enam hari baru siap dipasarkan,” katanya.

Ia melanjutkan, pernak-pernik yang sudah jadi, ia jual dengan harga bervariasi sesuai ukuran barang.

“Barang jadi ada seperti anting, tempat kapur, jepit rambut dan hiasan lainnya. Kalau anting-anting saya hargai 50 ribu, jepit-jepit kepala juga 50 ribu. Kalau sudah di tempat ramai saya turunkan harga. Sementara di tempat jualan di Kapalitu 70-80 ribu per buah, tapi kalung ini dijual 100 ribu,” ucapnya.

Salah seorang pembeli mengatakan, pernak-pernik buah pinang ini memang unik dan banyak orang yang tertarik.

“Pernak-pernik ini unik sekali, apa lagi ada anting, kalung dan lain-lain. Saya lihat saat proses pembuatan dan saya tertarik,” ujar Ermince.

Enam Syarat yang Harus Dimiliki Sebelum Memulai Bisnis

Saat ini banyak orang ingin memiliki usaha sendiri, bahkan para karyawan kantor maupun pekerja PNS pun tak sedikit yang memiliki usaha sampingan yang dikelola sendiri. Namun tidak semua orang dapat mewujudkannya, banyak yang belum memiliki keberanian untuk memulainya.

Berbagai macam alasan kenapa belum bisa atau belum berani memulaibisnis sendiri, mulai dari belum memiliki modal sampai belum punya keberanian memulai wirausaha.

selain harus memiliki keberanian untuk memulai tetapi juga perlu perhitungan yang matang untuk meminimalkan kesalahan.  Berikut tips bagaimana cara memulai wirausaha:

1. Keberanian

Seorang yang berjiwa enterpeneur harus memiliki keberanian. Keberanian memulai , keberanian mengambil dan menghadapi resiko dalam wirausaha. Jika anda belum cukup berani untuk memulai usaha sementara keinginan untuk berwirausaha sudah ada, Anda dapat melakukan kerjasama dengan rekan atau sodara untuk memulainya hal ini akan menambah keyakinan dan keberanian berwirausaha.

2. Planning

Wirausaha apa yang akan Anda jalankan? Menjual produk atau jasa? Semua itu harus di rencanakan, bagaimana Anda memulai, hal apa yang harus dipersiapkan, bagaimana Anda akan menjalankan usaha tersebut, dan lain sebagainya. Semua itu harus di rencanakan untuk menghindari atau meminimalkan kesalahan dan kerugian yang timbul. Sebaiknya Anda menuliskan setiap rencana yang akan dilakukan.

3. Memiliki Pengetahuan

Memulai wirausaha tidak semata mengandalkan keberanian memulai tetapi juga harus memiliki pengetahuan mengenai usaha yang akan dijalankan. Jika hal tersebut belum dimiliki maka hendaklah segera mempelajarinya. Tidak harus memiliki pengetahuan sempurna untuk memulai wirausaha, Anda dapat belajar sambil menjalankan wirausaha yang Anda jalani.

4. Optimis

Dalam wirausaha, Optimis diperlukan untuk menumbuhkan semangat dan keberanian. Dengan memiliki optimis yang tinggi, akan menghasilkan keputusuan keputusan  positif yang diambil ketika menjalankan wirausaha. Prilaku optimis dapat mendorong hasil yang optimal terhadap usaha yang Anda jalani.

5. Kerja keras

Merintis atau memualai wirausaha memang tidaklah mudah, banyak yang harus dipersipakan dan dilakukan untuk memajukan usaha yang dijalani. Semangat dan kerja keras dalam membangun wirausaha sangat dibutuhkan karena bagaimanapun tidak ada kesuksesan tanpa usaha dan kerja keras.

6. Doa

Jangan merasa diri hebat atas semua yang telah diusahakan. Biar bagaimanapun manusia butuh akan pertolongan Allah Ta’ala, seteleha semua daya dan upaya di kerahkan maka saatnya menyerahkan semua hasil usaha anda kepada sang pencipta harena Dial ah sang Maha Penentu.(vaa)

Source: http://www.ayopreneur.com/

Produk olahan rumput laut Sarawandori butuh dorongan

Jayapura, Jubi Ross Wondiwoi, ketua Kelompok 2 Wamayakawa mengungkapkan,  produk makanan olahan tradisional dari rumput laut yang berasal dari kelompoknya yaitu stick, mie, dodol, agar-agar, bakso, dan manisan masih terkendala dengan pemasaran dan uluran bantuan permodalan.

“Diakui kami masih terbentur dengan pemasaran yang masih jauh dari kata mencukupi, setiap minggu kami hanya berproduksi 20 kg dengan bahan baku yang cukup mahal, didapatkan dengan harga Rp30 ribu per kg rumput laut, ” ujarnya.

Meski begitu, usaha yang didirikannya bersama 10 anggota dapat berjalan secara tradisional dengan banyak produknya dibawa ke Jakarta, Aceh, bahkan Belanda.

“Kita masih butuh tempat kerja bagi anggota, ini sangat penting,” ujarnya.

Ia berharap agar ada uluran bantuan dari pemerintah atau pihak swasta, dalam hal ini perbankan untuk bisa membantu kelancaran permodalan usaha bersama.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Papua Joko Supratikto menanggapi hal tersebut. BI, katanya, akan mencoba melakukan program pelatihan pencatatan usaha mikro usaha kecil dalam pembinaan transaksi keuangan yang memadai.

“Ini jadi informasi bagi saya, tim Kordinasi BUMN dan BUMD yang akan saya sampaikan atas potensi dari rumput laut yang ada, dengan pelatihan ini akan ada perbankan yang tertarik, sebab biasanya proses produksi itu banyak, tetapi menjaga pemasaran sangat sulit,” ujarnya.

Ia juga akan mencoba mereplikasikan program yang pernah berhasil dalam pembinaan dan pembudidayaan rumput laut yang pernah dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia lainnya untuk dibawa ke Papua. (*)

Yanto Gombo, pelukis muda Papua yang memulai dari hobi

Yanto Gombo dengan lukisan realisnya di kampus ISBI Papua, Senin (1/5/2017). Tiga lukisan di depan ditawar oleh pembeli dari luar Papua –Jubi/ Agus Pabika.
Yanto Gombo dengan lukisan realisnya di kampus ISBI Papua, Senin (1/5/2017). Tiga lukisan di depan ditawar oleh pembeli dari luar Papua –Jubi/ Agus Pabika.

Jayapura, Jubi – Melukis hobi yang jarang dimiliki orang. Hanya yang memiliki bakat yang dapat menghasilkan karya-karya yang menarik minat banyak orang dan hasil karyanya juga dapat bernilai ekonomi tinggi.

Yanto Gombo, mahasiswa ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Tanah Papua kelahiran 1996 ini mampu membuat lukisan potret dan natural mirip aslinya melalu berbagai media, baik kertas, kanvas, kulit kayu, sketsa di komputer, tripleks, dan tembok bangunan rumah atau gedung.

Bakat melukis yang dimiliki Yanto sudah mengalir sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

“Sewaktu SD saya sudah melukis, biasanya jika tidak ada guru dalam kelas kita baku lomba gambar dengan teman-teman, bikin gambar siapa punya yang bagus, karena sering gambar di kelas akhirnya terbawa sampai sekarang,”

tutur Yanto saat ditemui Jubi di kampusnya, di Jayapura, Kamis, (4/5/2017).

Di dunia seni lukis, kata Yanto, ada bermacam aliran, di antaranya realis atau gambar menyerupai atau mirip, ekspresif, dan naturalis atau kelihatan mirip.

Sehari-hari, karena sudah mulai dikenal sebagai pelukis, Yanto sering menerima pesanan untuk mengambar di beberapa tempat di Kota Jayapura dan Wamena.

“Biasanya saya diminta melukis di TK di Sentani, untuk hotel dan gereja, umumnya untuk lukisan berukuran 3×4 meter hingga 4×4 meter, itu paling lama pengerjaan empat bulan, tergantung ukuran gambar dan kualitas gambar yang diinginkan konsumen,”

katanya.

Ia mencontohkan untuk gambar pensil dan kanvas hanya perlu waktu hitungan menit dan jam.

Dalam melukis, kata Yanto, kesulitannya hanyalah harus sabar. Namun jenis lukisan yang paling sulit menurutnya adalah melukis sketsa anatomi. Sebab harus menyesuaikan dengan pencahayaan warna untuk mendapatkan hasil yang bagus.

Sementara, Thedi Pekei berharap anak-anak Papua yang memiliki skil dan talenta seperti Yanto dapat didukung pemerintah dengan memberikan mereka ruang dan kesempatan untuk tampil di berbagai kegiatan.

“Mereka yang memiliki skil seperti ini jarang diakomodir oleh pemerintah dan besar harapan mereka dapat dirangkul semua baik di bidang seni, budaya, dan lukis dalam melestarikan budaya lokal Papua,” ujarnya.

Setelah Komunitas Papuansphoto mempromosikan Yanto Gombo, beberapa tawaran erdatangan dari berbagai daerah di indonesia. Ada yang ingin membeli lukisannya dan ada juga yang ingin dilukis wajahnya. (*)

Pasal pertama buku Dale Carnegie berjudul “How to Win Friends and Influence People” ini berbicara diberi judul, “1. If you want to gather Honey, don’t Kick Over the Beehive“, artinya kalau mau ambil madunya, janganlah tendang sarang madunya.

Dalam Bab 1 ini saya belajar, sekaligus saya ditegur dengan keras, bahwa untuk membangun kebersamaan dalam sebuah usaha, atau dalam sebuah organisasi, kita harus, dan kita wajib menghindari, meninggalkan, melupakan, dan tidak menyebutkan, tidak memikirkan dan tidak mengolah berbagai hal yang kita anggap sebagai kelemahan, kekurangan, kelalaian, kesalahan dari orang-orang yang terlibat dalam organisasi atau usaha kita.

Dalam budaya Suku-Suku Koteka, kita sudah terbiasa, sejak nenek-moyang, berpikir selalu dan berangkat dari berpikir tentang dan berbicara tentang kekurangan, kelemahan, kesalahan, kekeliruan, yang dilakukan sesama kita. Sama sekali tidak pernah ada pujian-pujian yang keluar dari mulut orang-orang koteka, dalam rangka apapun. Kita bisa berhitung, sebagai orang Koteka, berapa kali kita memuji teman, kerabat, adik-kakak, orang tua, anak-anak, tetangga kita. Kita akan dengan malu mendapati bahwa kita tidak pernah memuji siapapun, selain memuji diri sendiri.

Dale Carnegie menyarankan kepada kita, agar dalam organisasi modern, di mana banyak orang terlibat, banyak suku-bangsa terlibat, masih ada satu aspek penting dari setiap insan, dan manusia, tidak perduli dari manapun kita berasal, yaitu aspek: ingin di-apreaiasi, ingin diucapkan ‘terimakasih’, ingin diberi dorongan, bukan kritikan, bukan keluhan, bukan teguran.

Setelah membaca pasal ini, pada tanggal 08 April 2017, saya telah memutuskan, untuk berhenti total, mengkritik, menunjuk jari, menyebutkan, mengulas, memikirkan, semua yang saya anggap sebagai kekurangan, kesalahan, kekeliruan, yang dilakukan oleh semua pihak yang ada dalam usaha pengembangan KSU Baliem Arabica, dalam PAPUAmart.com Group Companies.

Dengan ini saya mengundang semua pihak, baik yang ada di PAPUAmart.com, KSU Baliem Arabica, Gudang Produksi Baliem Blue Coffee dan semua kantor distribusi di Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta, untuk saling bekerjasama, saling mendukung, saling memberikan dorongan dan pujian, bukan sebaliknya.

Biarlah Tuhan sebagai sumber berkat dan inspirasi, memberi kita perlindungan dan kekuatan, untuk melangkah semakin maju, semakin menjadi kaya, sampia kepada titik optimal.

Mari kita selalu memikirkan, menguraikan, membicarakan, mendoakan dan saling memberikan dorongan dari sisi apa kelebihan kita, apa kekuatan kita, apa kebolehan kita, apa yang telah kita lakukan, dan apa yang dapat kita lakukan, untuk mencapai kejayaan ekonomi Tanah Papua, untuk menjadi kayaraya, sama seperti kesuksesan banyak orang di dunia, seperti Donald Trump, Aburizal Bakrie, Tanri Abeng, Jusuf Kalla, Chaerul Tanjung, Surya Paloh, Bob Sadono dan lain-lain.

 

 

Jhon Kwano, PAPUAmart.com

Fundamental Principle 1: Don’t Criticize, Condemn or Complain

Dulu terpuruk, kini jadi pengusaha sukses

Ayub Wuka menunjukan produksi pertamanya hasil pembakaran batu bata merah – Jubi/Islami
Ayub Wuka menunjukan produksi pertamanya hasil pembakaran batu bata merah – Jubi/Islami

Wamena, Jubi  Ia pernah ditipu hingga mencapai Rp 1,8 miliar sewaktu merintis usaha pembuatan batu bata merah hingga usahanya terpuruk. Namun ia tetap optimistis dan bangkit kembali hingga sukses.

Pengalaman ini terpatri di sanubari pria berusia 37 tahun asal Kampung Ninabua, Distrik Asolokabl, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Ayub Wuka.

Ungkapan “pengalaman adalah guru yang paling berharga” membuatnya tetap bertahan dan menjalankan usaha bata merah.
Awalnya ia punya mimpi untuk menjadi pengusaha di kampung halamannya. Namun mimpi itu kandas di ongkos. Tak ada biaya untuk memulainya.

Niat itu sepertinya menarik Yayasan Oikonomos Papua dan menyokong Ayub untuk berusaha, mandiri dan berdikari.

“Waktu itu saya ditawarkan oleh Yayasan Oikonomos untuk membuka usaha batu bata. Lalu saya tanya soal dana dan yayasan siap membantu. Hanya bermodalkan lahan milik saya, akhirnya yayasan meminjamkan modal 30 juta rupiah,” katanya kepada Jubi awal pekan ini di Wamena.

Ia bercerita, modal sebesar Rp 30 juta digunakannya untuk membuat tempat penggilingan dan pembakaran batu bata kecil-kecilan pada Desember 2008.

Uang sebesar ini juga digunakannya untuk menggaji karyawannya. Namun ketika itu, pembuatan batu bata dilakukan secara manual.

“Sejak Desember 2008 itu sudah mulai produksi cukup banyak. Namun pemasukan belum sebanding dengan pengeluaran. Lalu Yayasan Oikonomos memberi pinjaman lagi 75 juta rupiah dan modal awal yang 30 juta telah dikembalikan ke yayasan,” ujarnya.

Dari pinjaman kedua sebesar 75 juta ditambah tabungan pribadi menjadikan pria ini bertekad membeli mesin pencetak batu bata merah di pulau Jawa seharga belasan juta.

Gayung bersambut. Alat itu pun tiba beberapa waktu kemudian. Batu bata merah siap dicetak. Lokasinya di sekitar kawasan Megapura, Jayawijaya.

Namun kondisi tanah tak cocok menggunakan mesin. Kemudian diputuskan membuat bata secara manual.

“Akhirnya, kita cari teman untuk bekerja sama lalu dapatlah lokasi di Pikhe. Tanahnya cocok dicetak dengan mesin untuk membuat batu bata merah,” katanya sambil menunjuk undakan bata yang hanya sepelempar batu saja jaraknya.

Meski demikian, ia tak memegang uang hasil cetakan bata di Pikhe. Itu ditangani oknum dari Yayasan Oikonomos.

“Padahal sesuai aturan yayasan tidak seperti itu. Bahwa binaan mereka harus yang mengelola keuangan dari usaha mereka masing-masing,” ujarnya.

Waktu terus berjalan. Usaha pun terus berlanjut. Tiba suatu ketika dana hasil usaha bata yang dimulai tahun 2008 – 2011 diambil alih oleh salah satu pekerja yayasan tanpa sepengatuan pimpinan.

“Jadi, selama 2008 hingga 2011 saya usaha batu bata merah ini tidak pernah pegang uang. Hanya pegang uang gaji karyawan dan dana operasional saja,” ujarnya sambil melihat-lihat ke langit Wamena yang membiru.

Ia menuding sistem keuangan di yayasan ini tidak jelas. Bahkan rentang waktu tiga tahun itu dirinya merugi sekira Rp 1,8 miliar.

Setelah mengetahui ketidakberesan di yayasan, Ayub harus kembali lagi ke titil nol. Ada rasa tak berdaya. Bercampur was-was. Batin pun terus bergejolak. Apakah mau melanjutkan usahanya atau berhenti saja saat aset ditarik pihak yayasan?

“Waktu itu kami sempat duduk bersama dengan pimpinan Yayasan Oikonomos. Namun kenyataannya uang keuntungan bersih saya dari hasil usaha tidak juga dikembalikan, sehingga berjalannya waktu mesin cetak batu ditarik oleh yayasan dan bangunan pabrik di Pikhe pun diambil oleh pemilik tanah,” ujar pria yang memiliki satu anak ini.

Singkat cerita, setelah 2011 hingga 2014 ia harus memulai dari nol. Ayub hanya kerja di kebun sambil merintis usahanya kembali.

Tahun 2015 ia mendapat pekerjaan paket bangunan di kampungnya. Lantas tahun 2016 ia memulai lagi usaha batu batanya dari hasil pekerjaan ini.

“Bahkan dari itu pula saya bisa membeli alat cetak dan potong batu bata yang baru. Selain dari tabungan dari hasil pekerjaan bangunan itu, saya juga dibantu oleh adik saya yang berprofesi seorang TNI untuk membantu meminjamkan modal membangun kembali usaha batu bata merah di kampung,” katanya.

Bulan Desember tahun lalu, ia memulai usaha serupa pada lahan miliknya seluas 100×50 meter. Dibantu delapan pekerja, ia memproduksi bata dua kali seminggu, karena tempat ini terlalu kecil untuk menampung batu yang telah dicetak.

“Kita sekali produksi kurang lebih 6.000 batu dan dalam sebulan berhasil memproduksi sekitar 15.000 buah batu. Untuk bahan bakunya sendiri saya mengambil tanah di lahan belakang pabrik yang juga masih milik saya,” ucap pria kelahiran 8 Maret 1980 ini.

Ayub pun menjelaskan, harga jual batu per biji Rp 4.000, dan banyak permintaan dari konsumen. Permintaan bata yang begitu besar tak sepenuhnya bisa dilayaninya sebab tempat terlalu kecil.

“Dalam sistem jual beli selama ini konsumen yang butuh batu datang langsung memesan. Namun rata-rata konsumen yang datang untuk keperluan membangun rumah, bahkan ada juga pesanan dari pemerintah daerah untuk bangun kantor,” katanya.

Ia mengaku selama merintis dan menjalankan usaha ini murni usaha pribadi. Pemerintah setempat seolah buang muka. Namun perlahan tapi pasti, pemerintah daerah sepertinya memberikan sinyal positif untuk membantu usaha anak asli Jayawijaya ini.

Hingga kini Ayub Wuka merasa belum bisa menjelaskan keuntungan dari hasil penjualannya, karena awal Maret baru dilakukan pembakaran. Lalu pada Selasa, 14 Maret 2017, batu dibakar dan dijual lagi.

“Sebenarnya tidak terpikirkan dapat membangun usaha batu bata ini. Berrkat pengalaman saya membuat batu bata merah dan ada peluang, saya melanjutkan usaha ini,” katanya.

“Pelajaran masa lalu memang sempat menyakitkan hati saya, karena boleh dibilang saya jatuh bukan karena gulung tikar tetapi karena kasus penipuan, tetapi hal itu yang membuat saya harus bangkit lagi,” kata pria bekas didikan perguruan tinggi Yayasan Pendidikan Islam (Yapis) Wamena ini.

Usahanya ini mampu membiayai istri dan semata wayangnya serta delapan karyawan yang membantunya.

Wayus Asso, seorang karyawan Ayub mengakui sudah bekerja di pabrik batu bata milik Ayub sejak awal dan hingga tempat baru ini berdiri. Saban hari Wayus membantu Ayub mencetak bata merah. Ia senang karena dapat membantu “bosnya” ini.

“Pastinya keluarga saya juga terbantu dengan pekerjaan saya ini, karena saya rasa kita juga bisa membuka wirausaha sendiri di tanah sendiri,” kata Wayus. (*)

Siapa nggak kenal Toyota? Salah satu raksasa otomotif terkemuka di dunia. Bahkan, di pasar mobil Indonesia, Toyota adalah market leader. Penjualannya melebihi perusahaan-perusahaan mobil lainnya, baik yang sama-sama berasal dari Jepang, maupun dari Amerika dan Eropa.

Apa yang dicapai Toyota saat ini, tentunya bukan hasil kerja semalam. Toyota membangun perusahaannya selama hampir seratus tahun dan selalu memegang prinsip-prinsip bisnis mereka dengan teguh. Salah satu prinsip bisnis Toyota yang cukup terkenal adalah Kaizen. Apa sih itu? Konon inilah rahasia kesaktian perusahaan ini menjaga kualitas produknya dari masa ke masa.

Perbaikan Tiada Henti

Kaizen, adalah prinsip yang memiliki peranan sangat kuat dalam membuat Toyota hingga menjadi perusahaan terkemuka seperti saat ini. Kaizen berarti perbaikan tiada henti (continuous improvement). Teruslah berkembang dan berinovasi untuk menjadi lebih baik.

Kaizen, berasal dari bahasa Jepang yang berarti perbaikan tiada henti [image source]

Bagi perusahaan mobil yang dipimpin Akio Toyoda itu, ‘jika semua berjalan lancar, itu berarti ada masalah besar yang tersembunyi karena mereka tidak dapat belajar lebih dalam’. Mereka memang melihat kekurangan atau error bukan sebagai hal yang buruk, melainkan sebagai peluang untuk belajar. Dari situ, Toyota mengoreksi kekurangan tersebut ketimbang menyalahkan sumber daya manusianya, dan membagikan pengetahuan mengenai penyebab dan solusi dari kekurangan tersebut ke semua pihak. Dengan begitu, mereka dapat memiliki data baru untuk berinovasi dan melatih karyawan

Yuichi Okamoto, mantan wakil presiden Toyota Technical Center memberikan jawaban atas pertanyaan apa rahasia kesuksesan Toyota dalam sistem pengembangan produk. Ia menjawab bahwa teknik yang mereka gunakan cukup canggih, yaitu bertanya ‘mengapa’ sebanyak lima kali. ‘Canggih’ di sini adalah sarkasme. Jadi maksud sebenarnya adalah Toyota tidak memiliki teknik yang rumit untuk mengembangkan produk mereka. Apa yang mereka lakukan sangat sederhana, namun efektif.

Bertanya ‘Mengapa’ Sebanyak Lima Kali

Toyota meyakini bahwa masalah yang sebenarnya terletak pada ‘akar masalah’ dan bukannya ‘sumber’. Akar masalah bersembunyi di balik sumber. Untuk mencari akar masalah, perlu dipertanyakan apa yang menyebabkan sumber masalah itu. Karena itulah Toyota melakukan teknik bertanya ‘mengapa’ sebanyak lima kali untuk menemukan akar masalah.

Taichii Ohno, pencetus teknik ‘five why’ [image source]

Misalnya terdapat sebuah kasus yaitu adanya minyak yang berceceran di lantai toko. Kita tanyakan ‘mengapa terdapat minyak yang berceceran di lantai toko?’. Dari pertanyaan tersebut muncul jawaban ‘karena mesin mengeluarkan tetesan minyak’. Jawaban dari pertanyaan pertama ini akan menimbulkan pertanyaan ‘mengapa mesin mengeluarkan tetesan minyak?’ yang kemudian dijawab ‘karena gasketnya memburuk’. Jawaban dari pertanyaan kedua ini pun akan menimbulkan pertanyaan ‘mengapa gasketnya memburuk?’ Begitu seterusnya hingga kemudian ditemkan jawaban bahwa bagian keuangan memiliki target penghematan dalam jangka waktu pendek. Jawab terakhir ini adalah akar masalah yang harus diselesaikan. Pemecahan masalah hingga ke akarnya ini membuat Toyota mampu memecahkan masalah dengan cepat dan segera memperbaikinya.

Keberhasilan Toyota Yaris

Kaizen, bukan hanya dapat menyelesaikan masalah, namun juga mengembangkan hal-hal detail serta mengembangkan sebuah produk. Saat Toyota belum banyak dikenal di Eropa, seseorang sempat menanyakan mengapa desain mobil Toyota sangat jelek. Toyota kemudian menyadari bahwa itu adalah masalah yang dihadapinya untuk masuk ke pasar Eropa. Pada saat itu, mobil-mobil Toyota didesain untuk memenuhi keinginan masyarakat Jepang yang kemudian diimpor ke luar negeri.

Yaris generasi pertama yang membuat Toyota sukses di Eropa [image source]

Setelah menemukan akar masalah dari kurang pesatnya penjualan Toyota di Eropa, mereka merekrut desainer dari barat untuk menyesuaikan style mobil yang disukai oleh pasar Eropa. Sotiris Kovos, seorang desainer Yunani direkrut untuk menciptakan desain mobil Yaris. Terbukti, dengan desain tersebut, mobil Toyota Yaris laris di pasar Eropa bahkan meningkatkan market share Toyota di sana yang semula 3% menjadi 4.4%. Saat Toyota Yaris diimpor ke Jepang, masyarakat Jepang pun menyukainya karena tampilannya yang sangat ‘Eropa’.

Mencari akar masalah, menemukan penyelesaian yang tepat, dan belajar terus menerus membuat Toyota mampu berinovasi dan menyesuaikan produknya dengan selera masyarakat lokal. Inilah yang kemudian mengantarkan Toyota menjadi salah perusahaan mobil terkuat di dunia.

Metode ini sebenarnya sangat bisa digunakan untuk berbagai bidang, bahkan pada semua orang. Asalkan kita punya kemauan untuk belajar dan terus berinovasi, kesuksesan ala Toyota ini bisa dicontoh dan diterapkan dalam hidup sehari-hari.

Tak sarjana, tapi bisa mengubah dunia.

bombastis – Selama ini banyak anggapan yang kita dengar bahwa untuk meraih sukses seseorang harus memiliki gelar sarjana, kuliah di tempat bagus, kalau bisa di luar negeri bahkan hingga S2 dan S3. Kita dididik dan dibesarkan dalam lingkungan masyarakat yang masih ‘mendewakan’ pendidikan. Makanya, ketika kita dapat nilai jelek di sekolah meski masih kelas 1 SD, kita bakal diomelin, dimarahin. Karena orangtua kita takut kita nggak naik kelas atau nggak lulus, susah dapat kerja lalu jadi orang yang gagal. Seperti itulah kebanyakan pemikiran setiap orang.

Tapi sekarang saatnya kita mengubah pandangan itu. Bukannya pendidikan nggak penting lagi, hanya saja udah banyak orang yang jadi saksi hidup, bahwa kesuksesan nggak hanya tergantung dari bangku kuliah. Kamu bisa tetap sukses meski hanya lulus SMA atau bahkan nggak kuliah. Nggak percaya? Coba baca dulu kisah orang-orang sukses di dunia berikut ini.

Steven Spielberg

Steven Spielberg [Image Source]

Namanya santer terdengar di dunia perfilman. Ya, kamu yang hobinya nonton pasti tau siapa Steven Spielberg. Dia adalah sutradara kenamaan jebolan Universal Studios. Orang yang ada di balik layar film-film seperti Jaws, Jurassic Park, dan Schindler’s List. Siapa sangka dia ternyata nggak sampai lulus kuliah, udah di-DO. Gara-garanya ‘bakat’ dia terendus oleh Universal Studios. Dia lalu dikontrak selama 7 tahun. Padahal waktu itu dia masih kuliah di California State University. Kekayaannya kini mencapai Rp 46.8 triliun.

Mark Zuckerberg

Mark Zuckerberg [Image Source]

Mark juga di-DO dari kuliahnya di Harvard University. Gara-gara dia terlalu asyik ngebangun facebook. Ya, rasanya semua orang yang kita kenal memiliki akun facebook. Sejak kecil Mark emang sudah jatuh cinta sama dunia teknologi. Dia suka membuat perangkat lunak dan permainan komputer. Hingga SMA dan kuliah bakatnya semakin terasah dan terciptalah facebook. Berkat facebook, Mark kini memiliki kekayaan yang mencapai angka Rp 452.4 triliun!

Ralph Lauren

Ralph Lauren [Image Source]

Salah satu desainer terbesar di dunia fashion adalah Ralph Lauren. Kamu pun bisa menemukan produk-produknya di Indonesia. Sejak kecil dia ingin jadi milyuner dan waktu kuliah dia sudah bisa punya uang sendiri dengan jualan dasi. Awalnya, dia kuliah bisnis di Baruch College tapi dia keluar karena ingin jadi tentara. Tapi ternyata, dia juga belum menemukan passion-nya saat kuliah tentara. Dia keluar lagi dan kerja di perusahaan produsen dasi. Di sana pun ternyata tidak berjalan lancar. Desainnya tidak pernah diterima oleh perusahaan. Ralph pun keluar dan mendesain pakaian sendiri. Berdirilah Ralph Lauren Corporation dengan kekayaan yang dia miliki mencapai Rp 92.3 triliun.

Jack Dorsey

Jack Dorsey [Image Source]

Kalau tadi ada pendiri facebook, sekarang adalah pendiri Twitter. Kisahnya hampir sama dengan Mark. Sejak kecil Jack senang dengan dunia komputer dan coding. Kabarnya di usia yang masih terbilang sangat muda dulu, Jack sudah menciptakan software yang banyak dipakai perusahaan taksi Amerika. Dia juga dikeluarkan dari kampus karena terlalu asyik membangun Twitter. Dia sempat kuliah 2 kali yang pertama di Missouri University of Science and Technology lalu pindah ke New York University. Dari Twitter, Jack meraup keuntungan sebesar Rp 32.5 triliun.

Bill Gates

Bill Gates [Image Source]

Bill Gates tercatat sebagai orang terkaya di dunia. Kekayaannya mencapai Rp 1.045,2 triliun. Bayangin kalau punya duit sebanyak itu, bisa menghidupi sampai sebelas turunan mungkin belum habis. Dialah pendiri Microsoft. Sejak muda memang dia tertarik dengan dunia programming. Lalu dia bertemu seorang murid bernama Paul Allen yang menjadi rekannya dalam mendirikan Microsoft. Mereka banyak menghabiskan waktu untuk melakukan coding. Gates sempat kuliah di Harvard University tapi dia dikeluarkan begitu pula dengan Paul yang waktu itu kuliah di Washington State University. Gara-garanya tentu saja terlalu asyik mendirikan Microsoft.

Menarik ya kisah para pengusaha sukses di atas? Meski pendidikan bukan yang paling utama, tetap syukuri kalau kamu bisa sekolah hingga jenjang yang tinggi. Tapi jika tidak, kamu bisa buktikan dan terus ingat bahwa terkadang sikap serta kerja keraslah yang mampu mengubah keadaan kita. Jangan salahkan siapa pun jika keadaanmu tidak berubah tapi mulailah mengubah cara pandangmu terhadap diri sendiri.

Miskin dan tidak punya skill, tapi berkat tekad si Magic Man mampu mengubah mustahil menjadi bisa terjadi.

Sosoknya mulai populer di kalangan pebisnis sejak tercatat sebagai salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Tertulis sebagai banker ternama di majalah dunia, Mochtar Riady akrab dengan julukan The Magic Man. Julukan ini dilabelkan padanya karena kepiawaiannya dalam menyelamatkan beberapa bank di ujung kebankrutan.

Sampai pada level saat ini bukanlah perkara mudah baginya. Mulai dari impian yang ditentang sang ayah hingga bekerja di toko kecil pernah dialami oleh pendiri Lippo Group ini. Seperti apa sosok  Riady hingga menjadi tokoh yang sukses mengembangkan bisnisnya hingga mancanegara? Berikut ini fakta-faktanya.

Impian Mochtar Riady Kecil yang Ditentang

Merupakan anak transmigran (1918) dari daerah Fujian China, ayah Mochtar adalah pedagang batik bernama Liapi. Sedangkan ibunya Sibelau, meninggal saat pria kelahiran 12 Mei 1929 ini baru berusia 9 tahun. Masa kecil Riady tak ubahnya seperti anak lainnya. Tiap hari saat berangkat sekolah, ia melewati kantor Nederlandsche Handels Bank (NBH). Kagum akan penampilan para pegawai bank, Riady kecil lantas mengutarakan bahwa kelak ingin menjadi bankir.

Mochtar Riady [image: source]

Sayangnya, kehidupan keluarga yang amat miskin membuat sang ayah tidak mendukung mimpinya itu. Menurut sang ayah, pegawai bank selalu berasal dari keluarga kaya. Dan saat ini, Riady membuktikan bahwa anggapan itu salah telak.

Dipenjara Hingga Dibuang oleh Belanda

Sejak usia muda, Riady terlihat sebagai sosok pemberani. Buktinya, ia tak segan-segan menentang pembentukan Negara Indonesia Timur yang dilakukan Belanda pada tahun 1947. Sepak terjangnya itu membuat Riady harus mendekam di penjara Lowokwaru Malang. Tak hanya itu, Belanda juga membuang Riady ke negara asalnya China.

Keberhasilan Riady [image: source]

Tak menyia-nyiakan kesempatan, di China Riady mengambil kuliah filosofi di Universitas Nangking. Di tahun 1950 Riady sempat tinggal di Hongkong sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.

Perjalanan Panjang untuk Menjadi Bankir

Awal karirnya dimulai sejak menikah pada tahun 1951 dengan gadis Jember bernama Suryawati Lidya. Saat itu ayah dari empat anak ini diberi tanggung jawab untuk mengurus toko kecil sang mertua. Tak kurang dari 3 tahun, toko itu berkembang menjadi toko terbesar di Kota Jember dengan sentuhannya. Meski begitu ia tak puas dan masih ingin menjadi bankir.

Keluarga Lippo Group [image: source]

Akhirnya pada tahun 1954 Riady hijrah ke Jakarta dan bekerja di sebuah CV selama enam bulan. Setelahnya ia pun bekerja pada seorang importer sekaligus berbisnis kapal kecil dengan temannya. Setiap bertemu dengan relasi kerjanya, Riady tak lupa menceritakan impiannya sebagai bankir. Kemudian seorang temannya menawari pekerjaan tersebut, dan tentu Riady tak menolak.

Menyelamatkan Beberapa Bank Dari Ancaman Kebangkrutan

Riady memulai karirnya dengan modal kepercayaan. Kala itu, bank pertama tempatnya bekerja adalah Bank Kemakmuran. Ia datang dalam kondisi bank bermasalah. Sayangnya waktu itu Riady tak mengerti apapun tentang akuntansi dan pekerjaan bank. Karena dipercaya sebagai direktur bank, maka Riady mulai belajar dari awal. Hebatnya, di bawah kepemimpinan Riady, dalam setahun Bank Kemakmuran maju pesat.

Mendapat penghargaan lifetime achievement awards [image: source]

Setelah sukses di Bank Kemakmuran, Riady pindah ke Bank Buana yang juga sedang bermasalah. Riady diberi kepercayaan untuk membenahinya, dengan kebijakan baru yang ia terapkan, Bank Buana pun bisa bertahan bahkan mencapai kondisi keuangan yang sehat. Setelah itu Riady kembali pindah ke Bank Panin, dan kemudian pindah ke Bank BCA.  Tugasnya di BCA adalah untuk melakukan pembenahan. Di tangan Riady, bank BCA mengalami peningkatan asset dan nasabah yang sangat signifikan. Kiprahnya ini membuat Riady dijuluki Magic Man of Bank Marketing.

Mendirikan Lippo Group

Lippo Group berawal dari Riady yang membeli sebagian saham Bank Perniagaan Indonesia (BPI). Setelah itu, aset bank tersebut melonjak naik hingga 1.500 persen. Di tahun 1989, bank ini merger dengan Bank Umum Asia dan berganti nama menjadi Lippobank (cikal bakal Lippo Group). Di tahun 1990, Mochtar memutuskan keluar dari BCA dan fokus pada Lippo.

Lippo Group memberikan bantuan dana pendidikan [image: source]

Kini, Lippo Group memiliki 50 lebih anak perusahaan. Jumlah karyawannya pun lebih dari 50 ribu orang. Selain di Indonesia, Lippo juga tersebar di kawasan Asia Pasifik seperti Hong Kong, Guang Zhou, Fujian, dan Shanghai.

Kunci Sukses Ala Chairman Lippo

Filosofi di balik kesuksesan Mochtar Riady dalam mengembangkan bank adalah Lie Yi Lian Dje. Lie berarti ramah, Yi merupakan karakter yang baik, Lian adalah kejujuran dan Dje artinya memiliki rasa malu.

Mochtar Riady [image: source]

Filosofi dan pandangan Riady yang cepat membaca dan menyikapi situasi pasar membuatnya dikagumi banyak orang. Setelah pensiun dari dunia bisnis, Riady kini fokus untuk membangun rumah sakit dan juga menulis beberapa buku.

Kisah hidup Mochtar Riady dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa, manusia tidak boleh menyerah atau minder meski lahir di keluarga miskin. Bahwa, impian harus diwujudkan dengan kerja keras dan pantang menyerah.

Skip to toolbar