Membeli dua rumah dari hasil jualan papeda bungkus

Yakomina Yoku saat melayani pembelih di pasar Pharaa Sentani - Jubi/Yance Wenda
Yakomina Yoku saat melayani pembelih di pasar Pharaa Sentani – Jubi/Yance Wenda

Sentani, Jubi – Papeda bungkus adalah salah satu makan khas Sentani. Papeda bungkus berbahan dasar sagu, dibungkus menggunakan daun-daun pilihan. Papeda bungkus bisa dimakan dengan lauk ikan, daging babi, ulat sagu, atau daging rusa, tergantung selera.

“Saya sudah berjualan dari tahun 1992. Waktu itu jualan di pasar lama sampai pindah ke pasar Pharaa ini saya masih  tetap berjualan papeda bungkus,” kata Margaretha Wally (54 tahun), perempuan asal Sentani kampung Yoboi Kabupaten Jayapura.

Margaretha Wally mengatakan dia menyediakan menu papeda bungkus dengan berbagai pilihan lauk. Tentu saja harganya pun bervariasi.

“Ada macam-macam lauk. Ada ulat sagu, babi, dan ikan. Dulu itu harganya Rp 20 ribu. Kalau daging babi dan ikan gabus itu harganya Rp 30 ribu. Kalo lauknya ikan lohan harganya Rp 25 ribu,”ucannya menjelaskan.

Perempuan 54 tahun ini mengatakan tentu puaslah dengan mengkonsumsi papeda bungkus, dimana lauk dan papeda yang ditaruh bukan sedikit tap banyak seukuran satu porsi makan orang dewasa.

Untuk membuka usaha ‘warung’ papeda bungkus, Margaretha mengaku membutuhkan modal cukup besar.

“Dalam satu bungkus untuk ikan itu ada tujuh ekor ikan goreng yang sudah dimasak saos dan papeda bungkusnya ada lima. Untuk modal yang mama perlukan itu sekitar Rp 2 juta,” ucap Margaretha Wally.

Dalam satu hari ia membuat 100 bungkus. Pembeli papeda bungkus Mama Margareha tidak hanya orang Papua saja tapi dari berbagai kalangan yang datang ingin mencoba papeda bungkusnya.

“Mama biasa bikin 100 bungkus dalam sehari. Kalau pembeli itu orang Papua banyak. Ada juga orang Ambon, Manado, dan Jawa. Perna orang bule datang beli. Kalo pendapatan yang mama dapat itu dalam satu hari Rp 800 ribu saja,” ucapnya.

Mama Margaretha menjelaskan dari hasil berjualan ini ia sudah menghasilkan rumah dan juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari serta kebutuhan anak-anak yang sedang sekolah.

“Dari hasil ini mama sudah bikin rumah dan sedikit–sedikit mama tambah beli bahan. Dari mama jualan di pasar lama sampai di sini itu mama sudah bikin dua rumah dan juga kebutuhan anak-anak yang sekolah. Terus kebutuhan kita orang Papua itu macam-macam, ada untuk pembayaran mas kawin, macam-macam sudah,” katanya.

Di tempat terpisah, Yakomina Yoku, penjual aneka makanan di pasar Pharaa, mengatakan dirinya menjual beberapa menu selain papeda bungkus.

“Saya jual ada pisang rebus, sayur rebus, dan papeda bungkus. Harganya beda-beda. Kalo papeda bungkus dengan ikan gabus Rp 30 ribu. Ikan merah Rp 20 ribu, sayur pepaya dan bayam Rp 50 ribu, pisang 15 ribu. Pket sayur, pisang, dan ikan Rp 25 ribu,” kata perempuan asal Sentani ini.

Yakomina mengatakan dalam sehari ia bisa menjual 40 papeda bungkus.

“Dalam satu hari itu mama bikin 40 bungkus. Kalo yang datang belanja itu pendatang sama kita punya orang karena mereka bilang makannya punya saos itu enak dan juga tidak menggunakan bahan pengawet,” ucap Yoku.

Yakomina menjelaskan dalam sehari ia bisa mengantongi nilai uang yang cukup lumayan dari hasil jualan papeda bungkus ini. Dari hasil jualan ini, ia gunakan untuk kebutuhan di rumah dan kebutuhan anak-anak.

“Dalam sehari mama bisa dapat Rp 700 ribu. Itu saya pake untuk kebutuhan di rumah dan kebutuhan anak-anak yang sekolah. Mama mulai jualan ini dengan modal Rp 500 ribu saja,” katanya.(*)

Jayapura, Jubi – Penjualan makanan lokal Papua seperti Sagu di pasar baru Youtefa masih di dominasi oleh para pedagang Non Papua. Hal ini terlihat dengan banyaknya para penjual dari Non Papua jika dibandingan dengan penjual sagu dari Orang Asli Papua (OAP).

Misalnya ibu Suriani (56) penjual sagu di pasar ikan Youtefa, mengaku sudah 20 tahun menjalankan usahanya.

“Saya sudah lama jualan sagu. Dulu di pasar lama, setelah pasar terbakar saya pindah dan lanjutkan jualan lagi di pasar Youtefa sampai sekarang,” katanya saat ditemui Jubi di Pasar Youtefa, Kamis (25/8/2016)

Lanjutnya, sagu biasanya ia peroleh dari Sentani dalam bentuk tumang. Tumang adalah kemasan besar sagu yang menggunakan daun sagu dengan ukuran berat sekitar 30 kilogram.

Suriani menjelaskan, sagu lalu ia bagi menjadi ukuran kecil untuk dijual eceran.

“Satu tumang sagu harganya Rp500 ribu. Biasanya dari satu tumang sagu bisa dibagi menjadi 400 tumpuk. Saya jual dengan harga Rp10-20 ribu per tumpuk,” jelasnya.

Ibu asal Makassar ini mengaku dalam sehari mampu menjual satu tumang sagu.

Sementara itu Helena Aud, penjual sagu asli Papua di pasar Youtefa mengaku tidak setiap hari menjual sagu. Ia menjual sagu jika ada kiriman sagu dari keluarga dari Yalimo dan Sentani.

Dari pantauan Jubi di pasar baru Youtefa, Kamis (24/8/2016), penjual sagu didomimasi oleh warga Non Papua ketimbang Orang Asli Papua dengan jumlah perbandingan 9 pedagang non Papua dan 4 pedagang OAP. (*)

Skip to toolbar