Kerajinan tangan berupa tas dari kulit kayu yang dipasarkan di lokasi FDS – Jubi/Engel Wally
Kerajinan tangan berupa tas dari kulit kayu yang dipasarkan di lokasi FDS – Jubi/Engel Wally

Sentani, Jubi Sejak dihelatnya Festival Danau Sentani (FDS) tahun 2007 masyarakat Kabupaten Jayapura mengharapkan agar konten-konten budaya lokal dari kampung-kampung lebih diprioritaskan.

Tokoh masyarakat setempat, Alfredo Suebu menilai FDS belum merealisasi keinginan masyarakat lokal. Festival ini bahkan hanya dinilai sekadar seremonial belaka.

“FDS ini masih menampilkan produk-produk perusahaan yang nyata-nyata tidak bersifat budaya dan kearifan lokal masyarakat. Pertanyaannya, ini festival budaya atau pameran pembangunan. Mestinya yang ditampilkan di sini adalah benar-benar konten lokal yang bersifat kebudayaan dan tradisi masyarakat,” kata Alfredo saat ditemui di arena FDS Pantai Wisata Kalkote, Distrik Sentani Timur, Minggu (18/6/2017).

Oleh karena itu, pada ajang FDS X 19-23 Juni 2017 diharapkan agar kampung-kampung dapat menampilkan potensi-potensi yang mereka miliki.

Tokoh perempuan Papua, Kori Ohee pun berpendapat bahwa selama ini Pemerintah belum menyiapkan tempat yang representatif bagi pelaku usaha ekonomi lokal saat pelaksanaan FDS.

“FDS ini dilakukan untuk kepentingan siapa? Mana tempat yang baik bagi para pelaku ekonomi lokal kita? Selama pelaksanaan FDS kasihan sekali para pedagang yang datang menjajakan bahan makanan tetapi tidak mendapat tempat yang baik,” katanya. (*)

Ini Catatan Penting untuk Festival Danau Sentani ke-10

KABARPAPUA.CO, Sentani – Dalam pelaksanaan Festival Danau Sentani (FDS) yang ke-10 pada 19-23 Juni 2019 ini, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan penyelenggara. Bahkan Gubernur Papua, Lukas Enembe, mengajak dunia usaha mengelola FDS dengan membuat Home Stay di sekitar Danau Sentani, agar memberikan pemasukan bagi masyarakat sekitar.

Tarian di atas Danau Sentani, salah satu acara di Festival Danau Sentani. (KabarPapua.co/Lazore)
Tarian di atas Danau Sentani, salah satu acara di Festival Danau Sentani. (KabarPapua.co/Lazore)

“Sepuluh tahun FDS dilaksanaka, harapan saya dikelola baik agar masyarakat mendapatkan dampak langsung,” kata Enembe usai membuka FDS ke-10 di Kalkhote, Kampung Harapan, Senin 19 Juni 2017.

Namun untuk Home Stay, kata Lukas, pihaknya berharap nantinya tak merusak tatanan adat masyarakat setempat. “Itu harapan saya, siapapun pengusaha yang masuk silahkan asalkan menguntungkan masyarakat setempat,” ungkapnya.

Asisten Deputi Pengembangan Bisnis Pariwisata Kementrian Pariwisata, Tasmir mengatakan, satu-satunya festival yang dilaksanakan secara konsisten selama 10 kali berturut-berturut hanya FDS.

“Ini luar biasa. Ini aset bangsa bukan saja aset Papua. Untuk itu, kedepan selayaknya pembiayaan FDS ini dilakukan oleh pihak swasta. Sebab tempat lain juga sudah digerakkan dunia usaha,” jelas Tasmir memberi saran.

Semenatara, Bupati Kabupaten Jayapura, Mathius Awoitauw mengakui tak memiliki target berapa jumlah wisatawan asing yang akan berkunjung.

“Kami lebih fokus untuk berdayakan wisatawan lokal dalam memanfaatkan apa yang sudah disiapkan dalam festival ini,” ujar Mathius usai membuka FDS ke-10 di Kalkhote, Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin, 19 Juni 2017.

Menurut Mathius, masyarakat lokal yang ada sebagai dasar untuk diperkuat supaya yang dari luar akan tertarik untuk berkolaborasi dengan apa yang ada di Danau Sentani. Kami berharap jika swasta bisa kelola FDS bisa membangun kerja sama lebih bagus dengan negara-negara lainya,” ungkapnya.

Namun Mathius tetap berharap pengunjung FDS ke-10 ini lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. “Nanti bisa lihat saja disaat-saat penutupan pasti banyak pengunjung,” katanya.

Mathius juga mengakui, kawasan Danau Sentani tak cukup untuk menampung para pengunjung pada tahun-tahun yang akan datang. “Kami kewalahan karena kawasan ini tak lagi bisa menampung para pengunjung. Ini tantangan untuk kami, sehingga kedepan lahan yang tiga hektar kami akan perluas lagi,” ungkapnya. ***(Fitus Arung)

Gubernur Papua: Potensi Wisata Harus Terus Dikembangkan dan Dilestarikan

KABARPAPUA.CO, Sentani – Gubernur Papua, Lukas Enembe mengatakan, sektor pariwisata merupakan sektor andalan Provinsi Papua. Sebab potensi wisata Papua, baik di darat, laut maupun danau. Bahkan potensi kultur dan budaya Papua cukup unik, baik tarian-tarian maupun adatnya, sudah dikenal diseluruh Indonesia dan dunia.

“Kekuatan wisata yang ada ini menjadi kebanggaan kita dan juga kebanggaan nasional. Jangan hanya dikembangkan tapi terus dilestarikan,” jelas Lukas saat dirinya membuka Festival Danau Sentani (FDS) ke-10 di Dermaga Kalkote, Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin, 19 Juni 2017.

Gubernur Lukas juga menyampaikan pihaknya akan tetap berupaya meningkatkan jumlah kunjungan para wisatawan baik domistik maupun mancanegara. “Untuk penguatan masyarakat sadar wisata, penggalian budaya lokal terus dikerjakan dengan serius dan terprogram dengan baik,” ungkapnya.

Diakui Lukas, gerakan Papua bangkit, mandiri dan sejahtera sebagai program pembangunan menyeluruh di seluruh tanah Papua menjadi dasar dari upaya-upaya pemerintah untuk meningkatkan pembangunan, termasuk sektor wisata.

“Peningkatan kunjungan wisatawan dan berkembangnya jasa wisata perhotelan, restoran, kuliner dan kerajinan tangan akan membawah kepada kemandirian daerah dan kesejahteraan pelaku dan masyarakat destinasi pariwisata. Kami memang harus bangkit, termasuk kebangkitan masyarakat adat Kabupaten Jayapura yang telah dicanangkan,” jelas Lukas.

Sedangkan dibukanya Jalan Trans Papua, kata Lukas, pihaknya berharap pemerintah kabupaten/kota untuk membuka destinasi-destinasi wisata daerah yang baru, sehinnga setiap daerah memiliki destinasi dan ivent wisata tahunan. “Saya mengajak masyarakat Papua menyiapkan diri sebagai masyarakat sadar wisata yang ramah, sopan dan memelihara kebersihan,” tandasnya. ***(Fitus Arung)

Ilustrasi Wisata Danau Love - Jubi Dok
Ilustrasi Wisata Danau Love – Jubi Dok

Jayapura, Jubi Dinas Pariwisata Provinsi Papua tengah mempersiapkan promosi wisata air yang ada di Jayapura seperti danau Sentani, danau Love dan Tablanusu. Hal ini dipersiapkan untuk mendukung pelaksanaan PON XX tahun 2020 di Bumi Cenderawasih.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Papua, Yoseph Matutina mengatakan pihaknya telah membangun infrastruktur wisata pada 2016, dan ke depannya wisata danau yang ada akan dikembangkan.

“Kami siap mengembangkan destinasi wisata yang ada di Danau Sentani, Danau Love, Tablanusu  dan sebagainya,” kata Yoseph kepada wartawan, di Jayapura belum lama ini.

Ia menilai, danau Sentani, danau Love dan Tabalnusu yang terletak di Kabupaten Jayapura memiliki potensi alam yang menarik dan indah, untuk itu jika dikemas dan dikembangkan secara tepat diharapkan dapat menarik perhatian wisatawan mancanegara maupun internasional.

“Tentu kami harapkan dukungan untuk melaksanakan rencana ini, terutama dari pihak adat dan masyarakar sekitar danau Sentani,” ucapnya.

Kepala Bidang Strategi, Promosi dan Destinasi Kementerian Pariwisata, Hari Ristanto menyatakan pihaknya siap mendukung pemerintah provinsi Papua mempromosikan destinasi wisata untuk menunjang pelaksanaan PON di Papua.

“Kami  berupaya mendorong agar orang tak hanya datang berolahraga kemudian kembali ke daerahnya. Tapi orang datang bisa menyaksikan event olahraga nasional sekaligus berwisata di Papua,” kata Hari. (*)

Author : Roy Ratumakin, October 16, 2015 at 18:35:37 WP, Editor : Dewi Wulandari

Jayapura, Jubi – Noken, koteka, manik-manik, dan lukisan kulit kayu adalah sebagian dari identitas Papua yang jarang sekali terlihat di pasaran. Hal ini mengindikasikan minat pengusaha lokal untuk mengembangkan home industri kerajinan dan cinderamata Papua masih lemah.

Papua memiliki lebih 250 suku yang masing-masing mempunyai ciri khas budaya, bahasa, dan adat yang berbeda. Seharusnya ini menjadi lahan untuk pengusaha Papua mengambil bagian dalam mempromosikan daerah.

Di Kota dan Kabupaten Jayapura hanya dikenal Pasar Hamadi sebagai sentral mendapatkan pernak-pernik kerajinan Papua. Pasar Hamadi sangat terkenal sebagai pusat penjualan souvenir di Jayapura yang banyak diburu wisatawan, terutama kerajinan Suku Asmat.

Beberapa barang ciri khas Suku Asmat seperti koteka, pakaian adat, replika tongkat, dan topi bulu kepala Suku Asmat, banyak dicari di pasar ini.

Di Pasar Hamadi juga dijual lukisan kulit kayu, ukiran, hingga replika patung kayu Suku Asmat yang harganya mencapai jutaan rupiah.

Abepura sebagai kota Pendidikan tidak mempunyai tempat khusus penjualan cinderamata. Hanya mama-mama yang biasa berjualan di bahu jalan menjajakan noken hasil rajutan tangan mereka.

“Kalau saya mau cari cinderamata khas Papua dimana? Saya cari di internet, katanya ada di Pasar Hamadi. Jauh ya? Naik taxi bayar berapa dan berapa jam saya sampai di Pasar Hamadi?” kata Fredy Sapulete, warga Ambon, yang sedang berada di Kota Jayapura, kepada Jubi, Jumat (16/10/2015).

Fredy mengatakan Papua sangat unik, alam dan budaya.

“Papua sangat unik. Saya suka sekali tinggal di sini walau hanya beberapa hari,” katanya sambil menunjukkan noken yang baru dibelinya.

“Saya masih memburu yang lainnya seperti koteka dan tas rajutan dari kulit kayu. Saya juga mau cari ukiran dan patung Asmat, untuk oleh-oleh,” katanya.

Di Pasar Hamadi, harga cinderamata khas Papua ditawarkan beragam. Noken biasa dibandrol Rp 100 ribu. Gelang atau aksesori harganya tergantung dari bahan. Aksesori berbahan taring babi biasanya dijual Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu.

Harga koteka relatif murah, hanya Rp 60 ribu. Harga sebuah ukiran atau patung khas Papua dijual sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 1 juta.

“Kenapa di Abepura tidak ada tempat khusus untuk menjual souvenir khas Papua?,” tanya Agustina, istri Fredy Sapulete.

Ini adalah peluang bagus bagi pengusaha muda asli Papua untuk ambil kesempatan. Kesempatan bukan hanya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau mencari proyek di pemerintah. Masih banyak muatan lokal Papua yang bisa dikembangkan dijadikan souvenir, yang akan mendatangkan finansial tidak kecil. (Roy Ratumakin)

Yogi Bayu Aji – 14 Oktober 2015 23:08 WIB

Metrotvnews.com, Sorong: Pabrik sagu Perhutani dinilai bisa dikembangkan menjadi wisata industri yang bisa memberi pemasukan bagi warganya. Terlebih, belum ada konsep wisata ini dalam bisnis sagu di tempat lain.

“Luar biasa lagi mereka bisa kembangkan pariwisata industri sagu, orang ingin tahu pabrik sagu,” kata Ketua Pokja Papua Judith Dipodiputro kepada Metrotvnews.com, di sela kunjungan ke Pabrik Sagu Perhutani, Sorong Selatan, Papua Barat, Rabu (14/10/2015).

Menurut dia, wisata ini dapat menarik minat pengunjung dari dalam maupun luar negeri. Apa lagi, cukup banyak wisatawan asing yang menghabiskan waktu liburannya di Bumi Cendrawasih.

“Banyak wisatawan Australia datang ke Sorong mau lihat apa? Ya datang ke sana,” jelas dia.

Judith menilai, dengan adanya wisata bisa menumbuhkan perekonomian warga sekitar. Penduduk sekitar bisa membuat warung dan menjual baik makanan maupun produk karya mereka kepada para wisatawan di sepanjangan perjalanan.

“Perjalanan delapan jam bisa ada pit stop, untuk tempat beli minuman, Pungkas dia.
AZF

Dipublikasikan oleh PapuaUntukSemua pada 22.53 WIT.

JAKARTA – Garuda Indonesia menyambut baik rencana Menteri Pariwisata Arief Yahya dan menyatakan siap membuka jalur penerbangan carter ke Papua. “Kami siap dan itu memang memungkinkan, karena juga kami melihat ada potensi yang sangat besar wisman asal China,” ujar VP Corporate Communications Garuda Indonesia Pujobroto kepada Bisnis, baru-baru ini. Menurutnya, Papua dan kawasan Indonesia timur sebenarnya punya potensi wisata yang unik dan disukai turis mancanegara.

Terbukti, penerbangan carter yang disediakan Garuda dari 10 kota di China ke dua destinasi yakni Denpasar dan Manado sangat diminati.

Garuda menyediakan layanan penerbangan carter itu sejak liburan Tahun Baru China lalu menggunakan dua tipe armada, yakni Boeing 747-400 dengan kapasitas sekitar 450 penumpang dan tipe Airbus A-330 dengan kapasitas 330 penumpang. “Sepanjang Februari-Maret saja ada 58 charter fligt dengan perkiraan jumlah wisman sekitar 25.000 orang,” ujarnya.

Jumlah itu masih di luar wisatawan yang memanfaatkan layanan penerbangan reguler yang disediakan Garuda Indonesia ke empat rute, yakni Beijing-Jakarta, Shanghai-Jakarta, Guanzghou-Jakarta, dan Beijing-Denpasar. Berdasarkan data BPS dan Pusdatin Kementerian Pariwisata, dari 749.882 kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia selama April 2015, persentase turis asal China mencapai 11,52 persen.

Jika dihitung pertumbuhannya sebesar 17,86 persen dibandingkan bulan Maret. Tahun ini wisman China ditargetkan sebanyak dua juta orang. [Bisnis]

Sumber artikel : http://www.papua.us/

Sumber: Minggu, 09 November 2014 12:05,, Nabire PapuaPos.com

LONDON – Dengan dukungan penuh dari masyarakat Moni Kampung Ugimba Kabupaten Intan Jaya yang sudah memperjuangkan pariwisata lokal sekian lama melalui Yayasan Somatua, PT. Adventure Carstensz dengan bangga memperkenalkan potensi objek-objek wisata pulau Papua kepada ribuan pelaku profesional industri wisata dari 328 negara di “World Travel Market” yang diadakan di London dari tanggal 3 – 6 November 2014 ini.

Simon Press, Senior Exhibition Director World Travel Market (WTM) dari London mengatakan,”Kami sangat senang menyambut PT Adventure Carstensz dari Papua, Indonesia di WTM 2014 dan yakin bahwa kehadirannya akan terbukti merupakan keputusan yang bijak. WTM menunjukkan konsistensi dan pertumbuhan kuat dalam deal-deal bisnis antar pelaku industri pariwisata dunia dan dengan inovasi tahun ini, kami yakin event tahun 2014 ini akan bergulir sesuai nadi perkembangannya.”

Dari gedung Excel, stand nomor AS600 Kota London via percakapan melalui telepon, Direktur PT Adventure Carstensz, sebuah perusahan operator tur wisata milik putra asli Papua yang merupakan bagian dari Yayasan Somatua, Maximus Tipagau mengutarakan bahwa,”Ini merupakan salah satu wujud nyata dari komitmen kami bagi pengembangan berkelanjutan pariwisata Papua dengan biaya kami sendiri tanpa dukungan dari pemerintah provinsi dan daerah ataupun dana otonomi khusus daerah.” Beliau pun menukaskan,”Saya yakin pariwisata merupakan salah satu sumber pemasukan daerah dan negara yang secara bersamaan meningkatkan taraf hidup ekonomi daerah yang tidak akan habis-habis. Alangkah baiknya jika pemerintah provinsi dan daerah dapat benar-benar melihat inisyatif dan upaya kami ini dan mulai turut serius bergandeng tangan mendukung  secara nyata upaya kami ini.”

“Hutan tropis yang merupakan habitat bagi flora dan fauna endemik liar membentang bak karpet hijau pepohonan mengitari sebagian besar tanah Papua. Merupakan kepulauan yang menaungi jutaan kehidupan maritim yang kaya sementara di dataran tersimpan banyak misteri warisan leluhur lebih dari 256 etnis dan bahasa yang beragam dimana budaya tradisional masih gigih bertahan. Ini semua merupakan surga bagi wisatawan yang dapat ditemukan dan diarungi hanya dalam satu pulau saja, pulau Papua”, ungkap Marketing Communication Support PT Adventure Carstensz Julius Minggus Renyaan.

World Travel Market merupakan event global terkemuka bagi industri pariwisata, merupakan event eksibisi empat hari business-to-business untuk pelaku profesional industri pariwisata seluruh dunia.

Lebih dari 50.000 profesional industri pariwisata, kementerian pemerintahan dan pers internasional berkumpul di gedung Excel – London setiap bulan November untuk mengembangkan jaringan, negosiasi dan mendapatkan opini dan trend industri pariwisata terbaru di WTM. Tahun ini adalah tahun yang ke 35 WTM diselenggarakan adalah event dimana industri pariwisata melakukan dan mendapatkan deal-deal kerjasama penjualan dan pemasaran pariwisata. WTM tahun 2013 lalu membuahkan kontrak-kontrak industri pariwisata senilai lebih dari 2.2 juta Poundsterling menurut lembaga riset independen Fusion Communications.

WTM dimiliki oleh event organizer terkemuka dunia Reed Exhibitions (RE) yang mengatur portfolio dari event-event industri pariwisata termasuk diantaranya Arabian Travel Market dan International Luxury Travel Market.

PT Adventure Carstensz sendiri merupakan perusahaan penyelenggara tur wisata untuk objek-objek wisata di Papua dengan produk utamanya adalah paket perjalanan wisata Carstensz Pyramid. Dimiliki oleh putra Papua kelahiran Bilogai, sebuah kampung dekat Puncak Carstensz. PT Adventure Carstensz merupakan bagian khusus pengembangan pariwisata lokal dari program Yayasan Somatua yang menaungi masyarakat Moni kampung Ugimba yang memiliki misi pengembangan berkelanjutan bagi masyarakat Moni kampung Ugimba yang belum lama ini diresmikan oleh Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Negara Republik Indonesia sebagai destinasi pariwisata “Desa Wisata Ugimba”.

Sejak berdirinya tahun 2008 PT Adventure Carstensz selain telah mendatangkan ratusan turis yang hampir seluruhnya adalah turis manca negara – negara seperti Jerman, Polandia, Perancis, Rusia, Amerika, Cina ke Papua terutama wisata pendakian Puncak Carstensz melalui perjalanan rute Ugimba sambil pula secara aktif mandiri dan bertahap membangun infrastruktur pariwisata baik di regulasi birokrasi dan fisik untuk pariwisata lokal dengan prinsip pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.(MT/JMR)

Posted: 07 Aug 2013 07:24 AM PDT, bisnis.PAPUA.us

SENTANI (JAYAPURA) – Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia mencatat lonjakan pembelian tiket menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun ini hingga 90 persen.

General Manajer Garuda Indonesia wilayah Papua, Supriyono mengatakan, lonjakan jumlah penumpang ini terjadi sejak H-10 sebelum Lebaran. Kata dia, mereka mudik ke Surabaya, Makassar, Yogyakarta dan Jakarta.

“Sampai saat ini penumpang cukup bagus dari Jayapura. sampai akhir saya perkirakan diatas 85% lah. Untuk Jayapura itu tidak ada penambahan extra flight yak karena memang rutenya kan sangat panjang, jadi agak riskan juga dan Jayapura kan bukan termasuk untuk jalur mudik banyak ya,”

jelasnya.

General Manajer Garuda Indonesia wilayah Papua, Supriyono menambahkan, pada Lebaran tahun ini tidak terjadi lonjakan harga tiket penerbangan.

Kata dia, harga tiket penerbangan Garuda masih stabil di kisaran Rp 2,5 juta hingga Rp 5 juta.[PortalKBR]
dari www.papua.us

Skip to toolbar