Luis, penjual daging babi di pasar karang tumaritis Nabire – Jubi/Titus
Luis, penjual daging babi di pasar karang tumaritis Nabire – Jubi/Titus

Nabire, Jubi Semakin maraknya daging babi dari luar Kota Nabire seperti Manado, Sulawesi Utara yang diperdagangkan di Pasar Karang Tumaris Nabire, Papua dikeluhkan para pedagang daging lokal.

Harga daging babi dari Manado yang dijual Rp70 ribu per kilogram membuat daging babi lokal yang dijual senilai Rp80 ribu per kilogram sulit bersaing.

“Ini yang membuat daging kami kurang laku,” kata Luis, seorang penjual daging babi saat ditemui Jubi di Pasar Karang Tumaris, Rabu (5/4/2017).

Luis bertutur, sebelumnya daging jualannya ini sangat laku tetapi setelah ada yang datangkan dari manado maka sangat mempengaruhi jualannya. “Akhirnya jualan kami merosot tajam. Biasanya satu hari kami potong dua sampai tiga ekor dan habis terjual, tetapi sekarang ini satu ekor saja. Itupun susah habis,” katanya.

Dikisahkan, pernah pihak karantina rutin melakukan razia di kapal-kapal yang masuk ke Kota Nabire. “Saat razia, para penjual daging babi Manado menghentikan berjualan. Dan jualan kami laku. Tapi sudah lama tidak ada razia lagi,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah dapat memperhatikan mereka. Mulai dari perdagangan daging antar pulau dan juga tempat berjualan yang layak.

“Kami di sini bayar pajak, baik harian maupun bulanan. Tapi bangunan tempat jualan ini, kami buat sendiri. Bukan bangunan dari pemerintah,” jelasnya.

Di tempat yang sama, seorang penjual lainnya  Anis mengatakan daging Babi Manado masuk ke Kota Nabire secara ilegal dan bukan melalui perizinan yang resmi.

“Biasanya di dalam kontener itu izinnya sayur atau gula merah. Mereka selip daging babi di situ. Jadi ini soal pengawasan yang kurang,” sesalnya.

Mengenai sepi dan ramai dalam berjualan itu soal rezeki, kata Anis. Namun ia berharap pedagang lokal seharusnya bisa mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah daerah.

“Kalau mau legalkan mereka buat aturan yang jelas. Jangan hanya berat sebelah,” katanya. (*)

Kabupaten Biak digadang sebagai pusat perdagangan langsung internasional

Sumber Berita: JituNews.com, Rabu, 20 Mei 2015

JAKARTA, JITUNEWS.COM– Papua ! Provinsi yang berada di paling Timur Indonesia ini, memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Dan salah satu daerah yang berpotensi besar di sektor pertanian adalah Merauke. Pasalnya, kawasan tersebut memiliki berjuta-juta hektar lahan potensial. Karena hal itu, tak heran bila Presiden Jokowi tertarik menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan nasional. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa tanah Papua juga punya potensi lain, apa saja ?

“Kami punya lahan potensial di bidang perkebunan yang baru dimanfaatkan sebagian,” kata Semuel Siriwa, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Papua saat dihubungi via telepon oleh jitunews, Selasa (19/5).

Menurut Semuel, setidaknya ada sekira 5 juta hektar lahan yang tersedia, namun baru 2,3% yang dimanfaatkan untuk perkebunan. Beberapa komoditas perkebunan andalan Papua antara lain, kelapa sawit, kakao, kopi, kapas, karet, hingga tebu.

“Karena itu, lahan-lahan masyarakat juga perlu dimaksimalkan agar tidak hanya perusahaan pengelola saja yang mendapat hasil, petani juga bisa merasakan hasilnya. Nanti mereka bisa bagi hasil yang sama-sama menguntungkan,” ujar Semuel.

Adapun peluang usaha perkebunan di Papua tersebar di berbagai kabupaten. Untuk perkebunan kelapa sawit dan kakao terdapat di Kabupaten Mimika, Jayapura, Sarmi, Boven Digul, Nabire, Mamberamo Raya, Paniai, hingga Asmat.

Selain di ranah perkebunan, Papua juga menjadi salah satu provinsi yang memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Beberapa hasil laut Papua, antara lain udang dan tuna (cakalang). Sementara untuk ikan tawarnya terdiri dari ikan mas, tawes, mujair, nila, gabus, teripang, dan bandeng. Hebatnya, hasil sektor perikanan tersebut menjadi komoditas ekspor utama di Provinsi Papua.

Beberapa daerah di Papua yang memiliki potensi perikanan diantaranya Mimika, Sarmi, Waropen, Biak, dan Nabire. Bahkan, pemerintah Provinsi Papua akan merencanakan Kabupaten Biak, sebagai pusat perdagangan langsung internasional, serta Export Processing Zona dan Free Trade Zona.
“Kami akan kerjakan secara terpadu, pemerintah provinsi juga akan bekerja sama dengan pihak swasta untuk mengembangkan sektor pertanian, perkebunan, hingga perikanan di Papua,” pungkas Semuel.

Penulis : Lina Suryati Wulandari
Editor : Christophorus Aji Saputro

@jitunews: http://www.jitunews.com/read/14334/nggak-hanya-di-ranah-pertanian-ini-potensi-lain-tanah-timor#ixzz3b0aLgqm3
#Jitu #InfoJitu #CaraJitu #TipsJitu

Skip to toolbar