Salah satu hal yang paling mencengangkan dalam dinamika bisnis terutama yang masih baru dan berskala kecil dalam pasar ialah begitu banyaknya peluang yang datang menghampiri. Yang sering terjadi ialah perusahaan yang lebih besar dan mapan menghubungi startup untuk membicarakan mengenai kemitraan teknis dengan startup dengan ruang dan cara yang lebih canggih. Perusahaan yang lebih besar memiliki kompetensi inti yang sudah teruji keberhasilannya, sumber dayanya juga lebih berlimpah namun biasanya memiliki keterbatasan jumlah insinyur.

Sebuah startup yang bekerja dalam ruang terbatas dianggap sebagai cara paling cepat untuk mengumpulkan solusi perusahaan besar. Sebanyak 95% dari waktu yang tersedia, startup seharusnya tidak menyambut semua peluang dengan begitu mudah.

Jadi kapan saatnya yang tepat Anda mengiyakan sebuah peluang? Mari kita cermati sejumlah alasan berikut:

1. Kemitraan sudah menjamin minimum pemasukan untuk startup bersangkutan dan dana memiliki makna dan peran penting di sini.
2. Belum ada pekerjaan teknik terkustomisasi untuk dikerjakan (misalnya startup memiliki API dan perusahaan besar bisa melakukan semua hal yang mereka ingin lakukan tanpa kustomisasi)
3. Kemitraan seperti yang diajukan merupakan bagian strategi inti startup dan akan menjadi yang pertama dari banyak yang bertampilan serupa.

Cukup tersanjung jika dapat membicarakan hal ini dengan perusahaan yang lebih mapan tetapi tentu tanpa strategi dan rencana matang. Bisa saja semua itu menghabiskan waktu dan tenaga Anda. Saran terbaik yang bisa Anda lakukan ialah jangan terlalu memikirkannya kecuali memenuhi syarat-syarat di atas. (bn)

Sumber:http://www.ayopreneur.com/

Jakarta (ANTARA News) – Para Menteri Ekonomi ASEAN sepakat untuk melakukan kerja sama dengan United States Trade Representatives (USTR) di bidang investasi, terutama dalam hal pemberian bantuan oleh Amerika Serikat (AS) kepada ASEAN untuk memenuhi prinsip-prinsip investasi internasional.

“Melalui kerja sama ini, negara-negara ASEAN termasuk Indonesia dapat mengembangkan iklim investasi di dalam negeri agar dapat menarik lebih banyak investor mancanegara,” kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo, dalam siaran pers yang diterima, Minggu.

Iman yang mewakili Menteri Perdagangan dalam rangkaian Pertemuan Para Menteri Ekonomi ASEAN ke-48 di Vientiane, Laos, tersebut menyatakan, pihak USTR berencana mendirikan US-ASEAN Connect Center di Jakarta, tepatnya di Kedutaan Besar Amerika Serikat.

US-ASEAN Connect Center yang akan mulai beroperasi September 2016 ini akan berfungsi sebagai framework dalam mengkonsolidasikan kerja sama antara ASEAN dan AS di bidang politik, ekonomi, dan sosial. Selain itu, AS juga akan memberikan pelatihan perdagangan kepada ASEAN di bidang e-commerce, kepabeanan, dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang sesuai dengan standar perdagangan internasional negara-negara maju.

Tidak hanya dengan USTR, Para Menteri Ekonomi ASEAN juga menjalin kerja sama dengan pihak Kanada untuk meningkatkan nilai perdagangan barang, jasa, dan investasi kedua belah pihak. Kerja sama tersebut menyepakati dilakukannya Trade Policy Dialogue sebagai acara tahunan untuk mengeksplorasi area kerja sama baru.

Selain membahas upaya-upaya konkret untuk meningkatkan nilai perdagangan, Para Menteri Ekonomi ASEAN juga menugaskan Senior Economic Officials untuk menyusun draft Terms of Reference (TOR) mengenai potensi ASEAN-Canada Free Trade Agreement dengan mencermati dinamika perdagangan internasional di kawasan.

Selain menjalin kerja sama dengan USTR dan Kanada, ASEAN juga bertekad meningkatkan hubungan kerja sama yang saling menguntungkan dengan Rusia. Fokus dari kerja sama tersebut antara lain di bidang investasi, finansial, transportasi, e-commerce, energi, pertanian, serta perekonomian maritim termasuk Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing.

ASEAN sepakat untuk memulai joint feasibility study of a possible free trade area between ASEAN and the Eurasian Economic Union (EAEU) dan mempertimbangkan usulan untuk memulai perundingan EAEU Free Trade Agreement yang dibatasi hanya pada isu perdagangan dan barang.

ASEAN menyambut baik rencana pelaksanaan ASEAN-Russia Agriculture and Food Security Cooperation Work Programme (2016-2020), the ASEAN-Russia Plan of Action on Science, Technology and Innovation (2016-2020), dan the ASEAN-Russia Energy Cooperation Work Plan (2016-2020) yang sebelumnya telah disepakati oleh kedua belah pihak.

Perdagangan barang antara ASEAN dengan Amerika Serikat (AS) pada tahun 2015 mencapai 212,8 miliar dolar AS, atau setara dengan 9,3 persen dari total perdagangan ASEAN. Sedangkan nilai perdagangan jasa kedua belah pihak tercatat sebesar 40 miliar dolar AS pada tahun yang sama.

Nilai investasi asing langsung AS ke ASEAN tercatat sebesar 12,2 miliar dolar AS, dan merupakan sumber investasi terbesar ke-3 untuk ASEAN.

Sementara Kanada merupakan mitra dagang potensial bagi ASEAN dan telah menjadi mitra strategis ASEAN selama hampir 40 tahun. Performa perdagangan barang antara ASEAN dan Kanada pada tahun 2015 tercatat sebesar 16,2 miliar dolar AS atau naik sebesar 13,8 persen dari tahun sebelumnya.

Nilai investasi asing langsung dari Kanada ke ASEAN di tahun yang sama tercatat sebesar 7,6 miliar dolar AS.

Federasi Rusia merupakan mitra dagang ASEAN, dengan total perdagangan sebesar 13,4 miliar dolar AS atau setara dengan 0,6 persen dari nilai total perdagangan ASEAN pada tahun 2015. Hal tersebut menempatkan Rusia sebagai mitra dagang terbesar ke-6 bagi ASEAN.
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Jayapura (SP)—Pemerintah Pusat diminta membangun industri di Papua guna menangkap potensi pemasaran hasil produksi ke negara Pasific.

Hal demikian dikatakan Asisten II Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Papua, Elia Loupatty, di Jayapura Kamis (18/2).

Loupatty menilai sudah saatnya pemerintah mengalihkan pembangunan industri ke Papua sebab ada peluang yang bisa dimanfaatkan.

“Bayangkan seluruh hasil produksi yang dijual di pasar perbatasan Skouw laku keras, mulai dari beras, mie instant, kursi, bahkan tikar, sehingga peluang ini saya kira perlu untuk ditangkap”, kata Asisten II.

Sebab menurutnya dengan kebijakan nasional Tol Laut tidak aka nada kendala terkait transportasi.

“Tinggal dibicarakan dengan pusat, karena bila diangkut dengan kapal laut saya kira 6 jam saja sudah bisa menjangkau negara tetangga”, katanya lagi.

Menurutnya, bila industri dibangun di Papua lalu perdagangannya berorientasi ke Pasific, maka ada sekitar lima hingga enam negara yang siap menampung hasil produksi industry dari Indonesia khususnya Papua.

“Sebenarnya kalau mau diilhat industri besar di pulau Jawa sudah tak mampu menampung, karena itu sudah saatnya pusat melirik Papua, sebab dari segi keuntungan negara di Pasific merupakan pasar bagi Papua, karena itu perlu juga jadi perhatian bagi pusat soal ini”, kata Loupatty.

Menyinggung soal kemahalan harga di Papua, ia mengatakan hal itu disebabkan oleh pembangunan industri yang didominasi di wilayah barat Indonesia.

“Papua selalu yang menanggung beban kemahalan karena pabrik-pabrik dibangun di Jawa, makanya sudah saatnya pabrik di bangun diwilayah timur khususnya di Papua, sehingga wilayah barat sekali-kali menanggung beban kemahalan transportasi. Supaya mereka juga ikut merasakan kemahalan, hingga ada keadilan dalam harga” katanya lagi.

Namun terkait investor yang akan masuk ke Papua, Asisten II menegaskan bahwa Pemprov selama ini selektif dan berhati – hati terhadap investor yang mau menggarap potensi SDA Papua.

“Sebenarnya untuk investor di Papua dari statistik sudah banyak yang berinvestasi hanya mereka tak banyak bergerak dibidang sumber daya alam, sebab Pemprov sangat membatasi serta selektif berdasarkan tata ruang, dimana Papua sangat berkeinginan mempertahankan daerah hijau 81 persen hingga 90 persen”

Makanya ia berharap investor yang masuk bergerak di bidang industri baik menengah maupun skala besar, mengingat luas tanah di Papua cukup. (GRE/R1/D)

MEA: Apakah orang Papua melihatnya sebagai tantangan ataukah sebagai masalah

Judul dan sub-judul tulisan ini menantang kita sebagai OAP untuk berpikir dua kali, atau tiga kali atau berapa kali-pun, dan menjawab dengan pilihan salah satu di antara kedua pilihan: apakah ini masalah ataukah ini tantangan yang mengandung peluang?

Seperti disebutkan dalam artikel Facebook.com yang membahas tentang OAP dan MEA, saat ini OAP ditantang untuk bersikap dan bertindak, menyambut dengan cepat dan memanfaatkan tantangan dan peluang yang disediakan secara merata di seluruh Indonesia, ataukah tetap bersikap apatis dan mengkambing-hitamkan Jakarta dan NKRI sebagai penyebab keterbelakangan dan nasib sial yang selama ini selalu menganggap diri sebagai “korban”, “obyek” dan “sasaran” dari pihak luar tanah Papua.

Dalam tiga hari lagi, yaitu 1 Januari 2016 MEA bergulir, wasit sudah siap, penonton sudah siap, official sudah memberikan aba-aba, pemain sudah masuk di lapangan pertandingan, hanya menunggu wasit mengacungkan ibu-jarinya kepada dua orang Hakim Garis dan meniup peluit pertandingan dimulai.

Pertanyaan sekarang, “Apakah ada orang Papua dalam kesebelasan yang hendak bertanding dimaksud?” Kalau ada “Dia mengenakan baju bernomor punggung berapa?” dan “Dia ada dalam posisi sebagai apa: penjaga gawang, pemain belakang, pemain tengah ataukah pemain depan?”

Tentu saja, dalam pertandingan ini ada inspektur pertandingan, ada hakim garis, ada wasit, ada Panitia Penyelenggara. Kita sebagai OAP menjadi salah satu dari pemain. Jelas-jelas kita akui bahwa OAP tidak ada dalam tim official ataupun dalam penyelenggara pertandingan. Memang Wakil Gubernur Papua baru-baru lalu mengatakan Papua Siap Menyambut MEA, tetapi itu kami nilai hanyalah pernyataan politik amatir, tidak didasari dengan langkah-langkah konkrit, tidak diback-up oleh serangkaian kebijakan yang menunjukkan bukti pernyataan dimaksud.

Kalau saja pemerintah di Singapore atau Hong Kong mengeluarkan pernyataan “Papua siap menyambut MEA”, maka mereka pasti akan dimintakan pertanggung-jawaban membuktikan dengan garis kebijakan dan langkah teknis yang jelas di lapangan menunjukkan pernyataan dimaksud. Tetapi kita di Indonesia dan apalagi di Tanah Papua tidak pernah punya mekanisme dan perangkat untuk memintakan pertanggung-jawaban, apalagi kita OAP sendiri selama ini sudah punya sikap “malas tahu” dengan apapun yang dilakukan apalagi dikatakan oleh pejabat pemerintah di Tanah Papua karena kita menganggap apa yang mereka katakan selalu “berbahaya” dan merupakan “masalah” bagi OAP.

Tulisan ini tidak bermaksud menuntut pertanggung-jawaban, tetapi tujuannya mengingatkan kita orang Papua tentang apa yang pemerintah provinsi katakan dan mengajak kita OAP untuk mengambil langkah-langkah konkrit sendiri, tanpa menunggu pemerintah atau siapapun, menyambut MEA ini dan berpacu dalam kehidupan kita, karena keuntungan sebesar-besarnya dari melibatkan diri dalam pentas bisnis ASEAN ialah kita orang Papua sendiri.

Kami melihat secara jelas, bahwa MEA bukalah masalah, tetapi ini alah peluang besar yang tersedia bagi OAP untuk memacu diri, merebut cita-cita kita demi PAPUA Bangkit!, Papua Mandiri! dan Papua Harmonis!, bukan Papua Sejahtera seperti visi/misis Gubernur Papua.

Mari kita sambut peluang ini! Mari, semua OAP bersatu bersama langkah-langkah yang dirintis KSU Baliem Arabica lewat PAPUAmart.com dengan pendirian Gudang Produk Spesialti Papua di Jakarta saat ini dan terus memacu diri. Kalau OAP ketinggalan zaman, kalau OAP terus tergusur dan terdampar, jangan pernah salahkan NKRI, atau orang Indonesia. Salahkan diri sendiri! Karena peluang ini bukan dilarang, tetapi terbuka lebar bagi kita OAP untuk melihatkan diri dan bersaing di dalamnya.

Dipublikasikan oleh PapuaUntukSemua pada 04.39 WIT.

KOTA JAYAPURA – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Didiek Koesbianto mengungkapkan, total nilai impor Papua pada Mei 2015 sebesar US$ 69,93 juta atau naik 62,25 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Ia menyebut impor 10 golongan non migas utama, senilai US$ 44,27 juta dan golongan non migas lainnya sebesar US$ 5,40 juta. “Komoditi dengan andil terbesar yaitu bahan bakar disel senilai 18,94 juta dolar AS atau 27,08 persen dari total impor Papua,” ujarnya, di Jayapura, Minggu (21/6). Secara kumulatif, sambungnya, total impor Papua dari Januari hingga Mei 2015 mengalaami penurunan sebesar 37,32 persen dibandingkan total pada tahun sebelumnya dan menjadi hanya US$ 264,33 juta. “Impor kumulatif Papua sebesar 264,33 juta dolar AS atau turun 157,35 juta dolar AS dibandingkan total impor kumulatif yang sama pada 2014,” kata Didiek.

Neraca perdagangan Papua, ungkap Didiek, secala kumulatif Januari hingga Mei 2015 mengalami surplus sebesar US$ 404,63 juta. “Penurunan terjadi baik pada impor migas akibar turunnya impor bahan bakar disel sebesar 45,30 juta dolar AS (39,44 persen), maupun pada impor non migas utama karena turunnya impor mesin-mesin atau pesawat mekanik sebesar 68,32 juta dolar AS,” tambahnya. Di periode Mei 2015, kata Didiek, impor dari utama sebesar US$ 57,27 juta atau naik US$ 22,72 juta (65,75 persen) dibandingkan nilainya pada April 2015 yang angkanya mencapai US$ 34,55 juta. “Impor terbear berasal dari Australia dimana 47,15 persen impornya berupa mesin-mesin atau pesawat mekanik. Nilai impor dari negara lainnya pada Mei 2015 sebesar 12,66 juta dolar AS,” ucap Didiek. [Antara]

Sumber artikel : http://www.papua.us/

Bila kita berbicara mengenai Papua, ada 3 hal paling populer dari sana. Yang pertama adalah gudangnya para pemain bola bertalenta, seperti Boaz, Tibo dan lainnya. Papua juga terkenal akan keindahan alamnya, seperti Raja Ampat yang sangat populer saat ini. Dan, yang terakhir adalah sumber daya alam yang sangat berlimpah disana.

Akan tetapi, satu hal yang mungkin tidak diketahui banyak orang mengenai Papua adalah peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Papua dapat dikatakan sebagai tanah sejuta peluang kerja. Hal ini diamini oleh Fajriani, dengan bisnis rental mobil miliknya.

Rental mobil dengan nama UD. Fajriani ini terbilang sangat sukses. Konsumen yang menggunakan jasa usaha ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari turis domestik hingga mancanegara. Pada umumnya, mereka menyewa mobil untuk menjelajahi wilayan Sorong, lokasi rental mobil ini.

Fajriani mengungkapkan bahwa keuntungan yang dia dapat cukup besar. Dalam satu bulan, dia mampu mendapatkan keuntungan antara Rp. 15 juta hingga Rp. 20 juta untuk tiap mobil yang disewakannya.

Jumlah mobil yang dimiliki bisnis rental mobil ini berjumlah 12 unit mobil. Dari 12 mobil tersebut, 5 mobil adalah mobil jenis Fortuner, yang tergolong mewah. Sisanya adalah mobil dengan jenis Inova dan Rush.

Harga sewa mobil juga berbeda, sesuai dengan jenis mobilnya. Untuk mobil jenis Fortuner, harga sewanya mencapai Rp. 1,5 juta. Sedangkan untuk Inova dan Rush, harga sewanya mencapai Rp. 1,2 juta. Bila melihat dari harga sewa dan jumlah mobil yang dimilik bisnis rental mobil ini, dapat diperkirakan omzet yang didapat mencapai ratusan juta Rupiah.

Mungkin Anda berpikir, harga sewa per mobil tergolong sangat mahal. Pada umumnya, harga sewa per mobil untuk satu hari di Jawa hanya sekitar Rp. 350 ribu hingga Rp. 500 ribu. Harga ini juga dapat bertambah, bila kita menggunakan supir dan fasilitas lainnya. Hal ini disebabkan sistem penyewaan mobil yang sangat berbeda dari sistem penyewaan yang banyak digunakan di Jawa.

Menurut Fajriani, bisnisnya menyewakan mobil dengan sistem sekali jalan. Contohnya, bila di Jawa kita menyewa mobil dengan sistem per jam atau per 24 jam, maka bisnis rental mobil Fajriani tidak mengenai tarif tersebut. Saat kita menyewa dari bisnis rental mobil Fajriani, kita hanya perlu membayar biaya sewa tersebut. Lama pemakaian tergantung perjalanan dan keperluan kita, jadi cukup menguntungkan.

Saat ini, usaha jenis ini mulai bermunculan di Papua, khususnya kota Sorong, tempat Fajriani menjalankan bisnisnya. Hal ini menyebabkan persaingan di bisnis ini menjadi kian ketat saat ini. Namun, Fajriani mengaku bila dirinya mampu bersaing dan dia pun tidak akan menyerah. Dia yakin dengan ketekunan dan kesabaran, bisnisnya akan sukses di masa depan.

Posted on Sep 8, 2014 by , sumber:  teropongbisnis.com

Skip to toolbar