KAP Papua akan gelar pameran sebagai langkah evaluasi

Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP), Merry Yoweni
Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP), Merry Yoweni

Jayapura, Jubi – Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP), Merry Yoweni mengatakan, pihaknya akan menggelar pameran dalam waktu dekat. Lokasi pameran direncanakan di halaman Kantor Gubernur Papua, Jalan Soa Siu, Dok II, Kota Jayapura.

“Itu untuk mengevaluasi tiga tahun dukungan pemerintah provinsi kepada KAPP. Meski dana terbatas, namun dapat menjangkau ribuan orang. Mungkin dari ribuan orang itu ada yang sukses dan mereka ini yang akan dipersiapkan. Kami tunjukkan ke pemprov kalau kami bisa,” kata Merry Yoweni kepada Jubi, Kamis (27/9/2018).

Hanya saja, pihaknya belum dapat memastikan kapan tanggal pelaksanaan pameran. Namun menurut Yoweni, jika tidak akhir Oktober 2018, pameran akan digelar awal November 2018.

“Kami akan rapat lagi untuk menentukan tanggalnya. Kami akan pamerkan apa yang kami hasilkan dari dukungan pemerintah selama ini. Kami sudah dapat gambaran, apa yang akan kami pamerkan,” ujarnya.

Pameran katanya, tidak hanya untuk anggota KAPP, pengusaha asli Papua dari organisasi lain yang ingin ambil bagian diberikan kesempatan memarkan hasil kerjanya selama ini.

Ini sebenarnya dalam rangka dua tahun hari kebangkitan ekonomi orang asli Papua, 7 September 2018. Tapi karena gubernur dilantik, 5 September 2018, kami pikir waktunya sangat mepet jika digelar, 7 September 2018,” ucapnya.

Sementara anggota komisi bidang ekonomi DPR Papua, Mustakim HR mengatakan, kini sudah banyak pengusaha asli Papua sukses dalam dunia usaha.

“Saya sangat yakini orang Papua ini mampu. Hanya butuh waktu dan pembinaan saja. Sudah menuju ke sana,” kata Mustakim.

Meski begitu menurutnya, pengusaha asli Papua juga harus punya kemauan untuk maju. Kalapun pemerintah punya niat baik jika pengusaha asli Papua sendiri tak punya niat, sulit mencapai suskes. (*)

Merry Yoweni, Perempuan Papua Pertama Terjun Bisnis Tambang

Bakat enterpreneurshipnya dari sang Ayah, sejak kecil sudah terbiasa hidup prihatin,  disiplin, dan tumbuh dalam keluarga yang mahir berbahasa Inggris. Sejak kelas II SMA ia sudah kerja untuk kebutuhan sekolah dan membantu orang tuanya, meski harus jalan kaki setiap hari 11 Km. Belajar tentang ilmu tambang secara otodidak dari almarhum suami berkebangsaan Perancis, kini usahanya merambah sector kehutanan dan pariwisata. Siapa sangka perempuan Papua bertubuh mungil itu mengaku modal utamanya adalah mau belajar, ingin tahu, disiplin, dan kerja keras.

Oleh : Walhamri Wahid

Orangnya supel, ramah dan berwawasan luas, meski hanya mengantongi ijazah SMA, tetapi ia menguasai tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Perancis dan Inggris yang semuanya ia pelajari secara otodidak sejak masih SD, karena Ayahnya Kristian Yoweni adalah seorang penterjemah yang bekerja dengan seorang pilot AMA dan setiap harinya membiasakan penggunaan Bahasa Inggris di dalam keluarga sehari – hari, bahkan ibunya pun, Ester Waibu meski hanya tamatan SMPA ketika itu, juga menguasai dan memahami Bahasa Inggris sehari – hari.

“saya anak kedua dari lima bersaudara, masa SD saya awalnya di Kampung Samabusa, kemudian pindah ke kota Nabire di SD Sriwini Nabire sampai tamat, kedua orang tua saya sebenarnya dari Wondamen, tetapi karena leluhur kami sudah lama tinggal di Nabire”, kata Merry Yoweni, dalam perjumpaan yang tak terduga di sebuah hotel di Jakarta, Sabtu (5/8/2017) kemarin.

Ketika ia memasuki bangku SMP, Ayahnya harus pindah ke Timika karena dipercayakan oleh PT. Freeport Mc Moran untuk menangani Business Developmetn Center semacam Business Incubator yang di dirkan oleh PT Freport Mc Moran ketika itu untuk memberdayakan masyarakat asli Papua, khususnya dari suku asli pemilik ulayat di Tembagapura.

“dari lima sodara, saya bisa di bilang anak Ayah, karena dekat dengan Ayah, sehingga meski masih SMP tapi saya sering mendengar dan menyimak apa pekerjaan Ayah yang ketika itu sangat menarik bagi saya, karena bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat dan mencetak entrepreneur asli Papua ketika itu, sehingga saya banyak belajar dari Ayah saya”, kata Merry Yoweni mengenang masa – masa indah bersama keluarganya sewaktu bermukim di Timika.

Sempat mengenyam pendidikan di SMP IV Nabire di tahun pertama, kemudian ia menamatkan pendidikan SLTAnya di SMP Santo Bernardus Timika, yang rupanya pelajaran Bahasa Inggris juga merupakan satu mata pelajaran wajib di sekolah tersebut.

“saya masih ingat salah satu metode belajar Bahasa Inggris yang diberikan oleh Pak Guru Herman Barru, namanya metode seribu satu pertayaan, jadi kita harus jawab pertanyaan dalam Bahasa Inggris, jadi kita harus cari tahu dulu artinya dan pahami betul barulah kita bisa jawab dalam Bahasa Inggris, di situ kemampuan berkomunikasi saya dalam bahasa Inggris semakin terasah, selain kebiasaan di rumah sejak SD tentunya”, kata Merry.

Karena di dalam keluarga sudah membiasakan diri berbahasa Inggris, maka ketika SMP ia cukup menonjol karena kemampuannya ber cas – cis – cus termasuk karena prestasi akademiknya yang diatas rata – rata.

“teman – teman saya banyak juga yang mahir berbahasa Inggris selama di SMP Santo Bernardus Timika, diantaranya Martinus Buiney, Lena Karubaba, mereka semua itu termasuk mahir semua”, kata Merry sambil tersenyum dengan tatapan menerawang ke masa lalu.

Ketika itu ia tidak menyangka, kebiasaan dan kemampuannya berbahasa Inggris itulah yang nantinya akan merubah jalan hidupnya hingga menjadi salah satu pengusaha perempuan Papua yang berhasil saat ini.

“kami lima bersaudara, hanya 1 saja kakak saya Anton Yoweni yang jadi PNS, kami lainnya semua entrepreneur, selain saya ada Monalisa Yoweni, Elen Yoweni dan seorang lagi adek bungu kami saat ini semuanya menekuni dunia pariwisata dan bergerak di bidang perumahan atau pengembang, khususnya di resort wisata”,

kata Merry Yoweni.

Tamat SMP Santo Bernardus Timika, Merry Yoweni sempat bersekolah di salah satu SMA di Timika, bahkan karena prestasi akademiknya, dan sudah pasti kemampuan berbahasa Inggrisnya ia mendapatkan beasiswa pertukaran belajar dari PT. Freeport Mc Moran ke luar negeri selama kurang lebih 6 bulan.

“itu salah satu pengalaman berharga saya, karena pertama kalinya melihat dunia luar selain Papua, juga itu sebuah prestasi dan kebanggaan bagi saya dan keluarga, karena dapatkan beasiswa di era itu berbeda dengan era sekarang, nilai harus rata – rata 7.0, kalau sekarang sepanjang kita Orang Asli Papua( OAP) berpeluang dapat beasiswa ke luar negeri, tapi waktu itu benar – benar seleksi dank arena prestasi dan kemampuan saya, banyak pengalaman penting yang saya pelajari khususnya di dunia kerja dan industry, dimana etos kerja, produktivitas kerja, semua berbeda jauh dengan kita yang ada di Papua waktu itu bahkan mungkin di Indonesia”,

kenang Merry lagi.

Balik dari pertukaran pelajar di luar negeri, cobaan terhadap keluarga mulai mendera, Ayahnya Kristian Yoweni mengalami sakit yang cukup parah sehingga harus mengundurkan diri dari PT. Freport dan akhirnya mereka semua keluarga kembali ke Nabire.

“masuk kelas II SMA, kami semua kembali ke Nabire, Ayah saya sebagai tulang punggung keluarga sakit jadi harus undur diri dari Freeport dan saat itu kami sekeluarga kehilangan sumber pemasukan, padahal adik – adik masih butuh biaya untuk sekolah, saya juga masih sekolah, terpaksa saya harus bekerja sebagai Operator Radio SSB di sebuah perusahaan”, tutur Merry dengan nada sedikit tercekat, mengingat saat – saat sulit dalam hidup keluarganya itu.

Setiap harinya Merry Yoweni harus bangun pagi jam 05.00 WIT lalu berjalan kaki sejauh 10 Km untuk sampai ke sekolah, setelah mengikuti pelajaran hingga pukul 13.00 WIT, ia kembali harus berjalan kaki sejauh 1 Km untuk sampai ke tempat kerjanya.

“ke sekolah saya pake’ baju dobel, di dalam saya pake kaos atau baju biasa, di luar baju seragam, selesai sekolah lepas baju seragam lalu berjalan kaki lagi sejauh 1 Km ke tempat kerja, jadi saya kerja dari jam 15.00 WIT sampai jam 22.00 WIT, tugas saya adalah operator radio SSB, saya menerima orderan dari daerah – daerah untuk diteruskan ke bagian logistic dan nantinya orderan barang tersebut di kirim ke daerah lagi, nama perusahaannya Nadier Bate Mining”, kata Merry.

Setiap malam, pukul 20.00 WIT, sang ibu, Ester Waibu dengan setia menjemputnya, menempuh perjalanan kaki sejauh 11 Km dari Sriwini ke tempatnya bekerja, dan nanti bersama – sama dengan Merry pulang berjalan kaki menempuh jarak sejauh 11 Km kembali.

“waktu itu gaji pertama saya hanya Rp 18.500, itu tahun 1993, tiap hari, malamnya saya pulang jalan kaki dengan mama, biasa kami sampai di rumah sudah mau jam 1.00 WIT malam, setiap hari seperti itu sampai saya lulus sekolah dan berhenti bekerja, Mama tidak pernah mengeluh melakukan itu semua, kami berdua jalan di tengah gelapnya malam, tanpa penerangan, kalaupun ada lampu botol saja, karena waktu itu listrik dan lampu petromak barang langka, itu masa – masa terberat memang dalam keluarga kami”, kata Merry mencoba menyembunyikan kesedihannya lewat senyum lebar, tetapi matanya terlihat berkaca – kaca mungkin mengenang pengorbanan ibunya.

Tamat dari SMA, Merry tidak berpikiran untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, dan memilih berumah tangga untuk meringankan beban keluarganya karena ia merasa adik – adiknya masih membutuhkan biaya sekolah juga.

“saya dilamar oleh manager tempat saya bekerja, warga negara Perancis, setelah tamat dan menikah saya memilih jadi ibu rumah tangga dan berhenti bekerja, suami saya ketika itu adalah seorang Insinyur Geologi Tambang, di tengah kesibukan urus suami dan keluarga, karena terdorong rasa ingin tahu saya banyak belajar dari suami tentang batu – batuan, dan pertambangan, semuanya saya serap dari suami, maka nya saya tidak sekolah pertambangan tapi saya cukup kuasai soal tambang”, katanya lagi.

Setiap suaminya membawa pekerjaan ke rumah, sambil menemani suaminya bekerja Merry mengaku banyak bertanya dan punya rasa ingin tahu yang besar, syukurnya sang suami juga tidak pelit berbagi ilmu, semua yang ia ketahui ia sampaikan kepada Merry, saat suaminya menggambar peta geologi tentang potensi alam daerah – daerah di Papua, ia juga ikut mempelajari.

“saya jadi tahu, kalau di suatu lokasi ada tanda – tanda mengandung kalkopirit, berarti ada potensi tambang emas di lokasi tersebut, saya jadi tahu bahwa kalau ada tembaga di situ pasti juga ada emas, tidak mungkin tidak, karena tembaga dan emas ibaratnya mereka bersaudara, saya juga jadi belajar bahasa Perancis, masakan Perancis”, kata Merry mengatakan berkat belajar ototodidak dari suaminya itulah, kelak menjadi modalnya juga untuk terjun dalam dunia pertambangan hingga kini.

Menikah tahun 2016, saat pasangan beda negara tersebut tengah di puncak bahagia karena tengah dikaruniai seorang bayi perempuan, sang suami di panggil TYME memasuki tahun kedua pernikahan mereka.

“saat itu saya berpikir keras, saya harus bekerja, ada anak saya masih kecil, ada adik – adik dan orang tua juga yang sedikit banyak masih menggantungkan kebutuhan ke saya, kebetulan waktu itu ada sebuah LSM dari Perancis masuk di Nabire, mereka mencari tenaga local yang memiliki kemampuan Bahasa Perancis dan Bahasa Inggris, karena waktu itu karyawan LSM tersebut hampir sebagian besar adalah warga negara Perancis, dan saya diterima di LSM tersebut”, kata Merry sumringah mengaku waktu itu ia ditempatkan sebagai Kepala Logistik.

Masa – masa itulah baru ia menyadari bahwasanya kemampuannya berbahasa asing itu terasa sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga, disela – sela sebagai staff di LSM beberapa kali ada acara pemerintah yang membutuhkan penterjemah, atau saat ada kujungan dari rombongan luar negeri, sudah pasti ia akan di panggil dan mendapatkan honor yang lumayan.

Selama bekerja di LSM, pengalamannya bertambah dalam hal menangani beberapa persoalan masyarakat yang berkaitan dengan sanitasi, air bersih dan terlibat dalam beberapa aktifitas pelayanan social dengan LSM tempatnya bekerja.

Sekitar 1,5 tahun bekerja di LSM, sekitar tahun 1999 ia dan adiknya diterima untuk bekerja di Freeport, karirnya bermula di admin office Environmental sampai terakhir saat ia harus mengundurkan diri dari Freeport posisinya sebagai Sekretaris Kepala Environmental di Freeport.

“waktu itu saya di kasih pilihan untuk mengundurkan diri karena saya dianggap telah membocorkan rahasia perusahaan, hanya karena saya membalas email masuk yang mempertanyakan soal mercury di Freeport, waktu itu belum terbuka dan belum ada control public jadi saya sebagai orang asli Papua, hanya bisa pasrah menerima putusan Freeport yang menilai saya salah, jadi tidak ada pembelaan untuk saya”, kata Merry Yoweni.

Pilihan sulit ia harus terima, setelah sekian tahun mengabdi dan berada di posisi Sekretaris ia dikasih pilihan mengundurkan diri tetapi di perkanankan mendaftar ulang mulai lagi sebagai staff biasa dari bawah.

“sempat kecewa dan tidak terima juga, tapi saya tidak mau berlarut – larut, setelah terima uang pesangon, dengan modal uang pesangon itulah saya mendirikan sebuah perusahaan tambang, CV. Makimi Indah namanya yang bergerak di bidang pertambangan, waktu itu saya dengan adik sama – sama mendirikan dan rintis perusahaan tersebut”, katanya lagi mengatakan ada hikmahnya juga ia di paksa mundur dari Freeport waktu itu, karena sedikit banyak ia sudah paham dan pernah belajar tentang manajemen perusahaan tambang, etos kerja, produktifitas, budaya industry, dan lain – lainnya terkait perusahaan tambang.

Merry Yoweni mengaku sudah bertekad bulat, bahwa ia bisa terjun ke dunia tambang, karena ia  cukup paham daerah – daerah mana saja di Nabire khususnya yang punya cukup kandungan mineral berharga, karena dari almarhum suami dulu saya banyak belajar dan masih di ingat semuanya.

“setelah memperoleh ijin areal tambang di Musairo seluas 25 hektar, maka CV Makimi Indah akhirnya beroperasi untuk melakukan operasional pendulangan emas di Musairo, Nabire, waktu awal – awal memulai kadang sehari bisa dapat ½ Kg, tapi juga pernah hanya dapat 5 ons, dan saya terlibat semua proses dari awal, bahkan masuk ke hutan dan lokasi tambang, kita menggunakan alcon awalnya, yang skala kecil dulu, semua proses dalam produksi saya ikuti sehingga saya cukup kuasai secara teknisnya”, kata Merry.

Ketika itu bisa di katakana orang asli Papua dan perempuan pula yang pertama kali terjun ke dunia tambang dan punya izin pengelolan hasil tambang hingga mencapai 25 hektar itu barulah Merry Yoweni

“itu menjadi usaha keluarga, sodara, om – om saya, semuanya ikut membantu saya, dan puji Tuhan CV Makimi Indah tetap eksis hingga kini dan terus bertumbuh, teknik dulangnya gunakan alcon kecil, yang harga 3 – 4 juta, sampai akhirnya saya ada modal sedikit, saya bikin PT, namanya PT Krister Jaya yang bergerak di bidang kehutanan, karena lahan dulang itu lalui areal hutan kayu, setelah bicara dengan masyarakat di kampung akhirnya saya buka PT yang bergerak di kehutanan untuk memanfaatkan kayu – kayu yang ada di areal tambang maupun potensi kehutanan di Nabire yang belum tergarap”, katanya.

Dengan bendera PT. Krister Jaya, yang merupakan singkatan nama kedua orang tuanya Kris dan Ester, Merry Yoweni memberanikan diri ekspansi merambah sector kehutanan, tidak tanggung – tanggung, ia berani membuka jalan logpound hingga 30 Km agar memudahkan proses mobilisasi hasil hutan di areal konsesinya.

“saya harus buka jalan sepanjang 30 Km untuk bisa sampai ke areal yang akan di garap baik kayu maupun jadi areal tambang emas, kita sewa alat 1 bulan, kita jual kayu di kota, dan hasilnya kita pake buka hutan dan bikin jalan secara bertahap”, katanya lagi.

Sekitar tahun 2004, Nabire di landa gempa bumi dan bencana alam, sehingga banyak lembaga donor internasional yang turun tangan mengatasi bencana alam dimaksud, termasuk salah satu LSM dari Inggris.

“waktu itu saya di hubungi Ibu Toni Karubaba (ibu Wakil Bupati-Red), bahwa ada sebuah LSm internasional yang butuhkan tenaga local Papua yang mahir berbahasa Inggris, dan saya di minta untuk membantu LSM tersebut, karena usaha saya sistemnya sudah bagus, dan bisa di tinggal saya terima tawaran itu”, kata Merry Yoweni.

Usahanya baik di sector tambang emas maupun kehutanan tengah naik daun, tetapi perempuan mungil tersebut memilih untuk kembali terjun ke dunia LSM dan melepaskan operasional perusahaannya kepada sodara dan kerabatnya.

“jiwa saya sebenarnya memang lebih sreg bekerja social, bisa menolong orang banyak, makanya saya terima untuk gabung ke LSM tersebut, tapi usaha saya sudah pastikan tetap berjalan, karena sudah ada system dan manajemen yang saya buat sebelumnya, sehingga usaha jalan, kerja social di LSM juga jalan”, kata Merry.

Ia mengakui selama bekerja di LSM itulah ia banyak belajar, banyak tahu tentang Papua dan banyak merenung tentang Papua, tentang bagaimana mengangkat dan meningkatkan taraf ekonomi orang Papua hingga ke pedalaman – pedalaman.

“ada kepuasan kerja dengan LSM, saya bisa sampai ke banyak pedalaman Papua, bisa melihat, merasakan, dan memikirkan bagaimana bisa menolong orang Papua secara langsung, saya sampai di Yahukimo dengan masyarakat yang kelaparan, sakit, dan lainnya, kita bersentuhan langsung, itu yang membuat saya merasa puas dan bangga bisa melakukan itu”,

kata Merry Yoweni yang mengaku bekerja selama kurang lebih 2 tahun di LSM tersebut.

Ditengah kesibukannya kerja social menolong rakyat, dan juga padatnya memantau dan mengawasi operasional dua perusahaan keluarga yang di rintisnya, ada obsesi terpendam seorang Merry Yoweni yang terpaksa harus ia kubur sewaktu tamat SMA dahulu dan memilih menikah dini demi menolong keluarga dan memastikan keberlanjutan sekolah adik – adiknya ketika itu.

“meski sekian tahun vakum, ada impian saya yang terpendam, dan saya pikir waktu itu momentnya pas untuk saya wujudkan impian itu, saya ingin kuliah lagi”, tutur Merry.

LSM tempatnya bekerja menugaskan Merry Yoweni di Yahukimo, dengan berkantor di salah satu hotel di Wamena, sehingga setiap hari dipagi menggunakan pesawat carteran mereka bekerja di Yahukimo waktu itu ikut membantu menangani masalah kelaparan dan sejumlah masalah social lainnya, sore harinya dengan menggunakan pesawat yang sama mereka kembali ke Wamena sebagai home basenya.

“saya sempat main ke Jayapura dan saya lihat ada moment untuk saya mendaftar ikut kelas ekstensi di Uncen, saya ambil jurusan Hukum waktu itu, jadi tiap hari Jumat dari Wamena saya terbang ke Jayapura untuk kuliah, Senin sudah kembali ke Wamena kerja lagi, itu saya lakoni sekian waktu, lelah memang, tapi saya tetap enjoy jalani karena ada dukungan juga dari suami dan keluarga”, katanya walau memang semua tidak berjalan mulus sehingga memasuki tahun ketiga masa kuliahnya, Merry dihadapkan pada pilihan sulit.

Ia dipercayakan sebagai penanggung jawab penuh untuk program di Yahukimo, jadi tanggung jawabnya juga kian besar, terpaksa ia harus cuti kuliah, waktu itu tahun 2010, akhirnya studi Merry Yoweni tertunda lagi, padahal saat itu sambil kuliah ia juga sudah mulai aktif di Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) yang berkantor di Jayapura di bawah pimpinan Jhon Haluk

Hebatnya, di sela – sela kesibukannya yang padat itu juga dia masih menyempatkan diri sebagai pengajar Bahasa Inggris di SMA Advent di Nabire.

“saya gabung di KAPP sejak 2007, waktu itu 2006 itu ada Pak Jhon Haluk sudah mulai dirikan KAPP ini, ketika itu saya masih di Yahukimo sebagai staff LSM juga, di sela – sela kegiatan itu saya juga masih menyempatkan diri sebagai guru bahasa inggris di SMA Advent di Nabire, padahal saya hanya tamatan SMA”,

kata Merry mengenang bejibunnya aktifitasnya waktu itu.

Sekuat – kuatnya fisik seorang manusia, pasti ada batasnya, kurang lebih enam bulan focus di Yahukimo, Merry Yoweni terkena malaria tropika plus 4, sehingga harus mendapatkan perawatan intensif di Jayapura untuk waktu yang lama.

“Tahun 2008 akhirnya saya putuskan keluar dari LSM dan focus di KAPP, waktu itu juga saya kena penyakit malaria tropika plus 4 sehingga harus turun ke Jayapura untuk berobat, tapi setelah sembuh saya tidak kembali lagi ke Yahukimo, undur dari LSM, dan focus bantu Pak Jhon Haluk benahi KAPP, waktu itu saya dipercayakan sebagai Bendahara”, katanya mengenang.

Keputusan besar itu ia ambil berdasarkan pengalaman panjangnya terlibat di LSM dan bersinggungan langsung dengan orang Papua di kampung – kampung, impiannya bahwa lewat KAPP suatu saat kelak akan banyak muncul pengusaha Papua yang kuat dan mapan sehingga tidak selalu berharap bantuan dari pemerintah maupun pihak asing (LSM) saja.

“Selama kerja di LSM itu yang jadi pertanyaan saya kenapa bantuan dari luar negeri itu hanya lebih kepada menangani masalah bencana, kenapa bukan pemberdayaan dan menguatkan masyarakat Papua secara ekonomi, makanya saya waktu itu memilih focus di KAPP, dimana satu nasehat yang saya tidak lupa dari (alm) Jhon Haluk saat mengajak saya untuk bergabung dalam KAPP itu, beliau mengatakan, “mari bantu saya datang kerjakan ini, kita focus disini, suatu ketika orang rame – rame datang di KAPP, itu baru kita tahu kita berhasil, dia tidak mejatuhkan orang, tapi motivasi saya, dan saya pikir inilah jalan yang harus saya tekuni untuk menolong banyak orang Papua agar bisa lebih sejahtera”, katanya mengakhiri sesi wawancara dengan Lingkar Papua. (***)

Sumber: https://www.tifaonline.com/

Yoweni dikukuhkan memimpin KAPP

Ketua Umum Terpilih KAPP Pusat Merry C Yoweni berpose bersama usai dikukuhkan secara adat di Sentani pada Rabu (7/1). Jubi/ist
Ketua Umum Terpilih KAPP Pusat Merry C Yoweni berpose bersama usai dikukuhkan secara adat di Sentani pada Rabu (7/1). Jubi/ist

Jayapura, Jubi -Pemimpin suku atau Ondoafi  wilayah Saireri mengukuhkan Ketua Umum Terpilih Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) periode 2018-2023, Merry Costavina Yoweni, sebelum melaksanakan tugas di Obhe Oheeiyonggi atau rumah para-para adat. Prosesi  pengukuhan bertujuan sebagai restu bagi KAPP sebagai organisasi yang diturunkan dari sisi kearifan lokal.

“Jadi kami memohon restu sebelum melaksanakan tanggung jawab dalam hal melindungi usaha orang asli Papua di atas tanah ini pada lima wilayah adat,” kata Sekretaris Panitia Pengukuhan Adat, Kristovel Mara,  kepada Jubi, (7/2/2018).

Pengukuhan secara adat dilakukan Mananwir, Kepala Suku Apolos yang mewakili wilayah adat Saireri, hal itu dilakukan meski KAPP berkantor di kawasan Mamta.

“Jadi dalam prosesi adat ini, ketua umum terpilih KAPP periode 2018 hingga 2023 menggunakan busana adat dan dikukuhkan untuk mendapat restu dari alam dalam menjalankan tugas kepemimpinannya sebagai anak tanah,” ujar Kristovel Mara,

Pengukuhan itu juga memberi makna bahwa Ketua Umum Terpilih KAPP menghargai adat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Ia menyebutkan pengukuhan itu juga menggambarkan adanya pemberian tongkat komando dari adat untuk menjalankan tugas dan fungsinya dalam membangun ekonomi orang asli Papua.

Sebelumnya, Merry Costavina Yoweni terpilih kembali menjadi Ketua Umum Kamar Adat Pengusaha Papua Pusat periode 2018-2023 pada Konferensi III KAPP se-Bumi Cenderawasih.  “Rencananya akan dilantik oleh Gubernur Papua pada 9 Februari 2018,” katanya. (*)

Konferensi III KAPP, Merry Yoweni terpilih kembali sebagai Ketua

Pembukaan Konferensi III KAPP oleh kepala biro ekonomi Provinsi Papua Papua, Ribka Monim atas nama Gubernur yang menyerahkan secara resmi Pergub no. 45 tahun 2017 tentang Kamar Adat Pengusaha Asli Papua.
Pembukaan Konferensi III KAPP oleh kepala biro ekonomi Provinsi Papua Papua, Ribka Monim atas nama Gubernur yang menyerahkan secara resmi Pergub no. 45 tahun 2017 tentang Kamar Adat Pengusaha Asli Papua.

Jayapura, Jubi – Merry C Yoweni terpilih kembali menjadi Ketua Umum Kamar Adat Pengusaha Papua Pusat periode 2018-2023 pada Konferensi III KAPP se-Bumi Cenderawasih yang dilaksanakan selama sehari pada Selasa (12/12/2017).

Ketua Panitia Konferensi III KAPP se-Tanah Papua Benyamin Gurik di Jayapura, Selasa, mengatakan masa bakti kepengurusan yang lama seharusnya berakhir pada 2018, namun karena pertimbangan khusus akhirnya pelaksanaannya dipercepat tiga bulan lebih awal.

“Selain itu, kami juga mempertimbangkan mengenai kondisi pemerintah di Papua pada 2018 yang akan menjadi tahun politik karena masa pemilihan gubernur,” katanya.

Menurut Benyamin, jika pada 2018 tidak ada badan pengurus yang definitif maka akan mempersulit sosialisasi peraturan gubernur (pergub) ekonomi kerakyatan yang telah digagas KAPP.

“Nantinya jika tidak segera diambil sosialisasi atau konsolidasi maka pergub ini akan gugur di mana hal tersebut tergantung pada kepengurusan yang harus melakukan konsolidasi hingga ke tingkat kabupaten/kota,” ujarnya.

Dia menuturkan meskipun pelaksanaan konferensi ini dilakukan lebih awal, namun tidak menyalahi Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART).

“Dalam ketentuan disebutkan konferensi bisa digelar lebih awal dengan pertimbangan-pertimbangan khusus, seperti konstelasi yang akan terjadi pada 2018 di Papua karena pemilihan gubernur,” katanya.

Selain itu, dari 42 KAPP di kabupaten/kota se-Tanah Papua, 28 di antaranya telah satu suara atau secara aklamasi merekomendasi, mengusung serta memilih ketua yang lama untuk menjadi ketua terpilih periode 2018-2023 dan ini telah memenuhi kuorum guna membuat keputusan organisasi yakni 50 plus satu. (*)

KAPP minta draf Pergub kebangkitan ekonomi dibahas

Pengusaha Asli Papua yang terakomodir dalam KAPP melakukan Jumpa pers - (Doc/Jubi)
Pengusaha Asli Papua yang terakomodir dalam KAPP melakukan Jumpa pers – (Doc/Jubi)

Jayapura, Jubi – Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) minta agar pemerintah provinsi setempat segera membahas draft Peraturan Gubernur  tentang kebangkitan ekonomi masyarakat Bumi Cenderawasih. Draft Pergub ekonomi kerakyatan yang digagas itu telah serahkan sejak 7 September 2017 lalu.

“Pergub ini mengenai petunjuk teknis pelaksanaan Peraturan Daerah Khusus Nomor 18 tentang Ekonomi Kerakyatan,”  kata Ketua Umum KAPP Pusat, Merry C. Yoweni, di Jayapura, Minggu, (8/10/2017).

Menurut Merry, salah satu draf Pergub itu terkait dengan dorongan tiga persen dari dana Otonomi Khusus (Otsus) diberikan kepada pengusaha Orang Asli Papua (OAP). “Alasanya sebagai bentuk dukungan dan bantuan perekonomian masyarakat,” kata Merry menambahkan.

Ia mengaku sejak diserahkan kepada Pemprov Papua terhitung satu bulan sehingga kini namun belum ada sikap dari pemerintah provinsi. Menurut dia, jika segera dibahas maka dapat ditindaklanjuti, sehingga pada 2018 sudah dapat direalisasikan kepada masyarakat Papua.

Sebelumnya, sebanyak 10 ribu masyarakat Papua yang merupakan pengusaha asli Bumi Cenderawasih mendeklarasikan kebangkitan ekonomi bersama Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP). Mereka memadati Kantor Gubernur Dok II Jayapura, pada Kamis 7 September 2017 lalu.

Selain deklarasi kebangkitan ekonomi mereka menyelenggarakan serangkaian kegiatan panggung hiburan yang menampilkan kelompok musik reggae, penyediaan 10 ribu kotak makan, penandatanganan kontrak kerja sama dengan asosiasi-asosiasi orang asli Papua dan penyerahan bantuan modal usaha secara simbolis kepada anggota KAPP.

Anggota KAPP Benyamin Gurik, mengatakan  Pemerintah provinsi harus merespon aspirasi ini. “Sebab momentum ini akan dikenang oleh generasai papua,”katanya. (*)

5 ribu pengusaha asli Papua terima bantuan gubernur

KAPP dan Himpari Papua gelar jumpa pers di kantor KAPP Pusat - Jubi / Hengky Yeimo
KAPP dan Himpari Papua gelar jumpa pers di kantor KAPP Pusat – Jubi / Hengky Yeimo

Jayapura, Jubi  Dalam kurun waktu 6-8 bulan di tahun ini, Gubernur Papua telah menggelontorkan dana usaha kepada 5000 pengusaha asli Papua. Dana tersebut dikirim langsung ke rekening penerima.

Hal itu disampaikan Ketua Kamar Adat Pengusaha Papau (KAPP) Merry Yoweni, kepada sejumlah awak media pada konferensi pers yang digelar di Kantor Pusat KAPP, di Perumnas Satu Waena, Selasa (22/8/2017).

Merry Yoweni mengatakan, itu salah satu bentuk perhatian Gubernur Papua dalam meningkatkan pemberdayaan ekonomi.

“Kami sudah melakukan koordinasi dengan membuat laporan pertanggungjawaban kepada pemerintah. Kami membuktikan kepada pemerintah bahwa kami anak-anak Papua juga mampu mempertanggungjawabkan uang negara dengan baik,” katanya.

Sementara itu, perwakilan pemuda Port Numbay Musa Tokoro mengatakan, semua pihak harus mendukung apa pun langkah-langkah dan kebijakan gubernur yang mendukung bangkitnya ekonomi masyarakat Papua.

“Kami sangat menghargai gubernur dengan keberpihakannya kepada orang asli Papua, dalam memberdayakan eknomi masyarakat,” Mussa Tokoro. (*)

10 ribu pengusaha OAP akan temui gubernur

KAPP dan Himpari Papua gelar jumpa pers di kantor KAPP Pusat - Juni / Hengky Yeimo
KAPP dan Himpari Papua gelar jumpa pers di kantor KAPP Pusat – Juni / Hengky Yeimo

Jayapura, Jubi  Sekitar 10 ribu anggota Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) dan Asosiasi Lokal Pengusaha Papua yang tergabung dari 15 organisasi usaha, rencananya akan bertemu gubernur, 31 Agustus 2017 mendatang.

Hal itu disampaikan Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) Merry Yoweni, kepada sejumlah awak media dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Pusat KAPP, di Perumnas Satu Waena, Selasa (22/8/2017).

Merry Yoweni mengatakan, pengusaha yang akan bertemu gubernur itu, mulai dari pengusaha penjual pinang, mini mikro, pemilik CV dan PT.

“Untuk menyampaikan mengenai peraturan gubernur tentang kebangkitan Orang Asli Papua (OAP). Kami akan menghadap gubernur  untuk menandatangani pergub petunjuk teknis pelaksanaan perdasus No 18, terkait ekonomi berbasis masyarakat. Agar tiga persen dari otsus itu diberikan kepada pengusaha asli papua supaya bisa membantu perekonomian orang asli papua,” kata Merry Yoweni.

Merry Yoweni mengatakan, sepanjang proses ini berjalan pihaknya baik dari KAP maupun asosiasi pengusaha asli papua, memutuskan bersatu memperjuangkan hak orang asli papua.

“Selama ini kami OAP sangat susah mengakses permodalan ke perbankan,” kata Yoweni.

Ia menambahkan, selama 72 tahun orang Papua berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, tapi tidak ada orang Papua yang bisa diandalkan dalam dunia usaha.

“Sudah saatnya kami bangkit untuk meminta hak-hak kami kepada pemerintah sebagai aktor utama pembangunan di atas tanah Papua,” katanya.

Sementara itu perwakilan Himpunan Pengusaha Pribumi Asli Papua (HIMPARI PAPUA) Frangky Mirino mengatakan, pihaknya telah mempunyai badan hukum di bawah naungan KAP Papua.

“Kami ingin maju dan meningkatkan ekonomi kerakyatan yang dimiliki OAP. Di bawah payung KAPP kami dibentuk untuk bisa maju bersama saudara serumpun di Tanah Papua untuk membangun ekonomi,” katanya. (*)

Jhon Yonathan Kwano: Lukas Enembe Pasti Menang Pilkada Mendatang, Tapi untuk Entrepeneur OAP akan Merugikan

Jhon Yonathan Kwano, Direktur PAPUAmart.com dari KSU Baliem Arabica bertempat di Jalan Raya Sentani, Hawai No. 05 menyatakan dalam percakapan singkat dengan media PAPUA.business bahwa Gubernur incumbent Lukas Enember, apalagi masih bersama dengan Wakil Gubernur Klemen Tinal pasti akan memenangkan Pemilihan Umum tahun 2019 untuk menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua. Akan tetapi Kwano mengatakan

Kalau mereka dua berpisah, artinya Klemen Tinal juga mencalonkan diri sebagai Gubernur dan Lukas Enemeb juga mencalonkan diri menjadi Gubernur, maka aspirasi orang Papua akan terbagi dua, karena kedua-duanya selama ini disukai oleh OAP di kampung-kampung.

Kwano selanjutnya mengatakan

Walaupun saya bilang orang di kampung-kampung suka sama mereka dua, tidak berarti saya suka mereka. Saya tidak berbicara atas dasar suka-tidak suka, tetapi berdasarkan realitas apa yang mereka telah kerjakan untuk entrepreneur di Tanah Papua selama ini, saya harus jujur mau katakan bahwa kalau mereka berdua terpilih kembali, entrepreneurship di Tanah Papua pasti akan merayap lagi selama lima tahun lagi.

Ditanyakan mengapa orang di kampung-kampung senang, Jhon Kwano mengatakan karena orang kampung, masyarakat biasa kan senang nonton film-film “action”, jadi selama ini drama-drama action yang dimainkan di pentas politik di Tanah Papua cukup menarik untuk ditonton. Itu saja alasannya. Katanya

Itu saja yang buat masyarakat Papua pada umumnya mau Lukas Enembe memimpin untuk perode kedua. Dunia sekarang ialah sepenuhnya panggung sandiwara. Jadi, siapa yang pintar main sandiwara, dia yang suka ditonton orang. Lihat saja orang-orang tua pegang smartphones hari ini, kebanyakan mereka gunakan untuk apa? Mereka main game, bukan? Saat ada telepon masuk, saat ada panggilan dari anggota keluarga, apa kata mereka? Sssst! mengapa? Mereka lagi sibuk main game.

Orang Papua lupa, bahwa mereka saat ini hanya menjadi penonton. Padahal Presiden Joko Widodo mau semua orang yang ada di dalam NKRI harus menjadi pemain di dalam film-film dimaksud, tidak boleh jadi penonton lagi. Tetapi orang Papua kan senang menjadi penonton, menjadi komentator, senang bermimpi yang muluk-muluk, sampai-sampai mendewakan Papua Merdeka, membicarakannya siang dan malam, sampai tidak makan, tidak minum, tidak tidur.

Nah, dalam kondisi mentalitas orang Papua seperti ini, Lukas Enembe memang cocok. Ya, betul kita butuh pemain drama, bukan pendidik, bukan ekonom, bukan nasionalis.

Pernyatan-pernyataan ini menarik sehingga percakapan terus digali. Banyak hal mengemuka, tetapi pernyataan-pernyataan seperti ini menarik, karena alasan-alasan yang diberikan juga cukup rasional. PAPUA.Business News mengajukan pertanyaan seputar apa saja yang sudah dikerjakan Lukas Enembe selama ini, yang diharapkan orang Papua supaya diteruskan. Kwano meneruskan

Apa yang dikerjakan Lukas Enembe selama ini untuk Papua Bangkit apa? Untuk Papua Mandiri apa? Untuk Papua Sejahtera apa? Tiga pilar ini menggunakan konsep gerbang emas Papua? Ini istilah-istilah dari ilmu apa? Itu baru konsep, belum pemain yang dilibatkan menerapkan konsep itu. lebih parah lagi.

Joko Widodo membawa kabinetnya menurut keahlian dan kemampuan mereka di lapangan, juga menurut latar-belakang sosial-budaya mereka. Menteri-menteri yang berhbungan dengan ekonomi, siapa yang pantas? Ya, ya paham dan mempraktekkan ekonomi di dunia, yang menghidupi dunia ekonom, bukan membaca, menghafal, membicarakan, mendramatisir, memperdagangkan ilmu ekonomi, bukan pemain panggung ekonomi seperti yang dipasang Lukas Enembe.

Siapa yang dipasang Lukas Enembe sebagai Kepala Dinas, Kepala Biro yang berhubungan dengan ekonomi di Tanah Papua? Bukan orang-orang ekonomi, bukan orang-orang yang latar-belakang sosial-budayanya ekonomi, bisnis atau perdagangan sama sekali. jadi, pemain bola kaki masuk dipasang Lukas Enembe main bola volley, pemain belakang dpasang sebagai striker. Semua orang tahu, dan paham, dan pasti masuk akal kalau melihat Kepala Biro di Provinsi adalah orang-orang keturunan China atau orang-orang Makassar yang darah-dagingnya memang di dunia bisnis. Tetapi ternyata kan tidak begitu? Yang dipasang orang pemain lain, ya ekonomi Papua esperti ini.

Diceritakan lagi kebijakan-kebijakan Lukas Enembe dengan istilah Gerbang Mas Papua dan pendekatan degnan KAPP (Kamar Adat Pengusaha Papua), Jhon Kwano menjawab,

Saya tidak bicara masalah proyek. Saya bukan pengusaha proyek pemerintah. Saya bicara seperti Joko Widodo, pengusaha dalam artian entrepreneur yang punya usaha berorientasi kepada konsumen, pelanggan. Arah bisnisnya bukan menadahkan tangan ke atas, tetapi membalik tangannya dan menggali di dalam tanah untuk mendatangkan keuntungan. Boleh-boleh saja Gerbang Emas, Gerbang Perunggu, Gerbang Perak, apa saja, boleh saja Kamar Adat, Kamar Perempuan, dan Kamar apa saja, tetapi berapa orang entrepreneur Papua yang sudah berdiri di atas kaki sendiri, dibuat terlepas dari Proyek Pemerintah?

Saya sudah bolak-balik pulau Jawa selama hampir 5 tahun, dalam rangka menjual Kopi Papua dan buah merah (Tawy Papua) dan saya belum temukan entrepreneur Papua sejati.

Ditanyakan selanjutnya tentang harapan-harapan untuk memperbaiki kekurangan yang telah nampak di era 5 tahun sejauh ini, Jhon Kwano kembali menegaskan

Ya, pertama-tama, dan terutama, fokus ke mama-mama Papua, yang selama ini berjualan di atas tanah di Kota Jayapura, kena hujan, kena panas. mereka bukan tahanan. Mereka tidak melanggar hukum lahir sebagai mama-mama Papua. Mereka tidak berdosa menjadi mama-maka Papua. Di Angkasapura Jayapura Utara, di Yotefa Abepura, di Expo Waena, di Pasar Lama (Jl. Yahim) Sentani sampai di seluruh kabupaten di Tanah Papua, semua orang Papua punya tempat jualan di mana? Di atas Tanah! Di panas terik, di ruang terbuka. Coba untuk 5 tahun berikutnya hanya punya satu program: Masukkan  semua penjual orang Papua dari atas tanah ke tempat jualan yang layak-manusiawi. Kalau tidak bisa, jangan bicara gerbang emas, gerbang perak, gerbang perunggu. Itu istilah-istilah dalam drama politik belaka, di kulitnya emas, di dalamnya tanah liat. Jangan buka banyak gerbang, nanti Iblis juga terbang masuk-keluar lewat gerbang itu.

Yang kedua, organisir semua entrepreneur OAP dengan baik. Salah satu cara yang paling tepat saat ini, di era ini ialah dengan mengorganisir ntrepreneur Papua secara Online. Pertama dengan mengunang semua entrepreneur Papua mendaftarkan diri secara Online. Semua entrepreneur Papua, terpusat dengan administrasi pengusaha Papua yang jelas dan baku, di mana semua orang punya kesempatan dan hak yang sama untuk mendaftarkan diri, dan mendapatkan kesempatan dan fasilitas yang tersedia dalam paket Otonomi Khusus secara fair. Biarkan OAP sendiri mendaftarkan diri, dan melaporkan kondisi usaha mereka, dan dikoordinir oleh satu Biro namanya Biro Entrepreneur OAP di Provinsi Papua. Minta maaf, dalam otak orang Papua harus bedakan antara pengusaha proyek dan pengusaha entrepreneur supaya kita tidak salah paham. Yang dimaksud di sini ialah entrepreneur OAP.

Indonesia ini sangat kotor, untuk menjaga orang Asli Papua tidak ikut menjadi kotor, semua orang Papua harus belajar mengembangkan kebijakan dan dokumentasi, bisnis dan usaha dengan integrasi sistem Online: e-government, e-project, e-commerce, e-business, e-entrepreneur, dan seterusnya. Itu yang dilakukan terpidana Basuki Thahja Purnama, dan itulah sebabnya ia dipenjarakan. Dalam berinteraksi di Indonesia, kita dihadapkan dengan gerbang budaya Timur, katanya, yaitu katakan apa yang enak didengar, jangan terus-terang mengatakan apa adanya, biarkan yang salah nanti toh sadar sendiri, lakukan yang enahk bagi kehidupan bersama, jangan coba-coba membela kebenaran mutlak, semuanya bisa diatur, hukum kan dibentuk untuk dilanggar, jadi jangan terlalu pusing kalau melanggara hukum, dan sebagainya.

Yang ketiga, dan terpenting, Lukas Enembe harus mengangkat Penasehat Bidang Ekonomi orang keturunan China atau menyewa penasehat dari Papua New Guinea atau Australia. Kalau orang selain dari itu, percuma kita punya Lukas Enembe menjadi Gubernur Provinsi Papua. Kalau saya bandingkan sebenarnya secara konseptual dan strategis Barnabas Suebu sudah melakukan banyak hal strategis bermanfaat untuk orang papua. Salah satunya Perdasus bagi Provinsi Papua. Berapa perdasus/ perdasi yang telah disahkan oleh Lukas Enembe selama ini? Itu satu contoh saja. Masih banyak contoh lain. Karena apa? Karena penasehat ekomomi dan bidang OAP-nya itu benar-benar untuk OAP, bukan Orang Papua Palsu (OPP).

Ditambahkan juga bahwa entrepreneur Papua di sini bukan sama dengan beberapa Bupati di Tanah Papua yang membuka toko, tetapi menyuruh orang Toraja, orang Jawa, orang Batak yang jalankan toko-tokonya. Ini bukan entrepreneur Papua yang kami maksudkan. Entrepreneur Papua artrinya modal dari orang Papua, dipimpin orang Papua, dijalankan oleh orang Papua sendiri.

Banyak hal yang dibahas, akan tetapi akan dimuat dalam artikel berikutnya. Intisari dari tulisan pertama tentang Lukas Enembe periode kedua ini menekankan satu hal: Hentikan drama, kerja, kerja dan kerja! Dukung kebijakan Joko Widodo, tutup gerbang-gerbang yang memberikan orang Amber keluar-masuk mengatas-namakan OAP.

KAP Papua gabung jurus bangun ekonomi Papua

Kamar Adat Pengusaha (KAP) Papua ketika memberikan keterangan kepada wartawan di Jayapura, Jumat (28/4/2017) – Jubi/Hengky Yeimo
Kamar Adat Pengusaha (KAP) Papua ketika memberikan keterangan kepada wartawan di Jayapura, Jumat (28/4/2017) – Jubi/Hengky Yeimo

Jayapura, Jubi Kamar Adat Pengusaha (KAP) Papua mulai membangun ‘jurus’ baru dalam membangun ekonomi orang asli Papua.

Ketua Umum KAP Papua, Merry Costavina Yoweny dalam coffee morning dengan wartawan di Waena, Kota Jayapura, Jumat (28/4/2017) mengatakan, para pengusaha asli Papua hendaknya melupakan ego sektoral dalam membangun ekonomi di tanah ini.

“Kami satukan pikiran untuk membangun ekonomi Papua. Silakan saja teman-teman asli Papua merantau di organisasi lain, tetapi kami sebagai rumah adat tetap melayani pengusaha Papua yang membutuhkan pertongan,” katanya.

Ia mengatakan, badan usaha berbentuk manajemen disatukan pihaknya. “Senior-senior di Kadin yang sudah berhadapan dengan keadaan ekonomi, mereka siap dengan kami agar generasi muda ini tidak susah dengan kami. Dong pu (dorang punya=mereka punya) anak tidak lebih berat dari mereka,” katanya.

Diharapkan pihaknya juga memberikan informasi lowongan pekerjaan. “Jika pemerintah memberi kesempatan kita bisa share bersama. Kalau kita bicara ekonomi, kita tidak bisa bicara sektor-sektor atau kubu-kubu, karena jika demikian perekonomian tidak akan berkembang,” katanya.

Menurut dia, sebagai anak Papua, sebaiknya menyatukan perbedaan-perbedaan untuk membangun Papua. “Dari pertemuan ini kami ingin menyatukan persepsi dari semua anak asli Papua yang berkecimpung di dunia usaha,” katanya.

Wakil Ketua Umum Pengusaha Asli Papua, Melki Gopo mengatakan, orang Papua tertinggal kalau pengusaha morat-marit.

“Ini tolok ukur pemerintah lihat pengusaha. Tolok ukurnya ada di pengusaha, bertabrakan dengan regulasi. Bagaimana dengan di kampung? Kami sepakat tidak mungkin orang lain yang perjuangkan agar pemerintah membuaka peluang, dibuka organisasi membuat pengusaha lebih baik,” katanya.

Ia mengatakan, asosiasi-asosiasi pengusaha semestinya di bawah payung KAP Papua agar pemerintah tidak bingung. (*)

 

Bank Indonesia Bekali Pengusaha Asli Papua Permudah Dapatkan Modal Usaha

 

Pengrajin Noken, salah satu usaha kecil dan menengah di Papua. (KabarPapua.co/Katharina)
Pengrajin Noken, salah satu usaha kecil dan menengah di Papua. (KabarPapua.co/Katharina)

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura – Bank Indonesia perwakilan Provinsi Papua akan melakukan pelatihan kepada pengusaha asli Papua yang tergabung dengan Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP).

Model pelatihan yang akan diberikan kepada pengusaha asli Papua ini adalah training of trainer, dikarenakan banyaknya anggota organisasi KAPP.

“Dalam waktu dekat kami akan membahasa dengan KAPP untuk jumlah anggota yang akan dilatih,” ucap Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua, Joko Supratikto, Selasa 18 April 2017.

Lanjut Joko, salah satu tugas Bank Indonesia adalah membina usaha mikro dan kecil dari dua sisi, salah satunya untuk memiliki akses terhadap pembiayaan perbankan.

Bank Indonesia juga memiliki ketentuan bahwa perbankan wajib menyalurkan kredit minimal 20 persen kepada usaha mikro dan kecil. “Disinilah Bank Indonesia juga mempunyai kewajiban melakukan pelatihan terhadap usaha mikro dan kecil itu,” jelasnya.

Tak hanya itu saja, Kepala Bappeda Provinsi Papua, Muhammad Musaad menegaskan bahwa Papua memiliki lembaga Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida) yang diharapkan menjadi penghubung antara usaha kecil menengah dan perbankan. Namun, lembaga itu belum efektif melakukan tugasnya sebagai penghubung.

“Khusus untuk KAPP, Pemerintah Provinsi Papua telah menggelontorkan dana miliaran rupiah pada 2016, untuk membina anggotanya yang jumlahnya belasan ribu orang. Jika KAPP menunjukkan hasil positif, pemda pasti akan meningkatkan bantuan modal untuk usahanya,” katanya.

Sebelumnya KAPP mengklaim kesulitan mendapatkan bantuan usaha dari perbankan, terutama kepada usaha kecil dan menengah. KAPP juga meminta adanya pelatihan bagi usaha kecil dan menangah, agar dapat dipercaya oleh perbankan dalam peminjaman modal usaha. *** (Syahriah)

Skip to toolbar