Pemkab Mimika diminta mengusulkan peraturan daerah perlindungan pengusaha Papua

Jayapura, Jubi – Pemerintah Kabupaten Mimika diminta mengusulkan peraturan daerah untuk melindungi pengusaha lokal. Peraturan daerah itu diharapkan memudahkan pengusaha asli Papua untuk mendapatkan pinjaman modal. Permintaan itu disampaikan Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua atau KAPP Musa Haluk di sela pelantikan pengurus KAPP Kabupaten Mimika, Jumat (10/5/2019).

Haluk menyatakan pengusaha lokal harus dilindungi, agar bisa mengembangkan usahanya. “Untuk melindungi mereka, kami harapkan pemerintah Kabupaten Mimika mengusulan peraturan daerah yang mengangkat harkat dan martabat pengusaha lokal. Permintaan kami, harus ada regulasi lokal di Kabupaten Mimika yang bisa melindungi pengusaha Papua, dan memberi akses pengusaha Papua mendapatkan modal,” katanya kepada Jubi, melalui sambungan selulernya, Jumat.

Haluk mengatakan jika peraturan daerah (perda) itu telah ada, KAPP siap untuk menjadi mitra pemerindah daerah dalam membina pengusaha Papua. “Kami siap dan optimis bermitra (dengan pemerintah daerah), demi kemandirian orang asli Papua terlebih khusus pengusaha Papua,” katanya.

Sementara itu tokoh pemuda Kabupaten Mimika Anakletus Alomang mengatakan, pentingnya regulasi yang khusus bagi pengusaha lokal. “Dalam perda tersebut harus diatur mengenai ekonomi mikro sampai ekonomi makro, berikut tata niaga terhadap barang produksi pengusaha Papua,”katanya.

Alomang mengatakan, pemerintah wajib melindungi pengusaha Papua, agar bisa berkembang dan bersaing dengan para pengusaha dari luar Papua. “Saya usul agar sebelum Pekan Olahraga Nasional 2020, perda itu bisa disahkan,” katanya.

Editor: Aryo Wisanggeni G

“Merry Yoweni  Klaim Masih Ketua KAPP

JAYAPURA,- Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) kini memiliki pimpinan atau nahkoda baru periode 2018-2023.

Perahu KAPP untuk lima tahun kedepan akan dipimpin oleh Musa Haluk. Pelantikan yang berlangsung di Gedung Negara Dok V Jayapura, 26 Februari 2019, dipimpin langsung oleh Sekda Papua, Herry Dosinaen.

Musa Haluk kepada wartawan usai pelantikan mengatakan, siap membawa perahu pengusaha asli Papua mulai dari kepala burung sampai di ekor. Karena meskipun secara pemerintahan terpisah, tetapi secara ekonomi tidak terpisah.

“KAPP merupakan anak dari dewan adat Papua. Untuk itu, perahu ini saya siap kemudikan sampai di pelosok-pelosok kampung,” tegasnya.

Ia tekankan, KAPP merupakan jembatan bagi pengusaha asli Papua, sehingga kepengurusan kali ini siap mengakomodir seluruh pengusaha asli Papua, dengan mengusung visi misi membangun mulai dari dusun dan menata pembangunan dari kampung.

“Hari ini kami tidak akan menjawab apa yang kami kalukan, tetapi kami siap bawa perahu ke kampung untuk apa yang kita harus kerja dan apa yang harus diberikan bagi negeri ini,” ucapnya.

Musa Haluk juga mengajak seluruh pengurus untuk menyatukan tekad membangun dan menyiapkan orang asli Papua menjadi pengusaha Papua yang sukses, mandiri dan siap membantu sesama orang Papua agar hidup makmur, aman dan adil.

“Orang Papua harus benar-benar merasakan menjadi tuan di atas tanahnya sendiri,” kata Musa Haluk.

Sementara itu, Sekda Papua Hery Dosinaen dalam sambutannya, mengajak pemerintah Provinsi Papua Barat bersama-sama dengan Provinsi Papua membangun OAP (Orang Asli Papua) yang hidup dan berusaha diatas tanah ini.

Menurut Sekda, dukungan Pemerintah Papua Barat sangat penting, sebab kesejahteraan wajib diraih masyarakat kepala dan ekor “burung cenderawasih”.

 “Kami mohon dukungan saudara Papua Barat untuk sama-sama bersatu seiring dan sejalan serta satu pikiran maupun satu langkah dan tujuan, guna membangun ekonomi kita dari kepala dan ekor burung,” terangnya.

Menurut ia, pentingnya keterlibatan Pemprov Papua Barat, sebab kelahiran serta pemberlakuan UU Otsus bagi tanah ini, tak lepas dari perjuangan semua masyarakat yang hidup diatas negeri ini.

Dilain pihak, sejak awal kepemimpinan Gubernur Papua Lukas Enembe, memprogramkan upaya untuk membawa Kota Jayapura menjadi pintu gerbang perekonoiman bagi saudara yang hidup di wilayah pacific, seperti Papua Nugini.

Perjuangan itu, tambahnya, tak berjalan mulus bahkan ada kesan mendapat hambatan dan tantangan, sebab Provinsi Papua lebih dipandang dan didominasi dari aspek politik.

 “Makanya, dengan diberikannya dukungan dari Presiden Joko Widodo untuk kita Papua membangun infrastruktur guna mendukung perdagangan ke wilayah pacific seolah memberikan angin segar bagi tanah ini”.
 

“Untuk itu, pemerintahan Lukas Enembe atas perintah Presiden kemarin kita melaksanakan pameran industri di Port Moresby. Bahkan kami menjalin kerja sama dengan para gubernur di Papua Nugini untuk fokusnya bagaimana Papua Kota Port Numbay jadi pintu gerbang perekonomian negara pasifik. Tentunya harus ada akses yang signifikan baik, udara, laut dan darat. Disinilah kita butuh dukungan semua pihak tak terkecuali provinsi tetangga Papua Barat,”

pungkasnya.

Dihubungi terpisah, Merry Yoweni yang mengaku masih sebagai Ketua KAPP dan didukung hampir seluruh ketua-ketua organisasi pengusaha adat di kabupaten dan kota, cukup terkejut dengan pelantikan itu.

Sebab dirinya bersama pengurus KAPP dibawahnya juga dilantik oleh Gubernur Papua Lukas Enembe.

“Kita sayangkan pelantikan ini sebab mestinya pemerintah provinsi bertindak sebagai mediator bukan sebagai pemecah belah. Ini tanda-tanda susahnya membangun ekonomi Papua dengan sistem seperti ini”.


Ia katakan, heran dengan sikap gubernur yang sebelumnya menginstruksikan agar kisruh kelembagaan KAPP, dikembalikan kepada mekanisme organisasi, justru melantik Musa Haluk. 

“Artinya Gubernur tidak konsisten dengan apa yang diucapkan ke publik. Bahkan pada 20 Februari 2019 lalu saya bertemu dengan Asisten Bidang Pemerintahan Doren Wakerkwa dan beliau meminta untuk menghubungi pendiri atau orang netral untuk memediasi kami. Tapi ternyata sudah ada pelantikan,”

keluhnya.

Source: https://www.pasificpos.com/

Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua, Musa Haluk Himbau Masyarakat Dukung Program 5 Pemimpin Tabi

Jayapura — Kamar Adat Pengusaha Papua, (KAPP) mengajak semua warga negara yang ada di wilayah adat Tabi, untuk menghormati dan mendukung pembangunan di wilayah Adat Tabi.

Ketua KAP Papua Musa Haluk mengatakan, sebagai sesama anak bangsa yang ada dan hidup di Tanah Tabi siapapun dia harus mendukung pembangunan di Wilayah Tabi yang telah di sepakati oleh 4 Bupati dan satu wali kota belum lama ini.

“Kita yang hidup di Tanah ini milik orang tabi, maka kita harus mendukung penuh hasil pertemuan bupati seluruh wilayah Tabi untuk merajut spirit Metu Debi,” katanya di Jayapura, Senin, (14/1).

Ia mengatakan komitmen empat bupati dan satu wali kota pemimpin Tabi yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi, dan Mamberamo Raya, untuk menyukseskan PON dan pembangunan harus didukung.

“Semua warga negara yang ada di wilayah tanah Tabi untuk menghargai hak- hak kesulungan orang Tabi diatas tanah leluhurnya. Serta mendukung penuh hasil pertemuan Kepala Daerah Wilayah Tabi di Sentani waktu lalu, yang memnicarakan diantaranya membangun Tanah Tabi dalam segala bidang pembangunan di wilayah adat tanah Tabi dan mendukung pelaksanaan PON 2020 di Papua,” katanya.

Musa Haluk juga menekanakan dalam proses pembangunan dibutuhkan pengusaha – pengusaha anak Tabi untuk bisa bersaing secara sehat membangun Tanah Tabi.

“Harus ada anak – anak asli pengusaha Tabi mendukung program Bupati dan Wali Kota se Wilayah Tabi dan kami KAPP siap membekap, harapan kami pengusaha adat asli Tabi khususnya dan Papua umumnya mendapatkan tempat dalam pembangunan maka pemerinta harus memberdayahkan anak -anak Tabi dalam pembangunan,” ujarnya. (Lihat ini: Orang asli Jayapura Tinggal 4%, Sisanya 96% adalah non-Asli Jayapura) Copyright ©Ninawene “sumber” Hubungi kami di E-Mail ✉: tabloid.wani@gmail.com

Sumber: Tabloid WANI

KAPP Papua Barat benahi internal organisasi

Manokwari, Jubi – Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) provinsi Papua Barat  mulai membenahi internal kepengurusan untuk melanjutkan visi dan misi organisasi. KAPP Papua Barat berkomitmen membantu Pemerintah Papua Barat di semua bidang pembangunan terutama pelibatan kontraktor asli Papua.

Ketua KAPP di Papua Barat, Boy  Barasano mengatakan pleno perbaikan struktur yang dilakukan juga untuk menyambut instruksi Gubernur Papua Barat. Menurutnya, setelah pembenahan organisasi, KAPP Papua Barat secara aturan akan melapor ke Bappeda untuk turut ambil bagian dalam setiap kegiatan pekerjaan di Provinsi maupun di kabupaten/kota.

“Kami benahi dulu struktur di KAPP ditingkat Provinsi, selanjutnya segera dilakukan pendataan sekaligus penyiapan KAPP di kabupaten/kota se Papua Barat,” ujar Baransano kepada Jubi di Manokwari, Selasa (29/1/2019).

Dia menjelaskan tujuan perombakan struktur, selain untuk menjawab kebutuhan organisasi,  juga untuk menjawab kebutuhan dari masyarakat asli Papua yang terlibat langsung dalam dunia kontraktor modern.  KAPP Papua Barat, lanjut Baransano, tidak terikat dengan program afirmasi (kebijakan) Gubernur soal penunjukan langsung paket pekerjaan kepada kontraktor OAP.

“KAPP di tanah Papua kita satu. Untuk KAPP di Papua Barat, kami tidak terlalu terikat atau berharap dengan program penunjukkan langsung oleh Gubernur. KAPP Papua Barat akan lebih siap untuk bersaing di tingkat lelang baik di Provinsi maupun  tingkat kementerian untuk melihat peluang disana,” katanya.

Senada dengan itu, wakil ketua II  bidang kontraktor KAPP Papua Barat, Novie Marani menambahkan,  perbaikan struktur KAPP Papua Barat ini sekaligus untuk menghapus stigma Pemerintah atau kelompok tertentu yang selama ini memandang KAPP sebagai organisasi yang biasa-biasa saja.

“Tapi sebenarnya, level KAPP sejajar dengan KADIN dan kedepan KADIN akan menjadi anggota luar biasa KAPP,” ujar Marani

Dikatakan Marani, tahun ini KAPP Papua Barat siap mendukung Pemprov Papua Barat dan balai kementerian wilayah  Papua Barat dalam mensukseskan pekerjaan yang disiapkan di tahun anggaran 2019.

“Kami punya data hasil MoU KAPP dengan pemerintah yang disepakati sejak tahun 2003.  Data ini menjadi dasar untuk KAPP turut partisipasi dalam kegiatan pembangunan di Papua Barat. Melalui ini kami minta Pemerintah serius  bina pengusaha OAP agar tidak terus tertinggal, Jadi untuk itulah KAPP Papua Barat juga berbenah ke arah lebih siap,” ujarnya. (*)

Pendiri Kamar Adat Pengusaha Papua tuding KLB II ilegal

Jayapura, Jubi – Satu diantara pendiri Kamar Adat Pengusaha (KAP) Papua, Ferdinand Okoseray  menilai kegiatan Konferensi Luar Biasa (KLB) II yang digagas oleh tim 7 pada 11-13 Desember 2018 ilegal. Ini karena konferensi tersebut tidak memenuhi aturan organisasi AD/ART.

Kata dia, yang seharusnya mengadakan konferensi adalah mereka (panitia) yang di bentuk oleh ketua umum atau badan pengurus pusat Kamar Adat Pengusaha Papua (KAP).

“Seluruh ketua-ketua kebanyakan peserta konferensi itu sendiri belum memenuhi persyaratan sebagai anggota KAP, karena mereka semua itu belum melaksanakan tugasnya sesuai dengan SK yang diberikan yaitu melaksanakan konferensi di kabupaten/kota masing-masing, sehingga mereka tidak punya hak sebagai peserta dalam rapat atau konferensi untuk memutuskan sesuatu,” kata Ferdinand, Minggu (16/12/2018).

Ferdinand Okoseray  juga memprotes Pemerintah yang tanpa melakukan penelusuruan langsung mengizinkan konferensi digelar. Harusnya pemerintah melakukan kajian sebelum menyetujui proposal yang diajukan.

“Pembinaan itu tidak jalan, seolah-olah hanya menghabiskan dana di akhir tahun 2018 dan bagi-bagi uang saja. Dan teman-teman lain yang masuk ini yang sebenarnya tidak tahu asal mana langsung masuk pagar KAP dan ikut konferensi tanpa ikut prosedur organisasi,” katanya.

Pendiri KAP menilai konferensi kali ini terkesan dipaksakan dan sarat akan kepentingan segelintir orang. Untuk itulah ia menilai konferensi ini ilegal dan tak sah.

“Jadi konferensi di BLK dok 9 kemarin itu ilegal dengan syarat dan kepentingan orang lain, bukan kepentingan pengusaha asli Papua itu sendiri atau bukan untuk memberdayakan atau memperkuat organisasi KAP ke depan,” katanya.

Ke depan, kata Ferdi, harus ada pertemuan konsulidasi terhadap anggota yang terlibat dalam konferensi luar biasa tersebut dan duduk bersama untuk memperbaiki kebijakan-kebijakan atau struktur organisasi di KAP.

“Teman-teman yang kemarin itu harus sadar terutama tim tujuh sebagai pengguna dana Rp55 Miliar kalau perlu mereka semua harus duduk bersama-sama dan bikin laporan pertanggung jawaban terkait pengunaan uang selama ini dan sejauh mana perkembangan usaha mereka, bikin apa saja di tempat mereka kalau tidak polisi pegang saja karena itu merugikan gubernur dan tidak pakai uang sesuai proposal yang mereka ajukan,”

tegasnya.

Sebelumnya Konferensi Luar Biasa (KLB) II Kamar Adat Pengusaha (KAP) Papua yang berlangsung selama tiga hari mulai tanggal 11-13 Desember 2018 secara resmi menetapkan Musa Haluk sebagai ketua baru Dewan Pengurus Pusat KAP-Papua periode 2018-2023.

“Dengan kepengurusan baru, kami akan kasih menyala api yang selama ini padam dan kami berkomitmen membawa KAP lebih baik lagi seperti masa kejayaan Alm. Jhon Haluk,” kata Musa Haluk kepada wartawan. (*)

Upaya KAP Papua membangkitkan ekonomi OAP

RATUSAN pedagang memadati halaman kantor Gubernur Papua. Mereka datang memenuhi undangan Kamar Adat Pengusaha (KAP) Papua untuk mengikuti pameran akbar yang digelar KAP-Papua dengan tema “Kebangkitan Ekonomi Rakyat Orang Asli Papua”.

Kegiatan tersebut berlangsung 27-28 November 2018. Sejumlah mama-mama penjual noken ikut ambil bagian bersama pengusaha OAP di bidang aksesoris khas Papua, sanggar kulit kayu, pengusaha cafe kopi, salon, toko, dan perbengkelan.

Markus Kabes, pemilik bengkel mobil Rehobot, ketika wawancarai Jubi, mengatakan kegiatan “Kebangkitan Ekonomi Rakyat Orang Asli Papua” sangat penting dan positif.

“Ajang ini diadakan supaya kita bisa tahu bahwa kita sedang berjalan menuju ke arah yang kebangkitan ekonomi orang Papua, di sini kita juga bisa tahu dan bisa mengukur kemampuan ekonomi OAP sudah sampai di mana,” kata Max.

Sekarang, lanjutnya, baru merasakan masing-masing punya ilmu yang dikembangkan bisa menjadi nilai tersendiri untuk dapat dijual. Kegiatan tersebut juga bertujuan memperbaiki taraf hidup orang asli Papua ke arah yang lebih bagus dan lebih mandiri agar bisa menyejahterakan keluarga.

“Gerakan ini dapat memotivasi kita untuk bersaing dengan saudara non Papua, karena saat ini kita tidak bisa duduk saja dan menonton usaha mereka, tapi mari kita bangkit di bidang ekonomi,” kata Max, yang sudah menjalankan usaha bengkelnya selama 9 tahun di jalan SPG Taruna Bakti Waena Kota Jayapura.

Max mengaku baru pertama kali bergabung dengan kegiatan KAP-Papua dan diberi kesempatan untuk pameran.

Max mengusulkan agar pemerintah melalui KAP bisa memberikan bantuan kepada mereka yang serius dalam menjalankan usaha. Sebab bantuan untuk mereka yang menekuni usaha bertahun-tahun tidak pernah disalurkan dana dan jarang diperhatikan. Ini perlu agar mereka yang menekuni usaha bertahun-tahun tidak kecewa.

“Yang menjadi kendala dalam menjalankan usaha adalah modal, usaha tanpa modal tidak akan berjalan dan tidak akan berkembang,” katanya.

Ia berharap pengurus KAP-Papua ke depan dapat bekerja bagus dan jujur kepada masyarakat dan bersikap transparan kepada semua pedagang dan pengusaha OAP. Terlebih soal dana dari pemerintah yang diberikan sesuai dengan kamampuan dan besar-kecil jenis usaha yang mereka tekuni, serta apa yang mereka butuhkan. Sebab hal itu akan membantu orang asli Papua untuk bangkit, mandiri, dan sejahtera.

“Harapan kami kepada KAP-Papua, karena pihak bank selama ini tidak bisa membantu dalam hal memberikan pinjaman modal dan KAP-Papua sebagai perpanjangan tangan pemerintah harus bekerja maksimal untuk merangkul semua pedagang dan pengusaha orang asli Papua,” katanya.

Ketua Kamar Adat Pengusaha (KAP) Papua Merry Yoweni ketika ditemui Jubi di kantornya, mengatakan kegiatan pameran akbar merupakan sejarah pertama kali yang dibuat KAP-Papua sejak  berdiri 2006-2013 hingga akhirnya KAP-Papua diakui pemerintahan Guberur Papua Lukas Enembe.

“Pemerintah mengesahkan KAP-Papua hingga saat ini dengan eksekusi bantuan bentuk hibah kepada semua pengusaha asli Papua lebih dari 7 ribu rekening dan ini pertama kali dilakukan pameran setelah 7 September 2017 kami melakukan deklarasi kebangkitan ekonomi orang asli Papua,” kata Merry.

Pada 2017 sekitar 20-an asosiasi lokal mengakui KAP-Papua sebagai organisasi induk pengusaha Papua. Itu dilakukan untuk memenuhi persyarakatan memproses Pergub No. 45 tahun 2017 tentang Kamar Adat Pengusaha Papua.

“Dalam pameran ini kami ingin menyampaikan kepada pemerintah bahwa animo masyarakat tentang dunia usaha naik meskipun ada image negatif yang terbangun di luar, baik media sosial maupun media massa dan kehadiran kemarin menunjukkan ekonomi sangat penting dalam kehidupan kami,” katanya.

Ia menambahkan pameran kemarin hanya sebagai momen untuk menunjukkan kepada pemerintah bahwa anak-anak muda Papua juga bisa.

“Ini akan menyadarkan agar tanah kami ini menjadi sorotan banyak dunia, kesadaran ini menjadi roh kebangkitan orang Papua ke depan,” katanya.

Ia menyebutkan KAP-Papua sudah menampung lebih 10 ribu pengusaha, namun yang menjadi masalah pengurus adalah KAP-Papua tidak memiliki dana operasional setiap tahun sehingga untuk memastikan dan memvalidasi data menjadi terkendala. Padahal itu penting untuk antisipasi agar tidak muncul proposal saja.

“Asosiasi-asosiasi KAP-Papua sudah terbentuk di kabupaten dan kota, namun masih memiliki kelemahan yaitu ketua dan pengurus belum bisa menjalankan 90 persen organisasi, karena terkendala bekerja sama dengan pemerintahan setempat,” katanya.

Ia menambahkan mereka yang sudah mendapatkan modal bantuan 3 tahun ini kurang lebih total Rp 55 miliar. Dana tersebut didistribusikan langsung Pemprov Papua ke setiap OAP. Total 7 ribuan rekening pengusaha.

“Prosesnya dana tidak diberikan kepada KAP-Papua, tetapi KAP-Papua menyiapkan semua data lalu memasukan ke keuangan, dikirim lagi ke Biro Hukum untuk dibuatkan SK Gubernur sehingga SK Gubernur itu menjadi dasar untuk disalurkan ke masyarakat melalui rekening masing-masing, secara kelembagaan KAP-Papua aman dan ini sistem yang baik untuk terus dijalankan,” katanya.

Kata Merry, kehadiran KAP-Papua ke depan diharapkan mengeksekusi tiga persen dana Otsus untuk ekonomi orang asli Papua. Ekonomi ini yang selama ini mandeg dan KAP-Papua ada pada posisi tersebut untuk merangkul semua pengusaha Papua. (*)

Sumber: TablidJubi

KAP Papua akan gelar pameran sebagai langkah evaluasi

Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP), Merry Yoweni
Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP), Merry Yoweni

Jayapura, Jubi – Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP), Merry Yoweni mengatakan, pihaknya akan menggelar pameran dalam waktu dekat. Lokasi pameran direncanakan di halaman Kantor Gubernur Papua, Jalan Soa Siu, Dok II, Kota Jayapura.

“Itu untuk mengevaluasi tiga tahun dukungan pemerintah provinsi kepada KAPP. Meski dana terbatas, namun dapat menjangkau ribuan orang. Mungkin dari ribuan orang itu ada yang sukses dan mereka ini yang akan dipersiapkan. Kami tunjukkan ke pemprov kalau kami bisa,” kata Merry Yoweni kepada Jubi, Kamis (27/9/2018).

Hanya saja, pihaknya belum dapat memastikan kapan tanggal pelaksanaan pameran. Namun menurut Yoweni, jika tidak akhir Oktober 2018, pameran akan digelar awal November 2018.

“Kami akan rapat lagi untuk menentukan tanggalnya. Kami akan pamerkan apa yang kami hasilkan dari dukungan pemerintah selama ini. Kami sudah dapat gambaran, apa yang akan kami pamerkan,” ujarnya.

Pameran katanya, tidak hanya untuk anggota KAPP, pengusaha asli Papua dari organisasi lain yang ingin ambil bagian diberikan kesempatan memarkan hasil kerjanya selama ini.

Ini sebenarnya dalam rangka dua tahun hari kebangkitan ekonomi orang asli Papua, 7 September 2018. Tapi karena gubernur dilantik, 5 September 2018, kami pikir waktunya sangat mepet jika digelar, 7 September 2018,” ucapnya.

Sementara anggota komisi bidang ekonomi DPR Papua, Mustakim HR mengatakan, kini sudah banyak pengusaha asli Papua sukses dalam dunia usaha.

“Saya sangat yakini orang Papua ini mampu. Hanya butuh waktu dan pembinaan saja. Sudah menuju ke sana,” kata Mustakim.

Meski begitu menurutnya, pengusaha asli Papua juga harus punya kemauan untuk maju. Kalapun pemerintah punya niat baik jika pengusaha asli Papua sendiri tak punya niat, sulit mencapai suskes. (*)

Merry Yoweni, Perempuan Papua Pertama Terjun Bisnis Tambang

Bakat enterpreneurshipnya dari sang Ayah, sejak kecil sudah terbiasa hidup prihatin,  disiplin, dan tumbuh dalam keluarga yang mahir berbahasa Inggris. Sejak kelas II SMA ia sudah kerja untuk kebutuhan sekolah dan membantu orang tuanya, meski harus jalan kaki setiap hari 11 Km. Belajar tentang ilmu tambang secara otodidak dari almarhum suami berkebangsaan Perancis, kini usahanya merambah sector kehutanan dan pariwisata. Siapa sangka perempuan Papua bertubuh mungil itu mengaku modal utamanya adalah mau belajar, ingin tahu, disiplin, dan kerja keras.

Oleh : Walhamri Wahid

Orangnya supel, ramah dan berwawasan luas, meski hanya mengantongi ijazah SMA, tetapi ia menguasai tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Perancis dan Inggris yang semuanya ia pelajari secara otodidak sejak masih SD, karena Ayahnya Kristian Yoweni adalah seorang penterjemah yang bekerja dengan seorang pilot AMA dan setiap harinya membiasakan penggunaan Bahasa Inggris di dalam keluarga sehari – hari, bahkan ibunya pun, Ester Waibu meski hanya tamatan SMPA ketika itu, juga menguasai dan memahami Bahasa Inggris sehari – hari.

“saya anak kedua dari lima bersaudara, masa SD saya awalnya di Kampung Samabusa, kemudian pindah ke kota Nabire di SD Sriwini Nabire sampai tamat, kedua orang tua saya sebenarnya dari Wondamen, tetapi karena leluhur kami sudah lama tinggal di Nabire”, kata Merry Yoweni, dalam perjumpaan yang tak terduga di sebuah hotel di Jakarta, Sabtu (5/8/2017) kemarin.

Ketika ia memasuki bangku SMP, Ayahnya harus pindah ke Timika karena dipercayakan oleh PT. Freeport Mc Moran untuk menangani Business Developmetn Center semacam Business Incubator yang di dirkan oleh PT Freport Mc Moran ketika itu untuk memberdayakan masyarakat asli Papua, khususnya dari suku asli pemilik ulayat di Tembagapura.

“dari lima sodara, saya bisa di bilang anak Ayah, karena dekat dengan Ayah, sehingga meski masih SMP tapi saya sering mendengar dan menyimak apa pekerjaan Ayah yang ketika itu sangat menarik bagi saya, karena bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat dan mencetak entrepreneur asli Papua ketika itu, sehingga saya banyak belajar dari Ayah saya”, kata Merry Yoweni mengenang masa – masa indah bersama keluarganya sewaktu bermukim di Timika.

Sempat mengenyam pendidikan di SMP IV Nabire di tahun pertama, kemudian ia menamatkan pendidikan SLTAnya di SMP Santo Bernardus Timika, yang rupanya pelajaran Bahasa Inggris juga merupakan satu mata pelajaran wajib di sekolah tersebut.

“saya masih ingat salah satu metode belajar Bahasa Inggris yang diberikan oleh Pak Guru Herman Barru, namanya metode seribu satu pertayaan, jadi kita harus jawab pertanyaan dalam Bahasa Inggris, jadi kita harus cari tahu dulu artinya dan pahami betul barulah kita bisa jawab dalam Bahasa Inggris, di situ kemampuan berkomunikasi saya dalam bahasa Inggris semakin terasah, selain kebiasaan di rumah sejak SD tentunya”, kata Merry.

Karena di dalam keluarga sudah membiasakan diri berbahasa Inggris, maka ketika SMP ia cukup menonjol karena kemampuannya ber cas – cis – cus termasuk karena prestasi akademiknya yang diatas rata – rata.

“teman – teman saya banyak juga yang mahir berbahasa Inggris selama di SMP Santo Bernardus Timika, diantaranya Martinus Buiney, Lena Karubaba, mereka semua itu termasuk mahir semua”, kata Merry sambil tersenyum dengan tatapan menerawang ke masa lalu.

Ketika itu ia tidak menyangka, kebiasaan dan kemampuannya berbahasa Inggris itulah yang nantinya akan merubah jalan hidupnya hingga menjadi salah satu pengusaha perempuan Papua yang berhasil saat ini.

“kami lima bersaudara, hanya 1 saja kakak saya Anton Yoweni yang jadi PNS, kami lainnya semua entrepreneur, selain saya ada Monalisa Yoweni, Elen Yoweni dan seorang lagi adek bungu kami saat ini semuanya menekuni dunia pariwisata dan bergerak di bidang perumahan atau pengembang, khususnya di resort wisata”,

kata Merry Yoweni.

Tamat SMP Santo Bernardus Timika, Merry Yoweni sempat bersekolah di salah satu SMA di Timika, bahkan karena prestasi akademiknya, dan sudah pasti kemampuan berbahasa Inggrisnya ia mendapatkan beasiswa pertukaran belajar dari PT. Freeport Mc Moran ke luar negeri selama kurang lebih 6 bulan.

“itu salah satu pengalaman berharga saya, karena pertama kalinya melihat dunia luar selain Papua, juga itu sebuah prestasi dan kebanggaan bagi saya dan keluarga, karena dapatkan beasiswa di era itu berbeda dengan era sekarang, nilai harus rata – rata 7.0, kalau sekarang sepanjang kita Orang Asli Papua( OAP) berpeluang dapat beasiswa ke luar negeri, tapi waktu itu benar – benar seleksi dank arena prestasi dan kemampuan saya, banyak pengalaman penting yang saya pelajari khususnya di dunia kerja dan industry, dimana etos kerja, produktivitas kerja, semua berbeda jauh dengan kita yang ada di Papua waktu itu bahkan mungkin di Indonesia”,

kenang Merry lagi.

Balik dari pertukaran pelajar di luar negeri, cobaan terhadap keluarga mulai mendera, Ayahnya Kristian Yoweni mengalami sakit yang cukup parah sehingga harus mengundurkan diri dari PT. Freport dan akhirnya mereka semua keluarga kembali ke Nabire.

“masuk kelas II SMA, kami semua kembali ke Nabire, Ayah saya sebagai tulang punggung keluarga sakit jadi harus undur diri dari Freeport dan saat itu kami sekeluarga kehilangan sumber pemasukan, padahal adik – adik masih butuh biaya untuk sekolah, saya juga masih sekolah, terpaksa saya harus bekerja sebagai Operator Radio SSB di sebuah perusahaan”, tutur Merry dengan nada sedikit tercekat, mengingat saat – saat sulit dalam hidup keluarganya itu.

Setiap harinya Merry Yoweni harus bangun pagi jam 05.00 WIT lalu berjalan kaki sejauh 10 Km untuk sampai ke sekolah, setelah mengikuti pelajaran hingga pukul 13.00 WIT, ia kembali harus berjalan kaki sejauh 1 Km untuk sampai ke tempat kerjanya.

“ke sekolah saya pake’ baju dobel, di dalam saya pake kaos atau baju biasa, di luar baju seragam, selesai sekolah lepas baju seragam lalu berjalan kaki lagi sejauh 1 Km ke tempat kerja, jadi saya kerja dari jam 15.00 WIT sampai jam 22.00 WIT, tugas saya adalah operator radio SSB, saya menerima orderan dari daerah – daerah untuk diteruskan ke bagian logistic dan nantinya orderan barang tersebut di kirim ke daerah lagi, nama perusahaannya Nadier Bate Mining”, kata Merry.

Setiap malam, pukul 20.00 WIT, sang ibu, Ester Waibu dengan setia menjemputnya, menempuh perjalanan kaki sejauh 11 Km dari Sriwini ke tempatnya bekerja, dan nanti bersama – sama dengan Merry pulang berjalan kaki menempuh jarak sejauh 11 Km kembali.

“waktu itu gaji pertama saya hanya Rp 18.500, itu tahun 1993, tiap hari, malamnya saya pulang jalan kaki dengan mama, biasa kami sampai di rumah sudah mau jam 1.00 WIT malam, setiap hari seperti itu sampai saya lulus sekolah dan berhenti bekerja, Mama tidak pernah mengeluh melakukan itu semua, kami berdua jalan di tengah gelapnya malam, tanpa penerangan, kalaupun ada lampu botol saja, karena waktu itu listrik dan lampu petromak barang langka, itu masa – masa terberat memang dalam keluarga kami”, kata Merry mencoba menyembunyikan kesedihannya lewat senyum lebar, tetapi matanya terlihat berkaca – kaca mungkin mengenang pengorbanan ibunya.

Tamat dari SMA, Merry tidak berpikiran untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, dan memilih berumah tangga untuk meringankan beban keluarganya karena ia merasa adik – adiknya masih membutuhkan biaya sekolah juga.

“saya dilamar oleh manager tempat saya bekerja, warga negara Perancis, setelah tamat dan menikah saya memilih jadi ibu rumah tangga dan berhenti bekerja, suami saya ketika itu adalah seorang Insinyur Geologi Tambang, di tengah kesibukan urus suami dan keluarga, karena terdorong rasa ingin tahu saya banyak belajar dari suami tentang batu – batuan, dan pertambangan, semuanya saya serap dari suami, maka nya saya tidak sekolah pertambangan tapi saya cukup kuasai soal tambang”, katanya lagi.

Setiap suaminya membawa pekerjaan ke rumah, sambil menemani suaminya bekerja Merry mengaku banyak bertanya dan punya rasa ingin tahu yang besar, syukurnya sang suami juga tidak pelit berbagi ilmu, semua yang ia ketahui ia sampaikan kepada Merry, saat suaminya menggambar peta geologi tentang potensi alam daerah – daerah di Papua, ia juga ikut mempelajari.

“saya jadi tahu, kalau di suatu lokasi ada tanda – tanda mengandung kalkopirit, berarti ada potensi tambang emas di lokasi tersebut, saya jadi tahu bahwa kalau ada tembaga di situ pasti juga ada emas, tidak mungkin tidak, karena tembaga dan emas ibaratnya mereka bersaudara, saya juga jadi belajar bahasa Perancis, masakan Perancis”, kata Merry mengatakan berkat belajar ototodidak dari suaminya itulah, kelak menjadi modalnya juga untuk terjun dalam dunia pertambangan hingga kini.

Menikah tahun 2016, saat pasangan beda negara tersebut tengah di puncak bahagia karena tengah dikaruniai seorang bayi perempuan, sang suami di panggil TYME memasuki tahun kedua pernikahan mereka.

“saat itu saya berpikir keras, saya harus bekerja, ada anak saya masih kecil, ada adik – adik dan orang tua juga yang sedikit banyak masih menggantungkan kebutuhan ke saya, kebetulan waktu itu ada sebuah LSM dari Perancis masuk di Nabire, mereka mencari tenaga local yang memiliki kemampuan Bahasa Perancis dan Bahasa Inggris, karena waktu itu karyawan LSM tersebut hampir sebagian besar adalah warga negara Perancis, dan saya diterima di LSM tersebut”, kata Merry sumringah mengaku waktu itu ia ditempatkan sebagai Kepala Logistik.

Masa – masa itulah baru ia menyadari bahwasanya kemampuannya berbahasa asing itu terasa sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga, disela – sela sebagai staff di LSM beberapa kali ada acara pemerintah yang membutuhkan penterjemah, atau saat ada kujungan dari rombongan luar negeri, sudah pasti ia akan di panggil dan mendapatkan honor yang lumayan.

Selama bekerja di LSM, pengalamannya bertambah dalam hal menangani beberapa persoalan masyarakat yang berkaitan dengan sanitasi, air bersih dan terlibat dalam beberapa aktifitas pelayanan social dengan LSM tempatnya bekerja.

Sekitar 1,5 tahun bekerja di LSM, sekitar tahun 1999 ia dan adiknya diterima untuk bekerja di Freeport, karirnya bermula di admin office Environmental sampai terakhir saat ia harus mengundurkan diri dari Freeport posisinya sebagai Sekretaris Kepala Environmental di Freeport.

“waktu itu saya di kasih pilihan untuk mengundurkan diri karena saya dianggap telah membocorkan rahasia perusahaan, hanya karena saya membalas email masuk yang mempertanyakan soal mercury di Freeport, waktu itu belum terbuka dan belum ada control public jadi saya sebagai orang asli Papua, hanya bisa pasrah menerima putusan Freeport yang menilai saya salah, jadi tidak ada pembelaan untuk saya”, kata Merry Yoweni.

Pilihan sulit ia harus terima, setelah sekian tahun mengabdi dan berada di posisi Sekretaris ia dikasih pilihan mengundurkan diri tetapi di perkanankan mendaftar ulang mulai lagi sebagai staff biasa dari bawah.

“sempat kecewa dan tidak terima juga, tapi saya tidak mau berlarut – larut, setelah terima uang pesangon, dengan modal uang pesangon itulah saya mendirikan sebuah perusahaan tambang, CV. Makimi Indah namanya yang bergerak di bidang pertambangan, waktu itu saya dengan adik sama – sama mendirikan dan rintis perusahaan tersebut”, katanya lagi mengatakan ada hikmahnya juga ia di paksa mundur dari Freeport waktu itu, karena sedikit banyak ia sudah paham dan pernah belajar tentang manajemen perusahaan tambang, etos kerja, produktifitas, budaya industry, dan lain – lainnya terkait perusahaan tambang.

Merry Yoweni mengaku sudah bertekad bulat, bahwa ia bisa terjun ke dunia tambang, karena ia  cukup paham daerah – daerah mana saja di Nabire khususnya yang punya cukup kandungan mineral berharga, karena dari almarhum suami dulu saya banyak belajar dan masih di ingat semuanya.

“setelah memperoleh ijin areal tambang di Musairo seluas 25 hektar, maka CV Makimi Indah akhirnya beroperasi untuk melakukan operasional pendulangan emas di Musairo, Nabire, waktu awal – awal memulai kadang sehari bisa dapat ½ Kg, tapi juga pernah hanya dapat 5 ons, dan saya terlibat semua proses dari awal, bahkan masuk ke hutan dan lokasi tambang, kita menggunakan alcon awalnya, yang skala kecil dulu, semua proses dalam produksi saya ikuti sehingga saya cukup kuasai secara teknisnya”, kata Merry.

Ketika itu bisa di katakana orang asli Papua dan perempuan pula yang pertama kali terjun ke dunia tambang dan punya izin pengelolan hasil tambang hingga mencapai 25 hektar itu barulah Merry Yoweni

“itu menjadi usaha keluarga, sodara, om – om saya, semuanya ikut membantu saya, dan puji Tuhan CV Makimi Indah tetap eksis hingga kini dan terus bertumbuh, teknik dulangnya gunakan alcon kecil, yang harga 3 – 4 juta, sampai akhirnya saya ada modal sedikit, saya bikin PT, namanya PT Krister Jaya yang bergerak di bidang kehutanan, karena lahan dulang itu lalui areal hutan kayu, setelah bicara dengan masyarakat di kampung akhirnya saya buka PT yang bergerak di kehutanan untuk memanfaatkan kayu – kayu yang ada di areal tambang maupun potensi kehutanan di Nabire yang belum tergarap”, katanya.

Dengan bendera PT. Krister Jaya, yang merupakan singkatan nama kedua orang tuanya Kris dan Ester, Merry Yoweni memberanikan diri ekspansi merambah sector kehutanan, tidak tanggung – tanggung, ia berani membuka jalan logpound hingga 30 Km agar memudahkan proses mobilisasi hasil hutan di areal konsesinya.

“saya harus buka jalan sepanjang 30 Km untuk bisa sampai ke areal yang akan di garap baik kayu maupun jadi areal tambang emas, kita sewa alat 1 bulan, kita jual kayu di kota, dan hasilnya kita pake buka hutan dan bikin jalan secara bertahap”, katanya lagi.

Sekitar tahun 2004, Nabire di landa gempa bumi dan bencana alam, sehingga banyak lembaga donor internasional yang turun tangan mengatasi bencana alam dimaksud, termasuk salah satu LSM dari Inggris.

“waktu itu saya di hubungi Ibu Toni Karubaba (ibu Wakil Bupati-Red), bahwa ada sebuah LSm internasional yang butuhkan tenaga local Papua yang mahir berbahasa Inggris, dan saya di minta untuk membantu LSM tersebut, karena usaha saya sistemnya sudah bagus, dan bisa di tinggal saya terima tawaran itu”, kata Merry Yoweni.

Usahanya baik di sector tambang emas maupun kehutanan tengah naik daun, tetapi perempuan mungil tersebut memilih untuk kembali terjun ke dunia LSM dan melepaskan operasional perusahaannya kepada sodara dan kerabatnya.

“jiwa saya sebenarnya memang lebih sreg bekerja social, bisa menolong orang banyak, makanya saya terima untuk gabung ke LSM tersebut, tapi usaha saya sudah pastikan tetap berjalan, karena sudah ada system dan manajemen yang saya buat sebelumnya, sehingga usaha jalan, kerja social di LSM juga jalan”, kata Merry.

Ia mengakui selama bekerja di LSM itulah ia banyak belajar, banyak tahu tentang Papua dan banyak merenung tentang Papua, tentang bagaimana mengangkat dan meningkatkan taraf ekonomi orang Papua hingga ke pedalaman – pedalaman.

“ada kepuasan kerja dengan LSM, saya bisa sampai ke banyak pedalaman Papua, bisa melihat, merasakan, dan memikirkan bagaimana bisa menolong orang Papua secara langsung, saya sampai di Yahukimo dengan masyarakat yang kelaparan, sakit, dan lainnya, kita bersentuhan langsung, itu yang membuat saya merasa puas dan bangga bisa melakukan itu”,

kata Merry Yoweni yang mengaku bekerja selama kurang lebih 2 tahun di LSM tersebut.

Ditengah kesibukannya kerja social menolong rakyat, dan juga padatnya memantau dan mengawasi operasional dua perusahaan keluarga yang di rintisnya, ada obsesi terpendam seorang Merry Yoweni yang terpaksa harus ia kubur sewaktu tamat SMA dahulu dan memilih menikah dini demi menolong keluarga dan memastikan keberlanjutan sekolah adik – adiknya ketika itu.

“meski sekian tahun vakum, ada impian saya yang terpendam, dan saya pikir waktu itu momentnya pas untuk saya wujudkan impian itu, saya ingin kuliah lagi”, tutur Merry.

LSM tempatnya bekerja menugaskan Merry Yoweni di Yahukimo, dengan berkantor di salah satu hotel di Wamena, sehingga setiap hari dipagi menggunakan pesawat carteran mereka bekerja di Yahukimo waktu itu ikut membantu menangani masalah kelaparan dan sejumlah masalah social lainnya, sore harinya dengan menggunakan pesawat yang sama mereka kembali ke Wamena sebagai home basenya.

“saya sempat main ke Jayapura dan saya lihat ada moment untuk saya mendaftar ikut kelas ekstensi di Uncen, saya ambil jurusan Hukum waktu itu, jadi tiap hari Jumat dari Wamena saya terbang ke Jayapura untuk kuliah, Senin sudah kembali ke Wamena kerja lagi, itu saya lakoni sekian waktu, lelah memang, tapi saya tetap enjoy jalani karena ada dukungan juga dari suami dan keluarga”, katanya walau memang semua tidak berjalan mulus sehingga memasuki tahun ketiga masa kuliahnya, Merry dihadapkan pada pilihan sulit.

Ia dipercayakan sebagai penanggung jawab penuh untuk program di Yahukimo, jadi tanggung jawabnya juga kian besar, terpaksa ia harus cuti kuliah, waktu itu tahun 2010, akhirnya studi Merry Yoweni tertunda lagi, padahal saat itu sambil kuliah ia juga sudah mulai aktif di Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) yang berkantor di Jayapura di bawah pimpinan Jhon Haluk

Hebatnya, di sela – sela kesibukannya yang padat itu juga dia masih menyempatkan diri sebagai pengajar Bahasa Inggris di SMA Advent di Nabire.

“saya gabung di KAPP sejak 2007, waktu itu 2006 itu ada Pak Jhon Haluk sudah mulai dirikan KAPP ini, ketika itu saya masih di Yahukimo sebagai staff LSM juga, di sela – sela kegiatan itu saya juga masih menyempatkan diri sebagai guru bahasa inggris di SMA Advent di Nabire, padahal saya hanya tamatan SMA”,

kata Merry mengenang bejibunnya aktifitasnya waktu itu.

Sekuat – kuatnya fisik seorang manusia, pasti ada batasnya, kurang lebih enam bulan focus di Yahukimo, Merry Yoweni terkena malaria tropika plus 4, sehingga harus mendapatkan perawatan intensif di Jayapura untuk waktu yang lama.

“Tahun 2008 akhirnya saya putuskan keluar dari LSM dan focus di KAPP, waktu itu juga saya kena penyakit malaria tropika plus 4 sehingga harus turun ke Jayapura untuk berobat, tapi setelah sembuh saya tidak kembali lagi ke Yahukimo, undur dari LSM, dan focus bantu Pak Jhon Haluk benahi KAPP, waktu itu saya dipercayakan sebagai Bendahara”, katanya mengenang.

Keputusan besar itu ia ambil berdasarkan pengalaman panjangnya terlibat di LSM dan bersinggungan langsung dengan orang Papua di kampung – kampung, impiannya bahwa lewat KAPP suatu saat kelak akan banyak muncul pengusaha Papua yang kuat dan mapan sehingga tidak selalu berharap bantuan dari pemerintah maupun pihak asing (LSM) saja.

“Selama kerja di LSM itu yang jadi pertanyaan saya kenapa bantuan dari luar negeri itu hanya lebih kepada menangani masalah bencana, kenapa bukan pemberdayaan dan menguatkan masyarakat Papua secara ekonomi, makanya saya waktu itu memilih focus di KAPP, dimana satu nasehat yang saya tidak lupa dari (alm) Jhon Haluk saat mengajak saya untuk bergabung dalam KAPP itu, beliau mengatakan, “mari bantu saya datang kerjakan ini, kita focus disini, suatu ketika orang rame – rame datang di KAPP, itu baru kita tahu kita berhasil, dia tidak mejatuhkan orang, tapi motivasi saya, dan saya pikir inilah jalan yang harus saya tekuni untuk menolong banyak orang Papua agar bisa lebih sejahtera”, katanya mengakhiri sesi wawancara dengan Lingkar Papua. (***)

Sumber: https://www.tifaonline.com/

Yoweni dikukuhkan memimpin KAPP

Ketua Umum Terpilih KAPP Pusat Merry C Yoweni berpose bersama usai dikukuhkan secara adat di Sentani pada Rabu (7/1). Jubi/ist
Ketua Umum Terpilih KAPP Pusat Merry C Yoweni berpose bersama usai dikukuhkan secara adat di Sentani pada Rabu (7/1). Jubi/ist

Jayapura, Jubi -Pemimpin suku atau Ondoafi  wilayah Saireri mengukuhkan Ketua Umum Terpilih Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) periode 2018-2023, Merry Costavina Yoweni, sebelum melaksanakan tugas di Obhe Oheeiyonggi atau rumah para-para adat. Prosesi  pengukuhan bertujuan sebagai restu bagi KAPP sebagai organisasi yang diturunkan dari sisi kearifan lokal.

“Jadi kami memohon restu sebelum melaksanakan tanggung jawab dalam hal melindungi usaha orang asli Papua di atas tanah ini pada lima wilayah adat,” kata Sekretaris Panitia Pengukuhan Adat, Kristovel Mara,  kepada Jubi, (7/2/2018).

Pengukuhan secara adat dilakukan Mananwir, Kepala Suku Apolos yang mewakili wilayah adat Saireri, hal itu dilakukan meski KAPP berkantor di kawasan Mamta.

“Jadi dalam prosesi adat ini, ketua umum terpilih KAPP periode 2018 hingga 2023 menggunakan busana adat dan dikukuhkan untuk mendapat restu dari alam dalam menjalankan tugas kepemimpinannya sebagai anak tanah,” ujar Kristovel Mara,

Pengukuhan itu juga memberi makna bahwa Ketua Umum Terpilih KAPP menghargai adat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Ia menyebutkan pengukuhan itu juga menggambarkan adanya pemberian tongkat komando dari adat untuk menjalankan tugas dan fungsinya dalam membangun ekonomi orang asli Papua.

Sebelumnya, Merry Costavina Yoweni terpilih kembali menjadi Ketua Umum Kamar Adat Pengusaha Papua Pusat periode 2018-2023 pada Konferensi III KAPP se-Bumi Cenderawasih.  “Rencananya akan dilantik oleh Gubernur Papua pada 9 Februari 2018,” katanya. (*)

Konferensi III KAPP, Merry Yoweni terpilih kembali sebagai Ketua

Pembukaan Konferensi III KAPP oleh kepala biro ekonomi Provinsi Papua Papua, Ribka Monim atas nama Gubernur yang menyerahkan secara resmi Pergub no. 45 tahun 2017 tentang Kamar Adat Pengusaha Asli Papua.
Pembukaan Konferensi III KAPP oleh kepala biro ekonomi Provinsi Papua Papua, Ribka Monim atas nama Gubernur yang menyerahkan secara resmi Pergub no. 45 tahun 2017 tentang Kamar Adat Pengusaha Asli Papua.

Jayapura, Jubi – Merry C Yoweni terpilih kembali menjadi Ketua Umum Kamar Adat Pengusaha Papua Pusat periode 2018-2023 pada Konferensi III KAPP se-Bumi Cenderawasih yang dilaksanakan selama sehari pada Selasa (12/12/2017).

Ketua Panitia Konferensi III KAPP se-Tanah Papua Benyamin Gurik di Jayapura, Selasa, mengatakan masa bakti kepengurusan yang lama seharusnya berakhir pada 2018, namun karena pertimbangan khusus akhirnya pelaksanaannya dipercepat tiga bulan lebih awal.

“Selain itu, kami juga mempertimbangkan mengenai kondisi pemerintah di Papua pada 2018 yang akan menjadi tahun politik karena masa pemilihan gubernur,” katanya.

Menurut Benyamin, jika pada 2018 tidak ada badan pengurus yang definitif maka akan mempersulit sosialisasi peraturan gubernur (pergub) ekonomi kerakyatan yang telah digagas KAPP.

“Nantinya jika tidak segera diambil sosialisasi atau konsolidasi maka pergub ini akan gugur di mana hal tersebut tergantung pada kepengurusan yang harus melakukan konsolidasi hingga ke tingkat kabupaten/kota,” ujarnya.

Dia menuturkan meskipun pelaksanaan konferensi ini dilakukan lebih awal, namun tidak menyalahi Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART).

“Dalam ketentuan disebutkan konferensi bisa digelar lebih awal dengan pertimbangan-pertimbangan khusus, seperti konstelasi yang akan terjadi pada 2018 di Papua karena pemilihan gubernur,” katanya.

Selain itu, dari 42 KAPP di kabupaten/kota se-Tanah Papua, 28 di antaranya telah satu suara atau secara aklamasi merekomendasi, mengusung serta memilih ketua yang lama untuk menjadi ketua terpilih periode 2018-2023 dan ini telah memenuhi kuorum guna membuat keputusan organisasi yakni 50 plus satu. (*)

Skip to toolbar