50 pekerja kelapa sawit yang di PHK meminta penjelasan perusahaan

Pekerja kelapa sawit di Lereh yang di PHK oleh pihak perusahaan ketika meminta kejelasan pemutusan kontrak kerja kepada pemilik perusahaan - Jubi/Agus Pabika
Pekerja kelapa sawit di Lereh yang di PHK oleh pihak perusahaan ketika meminta kejelasan pemutusan kontrak kerja kepada pemilik perusahaan – Jubi/Agus Pabika

Jayapura, Jubi – Sejumlah pekerja kelapa sawit PT Sadrindo Jaya Argo Palma di Nuri, meminta kejelasan atas pemberian surat PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) secara sepihak oleh perusahaan kepada 50 pekerja pada Kamis (28/6/2018) lalu, yang dianggap sangat merugikan para pekerja.

Koordinator perwakilan pekerja Tupelius Payokwa mengatakan, awalnya dirinya dan pekerja lain yang bekerja di loading TBS (Tandan Buah  Segar) dipanggil ke kantor untuk diberikan uang yang mereka sendiri tidak tahu kegunaan uang tersebut.

“Tanpa penjelasan yang pasti kami semua yang kira-kira mencapai 70 orang berkumpul untuk mendapatkan uang (pesangon) tapi sebelum kami mengambil uang kami sempat disuruh tanda tangan di atas materai Rp6000 dan surat yang kami tandatangani itu adalah surat penghentian kerja yang kami tidak baca dan besoknya kami kembali untuk kerja ternyata nama  kami sudah di PHK,”

ujarnya Jumat (13/7/2018).

Tupelius juga mengaku bingung. Karena tidak ada satupun kesalahan yang dilakukan mereka saat bekerja, dan tiba-tiba saja dilakukan pemecatan.

“Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba dapat uang karena selesai pemilihan saya pikir saja mungkin ini uang yang dong bagi saja karena kita sudah ikut pemilihan gubernur, kita semua kumpul, dong (orang itu) langsung panggil nama satu-satu maju dan  tanda tangan baru dong bagi uang tapi sa (saya) agak bingung karena dong pu (punya) kertas tu ada materai dan yang dong kasi ke kami tu tanpa materai, yang kita permasalahkan di sini kenapa tidak ada penjelasan?”

katanya.

Sementara itu, Logo Jikwa satu diantara pekerja yang ikut di-PHK mengaku kesal dan tidak tahu titik permulaan pemecatan sepihak ini.

“Memangnya kami lakukan kesalahan apa? Trek kami curi ? Ban, mobil, bensin atau alat apa yang kami ambil sampai mereka buat kita kayak begini?” ungkapnya kesal.

Dari Informasi yang diterima Jubi, korban PHK Cendrawasih sebanyak 20 orang dialihkan pekerjaannya ke Sinar Mas Nimboran dan Arso, namun untuk yang dari kawasan Nuri, 50 orangnya benar-benar di-PHK.

Sebelum kejadian, Bupati Jayapura Matius Awaitow berkunjung ke Lereh dan sempat melakukan musyawarah dengan RT/RW dan Manager PT Sadrindo Jaya Argo Palma. Namun bukannya mendapatkan titik temu, 50 pekerja tersebut tetap di PHK hingga saat ini. (*)

Supermarket Inggris Stop Penjualan Produk Sawit, Pengusaha Indonesia Protes

SATUHARAPAN.COM – Pengusaha kelapa sawit Indonesia menggambarkan jaringan supermarket Inggris, Iceland, sebagai “korban kampanye hitam” setelah memutuskan menghentikan produk yang mengandung minyak sawit.

Ilustrasi. Perkebunan kelapa sawit yang membutuhkan banyak lahan dan sering kali menebas hutan tropis dunia untuk ekspansi perkebunan.(Foto: Dok.satuharapan.com/mongabay.co.id/Rhett A. Butler)
Ilustrasi. Perkebunan kelapa sawit yang membutuhkan banyak lahan dan sering kali menebas hutan tropis dunia untuk ekspansi perkebunan.(Foto: Dok.satuharapan.com/mongabay.co.id/Rhett A. Butler)

“Ini barangkali akibat kurang informasi, sekaligus korban kampanye hitam tentang sawit,” kata Kacuk Sumarto, wakil ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), kepada BBC Indonesia, hari Senin (16/4).

Lebih jauh Kacuk mengatakan Iceland mengambil langkah itu mungkin sebagai imbas dari keputusan parlemen Eropa yang menerapkan larangan pemakaian sawit di biodisel pada 2020.

“Jadi sangat disayangkan, keputusan yang mereka ambil berdasarkan informasi yang kurang lengkap . Kami memprotes keras (atas keputusan mereka),” katanya.

Iceland adalah jaringan pasar swalayan pertama di Inggris yang memutuskan tak akan lagi menjual produk yang mengandung minyak sawit.

Direktur Iceland, Richard Walker, mengatakan “tidak ada minyak kelapa sawit yang berkesinambungan”.

“Minyak kelapa sawit bersertifikat saat ini tidak membatasi deforestasi dan tidak membatasi perkebunan minyak kelapa sawit,” katanya kepada BBC.

“Jadi selama belum ada minyak kelapa sawit yang benar-benar berkesinambungan, yang sama sekali bukan dari deforestasi, kami mengatakan tidak kepada minyak kelapa sawit,” kata Walker.

Iceland saat ini telah menghentikan 50 persen produk yang mengandung minyak sawit dan menurut rencana penghentian total penjualan produk yang mengandung minyak sawit akan diterapkan pada akhir 2018.

Direktur Iceland antara lain menyebut industri minyak sawit menyebabkan deforestasi dalam skala masif.

Ia mengatakan dalam waktu yang singkat setelah dia mengumumkan langkah perusahaannya, hutan seluas 12 kali lapangan sepak bola di Indonesia “akan dibakar dan dibuldoser untuk menanam kelapa sawit”.

Menanggapi alasan ini, wakil ketua GAPKI Kacuk Sumarto mengatakan deforestasi yang dituduhkan sejumlah pihak ke Indonesia adalah deforestasi atau pembalakan di hutan-hutan primer.

“Barang kali satu dua ada ya, itu (dilakukan oleh) rakyat. Tapi jumlahnya kan tidak signifikan,” ujar Kacuk. Ia mengatakan industri sawit di Indonesia melakukan foretasi di hutan-hutan bekas HPH sejak akhir 1960-an.

Langkah yang Diskriminatif

Menurut Kacuk langkah Iceland “diskriminatif dan tidak sesuai dengan prinsip perdagangan yang adil (fair trade)”.

“GAPKI siap mengundang Iceland (ke Indonesia) untuk memberikan penjelasan kepada mereka, tentang pengusahaan kelapa sawit Indonesia yang sustainable,” kata Kacuk.

Selain GAPKI, Dewan Negara-negara Produsen Minyak Sawit (CPOPC) juga menyayangkan keputusan Iceland. Direktur Eksekutif CPOPC, Mahendra Siregar, dalam surat yang dikirimkan kepada Richard Walker menyebut langkah yang diambil Walker “diskriminatif”.

Mahendra mengatakan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh minyak nabati lain seperti minyak bunga matahari dan minyak kedelai jauh lebih besar. Dikatakan pula bahwa sawit adalah minyak nabati paling berkelanjutan.

Total produksi minyak sawit Indonesia pada 2017 mencapai 38 juta ton. Dari angka ini, sekitar 27 juta ton terserap di pasar domestik.

Pasar ekspor terbesar Indonesia adalah India, 27 negara Uni Eropa, dan Cina.

Jumlah ekspor ke Uni Eropa sekitar 5 juta ton. Kacuk mengatakan dari sisi volume, dampak keputusan Iceland tidak terlalu besar. Meski demikian, tetap saja dianggap tidak adil.

Kacuk menduga konteks besar langkah Iceland adalah keinginan agar negara-negara berkembang seperti Indonesia “tidak mengganggu hegemoni pengusaan ekonomi negara-negara besar”. (bbc.com)

Editor : Sotyati

Dana sawit Maybank Rp 34 triliun rusak hutan Indonesia

Ilustrasi hutan terbakar – Tempo.co
Ilustrasi hutan terbakar – Tempo.co

Jayapura, Jubi Kerusakan hutan di Indonesia beberapa tahun belakangan cukup parah. Khususnya di daerah Sumatra dan Kalimantan.

Baru-baru ini diketahui, Maybank, salah satu bank raksasa asal Malaysia, ternyata menyalurkan sekitar Rp 34 triliun kepada perusahaan sawit yang diduga terlibat dalam perusakan hutan Indonesia sepanjang 2010-2016.

Riset terbaru berjudul Maybank: The Single Largest Palm Oil Financier menemukan bank yang dikendalikan Malayan Banking Berhad itu menjadi lembaga keuangan terbesar dunia dalam pendanaan sawit, melalui pinjaman dan penjaminan.

Laporan itu diluncurkan oleh Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia dan Profundo.

Pembiayaan sawit terbesar sendiri dilakukan di kawasan Asia Tenggara, yakni mencapai 50 persen lebih di antaranya tersebar di Malaysia dan Indonesia.

Laporan itu menyatakan enam perusahaan sawit yang menjadi klien terbesar Maybank, diduga bermasalah dengan operasi bisnisnya di Indonesia. Di antaranya terkait dengan aksi deforestasi, kebakaran hutan, perampasan tanah hingga konflik dengan masyarakat lokal.

Sepanjang 2010-2016, Maybank mengucurkan total dana melalui utang maupun penjaminan kepada 24 perusahaan sawit, termasuk yang beroperasi di Indonesia dan Malaysia. Nilai total dari kedua layanan itu mencapai US$ 3,88 miliar atau sekitar Rp 34 triliun dengan kurs Rp 9.000 pada 2010.

Pinjaman pada periode itu mencapai US$ 1,66 miliar dan US$ 2,21 miliar untuk penjaminan.

Wakil Direktur TuK Indonesia Edi Sutrisno menuturkan sedikitnya enam perusahaan sawit yang menjadi klien terbesar Maybank saat ini. Ini terdiri dari Sime Darby, Felda, Batu Kawan Group, Triputra, Genting dan Salim Group.

“Klien terbesar Maybank diduga terlibat dengan konflik berkaitan dengan deforestasi, kebakaran dalam konsesi mereka, dan konflik dengan warga lokal,” kata Edi dalam peluncuran laporan tersebut, Rabu (28/2/2018).

Dia menuturkan pengembangan kebun sawit di Indonesia diduga telah menghancurkan keanekaragaman hayati. Tak hanya itu, kata Edi, namun juga berimbas pada hilangnya lahan masyarakat adat.

Riset Tuk Indonesia dan Profundo menemukan pendanaan baik utang maupun penjaminan Maybank untuk enam klien terbesarnya sepanjang 2010-2016 adalah Sime Derby (US$ 580 juta); Felda Group (US$ 513 juta); dan Batu Kawan Group (US$ 384 juta).

Lainnya adalah Genting Group (US$205 juta) Triputra Group (US$ 192 juta) dan Salim Group (US$ 109 juta).

Laporan itu menemukan klien terbesar Maybank memiliki persoalan di lapangan yang tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, Papua serta Papua Barat.

“Hal ini dapat menyebabkan Maybank mendapatkan dampak risiko pada reputasi dan pembiayaannya,” kata dia.

Metode penelitian yang dipakai dalam laporan itu adalah mengidentifikasi pelbagai perusahaan sawit di Asia Tenggara dengan sejumlah layanan data finansial. Di antaranya adalah Thomson EIKON, Bloomberg, IJGlobal, TradeFinanceAnalytics hingga laporan publik perusahaan.

Fokus pada keberlanjutan

CEO Maybank Datuk Abdul Farid Alias dalam pernyataan resminya menyatakan pihaknya akan memfokuskan pada persoalan keberlanjutan, terutama berkaitan pada pembiayaan yang bertanggung jawab.

Hal itu berkaitan dengan Environmental, Sustainability and Governance(ESG)-standar yang digunakan investor berkaitan dengan penilaian performa perusahaan tertentu.

Salah satunya adalah membuat bisnis perusahaan yang berdampak pada jejak karbon rendah.

Farid juga menuturkan upaya yang dilakukan oleh Maybank itu berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) oleh PBB. SDGs merupakan standar global untuk upaya pembangunan berkelanjutan.

“Kami akan lebih mengeksplorasi cara-cara yang lebih efektif untuk menggabungkan SDGs terkoneksi langsung dengan bisnis kami,” kata dia dalam Sustainability Report 2016.

Dia menegaskan keberlanjutan dalam bisnis juga berarti menyeimbangkan antara kebutuhan klien, pemegang saham dan pemangku kepentingan.

Panduan OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Panduan Pembiayaan Kelapa Sawit Berkelanjutan menyatakan Lembaga Jasa Keuangan harus memahami masalah skema rantai pasok kelapa sawit yang kompleks.

Hal itu bertujuan agar pembiayaan dan produk jasa keuangan yang dikeluarkan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

OJK menyatakan secara umum dampak yang ditimbulkan dari praktik perkebunan sawit adalah konflik sosial, ekologis, iklim, hingga air bersih. Otoritas itu menyatakan konversi hutan oleh perusahaan perkebunan berkontribusi pada perubahan iklim.

OJK menyatakan konversi hutan gambut tropis sebagai penyerap karbon lebih sangat merusak upaya mitigasi iklim.

“Selain itu, pembakaran hutan untuk membuka lahan perkebunan menjadi sumber utama asap di Asia Tenggara, yang mengancam kesehatan secara serius,” demikian keterangan otoritas tersebut.

OJK menyarankan bank dapat mendorong kliennya untuk menerapkan sertifikasi sawit berkelanjutan macam Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) atau Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO).

Di sisi lain, bank juga dapat melihat apakah klien mereka memiliki kebijakan soal lingkungan, sosial dan tata kelola sebelum memberikan pinjaman. (CNN Indonesia)

Kabupaten Biak digadang sebagai pusat perdagangan langsung internasional

Sumber Berita: JituNews.com, Rabu, 20 Mei 2015

JAKARTA, JITUNEWS.COM– Papua ! Provinsi yang berada di paling Timur Indonesia ini, memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Dan salah satu daerah yang berpotensi besar di sektor pertanian adalah Merauke. Pasalnya, kawasan tersebut memiliki berjuta-juta hektar lahan potensial. Karena hal itu, tak heran bila Presiden Jokowi tertarik menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan nasional. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa tanah Papua juga punya potensi lain, apa saja ?

“Kami punya lahan potensial di bidang perkebunan yang baru dimanfaatkan sebagian,” kata Semuel Siriwa, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Papua saat dihubungi via telepon oleh jitunews, Selasa (19/5).

Menurut Semuel, setidaknya ada sekira 5 juta hektar lahan yang tersedia, namun baru 2,3% yang dimanfaatkan untuk perkebunan. Beberapa komoditas perkebunan andalan Papua antara lain, kelapa sawit, kakao, kopi, kapas, karet, hingga tebu.

“Karena itu, lahan-lahan masyarakat juga perlu dimaksimalkan agar tidak hanya perusahaan pengelola saja yang mendapat hasil, petani juga bisa merasakan hasilnya. Nanti mereka bisa bagi hasil yang sama-sama menguntungkan,” ujar Semuel.

Adapun peluang usaha perkebunan di Papua tersebar di berbagai kabupaten. Untuk perkebunan kelapa sawit dan kakao terdapat di Kabupaten Mimika, Jayapura, Sarmi, Boven Digul, Nabire, Mamberamo Raya, Paniai, hingga Asmat.

Selain di ranah perkebunan, Papua juga menjadi salah satu provinsi yang memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Beberapa hasil laut Papua, antara lain udang dan tuna (cakalang). Sementara untuk ikan tawarnya terdiri dari ikan mas, tawes, mujair, nila, gabus, teripang, dan bandeng. Hebatnya, hasil sektor perikanan tersebut menjadi komoditas ekspor utama di Provinsi Papua.

Beberapa daerah di Papua yang memiliki potensi perikanan diantaranya Mimika, Sarmi, Waropen, Biak, dan Nabire. Bahkan, pemerintah Provinsi Papua akan merencanakan Kabupaten Biak, sebagai pusat perdagangan langsung internasional, serta Export Processing Zona dan Free Trade Zona.
“Kami akan kerjakan secara terpadu, pemerintah provinsi juga akan bekerja sama dengan pihak swasta untuk mengembangkan sektor pertanian, perkebunan, hingga perikanan di Papua,” pungkas Semuel.

Penulis : Lina Suryati Wulandari
Editor : Christophorus Aji Saputro

@jitunews: http://www.jitunews.com/read/14334/nggak-hanya-di-ranah-pertanian-ini-potensi-lain-tanah-timor#ixzz3b0aLgqm3
#Jitu #InfoJitu #CaraJitu #TipsJitu

Skip to toolbar