Jayapura bakal lindungi pelaku entrepreneur asli Papua

ejumlah pedagang pinang asli Papua, Jubi/hengky
ejumlah pedagang pinang asli Papua, Jubi/hengky

Jayapura, Jubi Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, berjanji melindungi entrepreneur atau pelaku  usaha asli warga Papua. Perlindungan bagi mereka yang mulai menjual sagu dan pinang hingga tingkat usaha lebih besar.

“Kami fokuskan menempatkan orang asli Papua sesuai dengan skill dan kemampuannya,” kata Tomi Mano kepada wartawan, Senin (8/1/2018).

Ia menyebutkan yang berhak menjual sagu dan pinag di pasar adalah orang asli Papua, mereka bakal menjadi fokus pada pemberdayaan dan kesejahterahan orang asli Papua dalam  segala bidang.

“Untuk itu saya minta kepada semua Organisasi Perangkat daerah untuk harus fokus untuk membina orang asli Papua,” katanya.

Menurut dia selama ini banyak orang Papua yang sukses di segala bidang termasuk tata dekorasi asal Serui, sedangkan dari dunia usaha dikembangkan di hotel dan rumah makan. “Harus orang asli Papau itu tema kerja kita pemberdayaan orang asli apua ini menjadi fokus kita ditahun ini,” katanya.

Tokoh Pemuda Port Numbay Fileph Ireew mengatakan, kebijakan walikota sangat tepat dan membantu orang papua dalam melakoni usaha ekonomi mikro. “Saya sebagai tokoh muda Orang Asli Anak Port Numbay mendukung kebijakan wali kota untuk proteksi orang asli Papua,” katanya.

Ia berharap kebijakan itu tak hanya dilakukan di jayapura, namun juga  di 26 kabupaten mengkuti apa yang dilakukan Wali Kota Jayapura. “Karena itu bentuk proteksi yang daimanahkan Otsus,” katanya. (*)

Jayapura, Jubi – Penjualan makanan lokal Papua seperti Sagu di pasar baru Youtefa masih di dominasi oleh para pedagang Non Papua. Hal ini terlihat dengan banyaknya para penjual dari Non Papua jika dibandingan dengan penjual sagu dari Orang Asli Papua (OAP).

Misalnya ibu Suriani (56) penjual sagu di pasar ikan Youtefa, mengaku sudah 20 tahun menjalankan usahanya.

“Saya sudah lama jualan sagu. Dulu di pasar lama, setelah pasar terbakar saya pindah dan lanjutkan jualan lagi di pasar Youtefa sampai sekarang,” katanya saat ditemui Jubi di Pasar Youtefa, Kamis (25/8/2016)

Lanjutnya, sagu biasanya ia peroleh dari Sentani dalam bentuk tumang. Tumang adalah kemasan besar sagu yang menggunakan daun sagu dengan ukuran berat sekitar 30 kilogram.

Suriani menjelaskan, sagu lalu ia bagi menjadi ukuran kecil untuk dijual eceran.

“Satu tumang sagu harganya Rp500 ribu. Biasanya dari satu tumang sagu bisa dibagi menjadi 400 tumpuk. Saya jual dengan harga Rp10-20 ribu per tumpuk,” jelasnya.

Ibu asal Makassar ini mengaku dalam sehari mampu menjual satu tumang sagu.

Sementara itu Helena Aud, penjual sagu asli Papua di pasar Youtefa mengaku tidak setiap hari menjual sagu. Ia menjual sagu jika ada kiriman sagu dari keluarga dari Yalimo dan Sentani.

Dari pantauan Jubi di pasar baru Youtefa, Kamis (24/8/2016), penjual sagu didomimasi oleh warga Non Papua ketimbang Orang Asli Papua dengan jumlah perbandingan 9 pedagang non Papua dan 4 pedagang OAP. (*)

Skip to toolbar